Anak gajah ditemukan jadi bangkai

id Aceh,BKSDA,anak gajah,pemerintah aceh,provinsi aceh,pemprov aceh

Anak gajah ditemukan jadi bangkai

Personel TNI/Polri mengamati lokasi temuan bangkai anak gajah di kawasan hutan produksi Dusun Kerung Baung, Gampong Peunaroen Lama, Kecamatan Peunaroen, Aceh Timur, Sabtu (4/4/2020). ANTARA/HO-BKSDA Aceh

Banda Aceh (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menyatakan seekor anak gajah (elephas maximus sumatranus) ditemukan menjadi bangkai di kawasan Peunaroen, Kabupaten Aceh Timur.

"Penemuan bangkai anak gajah tersebut berdasar laporan masyarakat. Bangkai anak gajah tersebut ditemukan di kawasan hutan produksi," kata Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto di Banda Aceh, Senin.

Agus Arianto menyebutkan hutan produksi yang menjadi tempat penemuan bangkai anak gajah tersebut berada sekitar Dusun Kerung Baung, Gampong Peunaroen Lama, Kecamatan Peunaroen, Aceh Timur.

Kepala BKSDA Aceh itu mengatakan kondisi bangkai anak gajah tersebut sudah membusuk. Anak gajah tersebut diperkirakan berumur satu tahun enam bulan. Anak gajah tersebut diperkirakan mati sekitar sebulan lalu.

Agus Arianto menambahkan tidak ditemukan benda atau tanda mencurigakan di sekitar penemuan bangkai yang menyebabkan kematian anak gajah tersebut. Namun, penyebab kematian anak gajah tersebut belum bisa dipastikan.

"Kami terus berkoordinasi dengan kepolisian terkait proses penanganan kematian anak gajah tersebut," kata Agus Arianto menyebutkan.

Agus Arianto menegaskan gajah sumatra merupakan satwa liar yang dilindungi. Berdasarkan data organisasi konservasi alam dunia, IUCN, gajah sumatra hanya ditemukan di Pulau Sumatra. Satwa tersebut masuk spesies terancam kritis dan berisiko tinggi untuk punah di alam liar.

Oleh karena itu, BKSDA Aceh mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam khususnya satwa liar gajah sumatra dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitatnya.

"Kerusakan habitat gajah dapat menimbulkan konflik dengan manusia. Konflik ini bisa menimbulkan kerugian ekonomi dan korban jiwa bagi manusia maupun keberlangsungan hidup satwa dilindungi tersebut," kata Agus Arianto.
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar