BMKG ingatkan kewaspadaan karhutla hingga akhir September

id BMKG, karhutla, Agus Susanto, musim penghujan, zona merah

Petugas Manggla Agni Daops Banyuasin melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Desa Sungai Rambutan, Indralaya Utara, Ogan Ilir (OI). (ANTARA Sumsel/Nova Wahyudi/dol/17) ()

Palembang (ANTARA Sumsel) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika mengingatkan Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera Selatan untuk meningkatkan kewaspadaan pada ancaman kebakaran hutan dan laha hingga akhir September.

Kepala Seksi Informasi BMKG Sultan Mahmud Badaruddin II Agus Susanto di Palembang, Jumat, peringatan ini berkaitan perkiraan bahwa musim penghujan baru akan tiba di awal Oktober untuk beberapa kabupaten. Sementara secara keseluruhan akan terjadi di Sumsel diperkirakan pada pertengahan Oktober.

"Sepuluh hari terakhir ini harus benar-benar waspada, karena beberapa lokasi bisa tidak ada hujan lebih dari dua hari. Jika pun hujan maka intensitasnya sangat rendah sekali yakni kurang dari 50 mm," kata Agus.

Berdasarkan kondisi ini sebagian besar kabupaten di Sumsel masih rawan mengalami kejadian karhutla (zona merah), apalagi dalam dua hari terakhir awan demikian cerah yang menunjukkan bawah lapisan awan berisi air hujan masih sangat sedikit.

BMKG memperkirakan musim hujan akan diawali Sumatera Selatan sebelah barat yakni Musi Rawas Utara dan Banyuasin. Kemudian secara keseluruhan akan terjadi di November denganintensitas di atas 50 mm.

Sementara itu, berdasarkan perkiraan BMKG ini membuat Badan Penanggulangan Bencana Nasional Provinsi Sumatera Selatan menambah jadwal patroli. Jika sebelumnya hanya dua kali, kali ini ditambah sehingga menjadi empat kali yakni pagi, siang, sore dan malam.

Kepala BPBD Sumsel Iriansyah mengatakan patroli di malam hari ini sangat dibutuhkan karena beberapa kasus didapati ada warga yang sengaja membakar hutan di sore hari untuk mengelabui petugas.

"Tim Satgas Karhutla membutuhkan data akurat di lapangan sehingga harus dicros cek dengan patroli. Terkadang data dari Satelit LAPAN tekait titik api (hotspot) tidak bersesuaian dengan kenyataan di lapangan," kata Iriansyah.

Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di Sumatera Selatan dipicu oleh puncak musim kemarau pada 11-18 September 2017 di Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten Muaraenim.

Kali ini, kebakaran tidak hanya di lahan gambut tapi telah merembet ke tanah mineral di Muara Belida, Muaraenim, yang diperkirakan telah menhanguskan lahan seluas 150 hektare.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan sejak Februari 2017.

Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar