Warga Muara Enim pertahankan budaya gotong royong

Warga Desa Plakat Semendo Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, makan bersama setelah mempersiapkan masakan untuk perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW (Foto Antarasumsel.com/13/Feny Selly/I016))

....Gotong royong merupakan kebiasaan kami lakukan sejak turun temurun di desa ini....
Berita Terkait
Muara Enim (Antara Sumsel) - Warga Desa Plakat, Kecamatan Semendo Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan tetap kukuh mempertahankan budaya gotong royong yang kini kian langka, misalnya menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW mereka secara gotong royong mempersiapkan segala sesuatunya.

"Gotong royong merupakan kebiasaan kami lakukan sejak turun temurun di desa ini," kata salah seorang kepala dusun di desa tersebut, Risman, Senin (4/2).

Menurut dia, sebagai desa yang agamis dengan seluruh warga beragama Islam, Desa Plakat sangat menghargai hari besar keagamaan baik maulid maupun Isra Miraj pasti dirayakan mereka.

Perayaan Maulud Nabi di desa itu memang tak jauh berbeda dengan daerah lain, tapi mereka melakukan barsanji, mendengar ceramah, dan menggelar anekah perlombaan bernuansa islami bagi anak-anak.

Hal yang menarik dari perayaan itu adalah bahu membahunya para wanita mempersiapkan makanan yang akan dimakan beramai-ramai oleh seluruh warga desa.

Mulai dari pagi atau sehari sebelum perayaan masyarakat terutama para wanita dari penjuru desa datang mengumpulkan perlatan dan bahan memasak. Ada yang membawa kayu bakar, sayur mayur, daging ayam, bumbu dapur, bahkan ada yang membawa panci besar untuk memasak.

Dari patungan itu berhasil dihimpun sebanyak 50 Kg beras dan puluhan kilo aneka sayur mayur.

"Kami akan masak nasi lauk pauk sore ini," tukas Nurdiyah salah satu warga yang turut bergotong royong menyiapkan masakan untuk perayaan maulid.

Pada sore bada ashar para wanita tersebut kembali berkumpul di masjid desa dan mulai mengambil bagian untuk memasak. Sebagian dari mereka menanak nasi sementara yang lainnya memotong sayuran, ada pula yang menggiling bumbu, dan memotong-motong ayam.

Sekitar satu jam, pekerjaan pun sudah mencapai separuh yang diselesaikan. Para wanita itu lalu beristirahat dan mulai mengeluarkan talam (semacam nampan) untuk makan.

Dari beberapa talam yang ada, kemudian beberapa wanita mulai mengisinya dengan sebagian nasi yang mereka tanak dan lauk pauk yang rupanya sudah disisihkan.

"Kami ambil leher, kaki, dan kepala ayam untuk dimakan ramai-ramai," jelas Nurdiyah. Rupanya para wanita ini sengaja menyisihkan bagian ayam sisa dan kuah sayur untuk dapat dinikmati beramai di sela pekerjaan mereka.

"Satu talam biasanya disantap oleh empat sampai lima orang," tuturnya. Tiap talam itu diisi dengan nasi potongan sisa ayam, sisa kuah masakkan, dan sambal yang ada.

Ketika talam terisi, para wanita yang sebagian ibu rumah tangga ini memanggil anak-anak mereka yang bermain di luar masjid untuk ambil bagian menikmati hidangan.

Spontan sebagian anak-anak masuk ke teras masjid dan menyerbu talam yang ada. Para wanita pun memilih talamnya masing-masing untuk disantap. Mereka nampak sangat menikmati hidangan sederhana tersebut sembari bercanda ria.

Habis isi talam, maka waktunya mereka kembali menyelesaikan masakan. Semua kembali di pos pekerjaannya masing- masing menyiapkan hidangan untuk perayaan maulud nabi yang diselenggarakan keesokan harinya.

Begitulah gotong royong yang tergambar di tengah-tengah masyarakat desa tersebut. Mereka bertahan dan bangga dengan tradisi yang melekat kuat dalam kehidupan mereka itu. (FN)

Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasumsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar