Rabu, 18 Oktober 2017

Peta gambut ditarget selesai 2017

id peta gambut, gambut
Peta gambut ditarget selesai 2017
Ilustrasi---Sekat kanal di lahan gambut. (Antarasumsel.com/ist/17)
Palembang (Antarasumsel.com) - Badan Restorasi Gambut (BRG) menargetkan pada tahun ini merampungkan peta gambut yang memiliki akurasi lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead di Palembang, Kamis mengatakan, selama ini BRG dan berbagai institusi terkait kerap dihadapkan kurang detailnya data lapangan dalam bentuk peta sehingga pada 2017 ini diharuskan menghasilkan peta yang lebih akurat dengan skala setidaknya 1:50.000 hingga 1:2.000.

"Sebelumnya sudah ada peta gambut, tapi skalanya masih sangat besar 1:250.000. Jadi hanya bisa dijadikan acuan untuk membuat kebijakan nasional saja, sementara untuk kerja di lapangan masih sulit," kata Nazir, seusai acara pelatihan pengukuran muka air gambut di Palembang.

Untuk itu, BRG dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah berbagi tugas untuk membuat peta gambut ini.

Pendataan dilakukan melalui foto udara agar tingkat keakuratan bisa lebih baik dibandingkan sebelumnya. Beberapa pesawat pemantau telah diterbangkan di beberapa provinsi yang menjadi skala prioritas, salah satunya di Sumatera Selatan.

"Targetnya pada pertengahan tahun peta ini sudah selesai sehingga dapat dijadikan acuan para pengambil kebijakan mengenai langkah-langkah yang tepat dalam pemanfaatan lahan serta upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan," kata dia.

Terkait peta ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga membentuk tim terdiri dari berbagai instansi terkait menyelesaikan peta lahan gambut dengan skala 1:10.000 terkait dengan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Koordinator Tim Ahli Badan Restorasi Gambut Provinsi Sumatera Selatan Prof Robiyanto Hendro Susanto mengatakan peta ini menjadi kebutuhan mendesak karena akan dijadikan acuan dalam bertindak di lapangan, mulai dari pemulihan lingkungan hingga penegakan hukum.

"Sumsel bukannya tidak memiliki peta lahan gambut, sudah ada tapi skalanya besar sekali 1:500.000, masih sangat kasar sekali," kata dia.

Bukan hanya mengenai data yang belum detail dan akurat, BRG sebagai lembaga baru setara kementerian yang berada di bawah langsung Presiden ini masih dihadapkan berbagai persoalan untuk memulihkan lahan gambut.

Nazir mengatakan, BRG masih membutuhkan penguatan lembaga, dan koordinasi dengan banyak pihak mulai dari tingkat pemerintah pusat hingga kabupaten/kota.

"BRG dibebani tugas berat yakni merestorasi 2,5 juta hektare lahan gambut hingga 2020, sementara pada 2017 ditargetkan 400.000 hektare. Jika tanpa bantuan pihak lain, maka sulit untuk mencapai target ini," kata dia.

Editor: Dolly Rosana

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga