Mayjen TNI Suharyanto sosok "panglima" baru di medan bencana

id kepala bnpb,mayjen tni suharyanto,kepala BNPB,baru

Mayjen TNI Suharyanto sosok "panglima" baru di medan bencana

Presiden Joko Widodo melantik Suharyanto sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (17/11/2021). ANTARA/HO-Biro Pers Setpres/Muchlis Jr/am.

Ini musim bencana, sehingga kami harus bekerja
Jakarta (ANTARA) - Mayor Jendral (Mayjen) TNI Suharyanto pada Rabu (17/11) dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Badan Nasional Penganggulangan Bencana (BNPB) yang baru di Istana Negara, Jakarta.

  Pria kelahiran Cimahi, Jawa Barat, pada 8 September 1967 itu akan menjadi "panglima" baru di medan bencana di Indonesia, menggantikan Letjen TNI Ganip Warsito yang akan memasuki masa purnabakti.

Setelah mengikuti prosesi pelantikan, mantan Pangdam V/Brawijaya tersebut memastikan BNPB di bawah komandonya akan bergerak cepat dan segera turun saat terjadi bencana.

"Pada saat terjadi bencana, BNPB akan hadir dalam waktu yang sesingkat-singkatnya untuk membantu agar masyarakat yang terdampak bencana ini segera mendapat pertolongan dan segera mendapat hak-hak hidup yang mendasar," kata lulusan Akademi Militer tahun 1989 itu.

Dalam pernyataannya, dia memahami bahwa Indonesia sebagai "supermaket bencana" menghadapi berbagai peristiwa. Mulai dari bencana hidrometeorologi, geologi, vulkanologi, hingga bencana non-alam yakni wabah COVID-19.

Sadar Indonesia tak bisa melepaskan diri dari bencana, penanggulangan bencana menjadi tanggung jawabnya kini. Suharyanto memastikan kehadiran personel BNPB di setiap kejadian bencana yang seringkali terjadi di Indonesia seperti gempa maupun banjir.

Tahap penanggulangan bencana, kata Suharyanto, di bawah arahannya dimulai dari meningkatkan kesadaran, edukasi, mitigasi, serta tanggap darurat agar dapat memastikan masyarakat tidak terlalu lama menanggung dampak.

Suharyanto juga mendapatkan arahan dari Presiden Joko Widodo agar BNPB dapat bekerja maksimal, mengingat telah memasuki musim hujan ditambah dengan adanya fenomena La Nina yang meningkatkan curah hujan dan memicu potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, longsor dan angin kencang.

"Ini musim bencana, sehingga kami harus bekerja," ujar dia.

Kemiripan

Banyak pihak yang mengharapkan Suharyanto memimpin langsung penanganan bencana yang beruntun akhir-akhir ini. Suharyanto dinilai memiliki kapasitas memadai, dan modal yang melekat kuat selama meniti karir.

 

“Mayjen Suharyanto memiliki kapasitas yang memadai. Satu modal yang sudah melekat selama meniti kariernya sebagai prajurit adalah kesadaran bahwa setiap amanat dan penugasan, selalu dibarengi tekanan dan kesulitan. Saya mengartikannya sebagai sikap yang siap menghadapi segala tantangan,” kata Ketua Yayasan Kita Jaga Alam Egy Massadiah.

Egy yang pernah menjabat sebagai Tenaga Ahli/Staf Khusus Kepala BNPB 2019-2021, semasa kepemimpinan Letjen TNI (Purn) Dr (HC) Doni Monardo, melihat ada kemiripan dari kedua sosok pemimpin itu. Keduanya juga sama-sama pernah menjadi sosok penting dalam tugas pengamanan presiden

 

Dia menganggap Suharyanto merupakan sosok prajurit pilihan, yang mana pernah mendapatkan penugasan di Ring-1 Presiden Republik Indonesia.

 

Doni Monardo pernah mendapat penugasan di satuan Pasukan Pengaman Presiden, dengan posisi penugasan yang terakhir sebagai Komandan Paspampres 2012-2014. Suharyanto juga pernah menempati pos di Sekretariat Militer Presiden, dengan tugas terakhir sebagai Sekretaris Militer Presiden 2019-2020.

Keduanya bersinggungan secara intensif sebagai prajurit yang berada di lingkungan Istana. Terlebih, saat Doni menjabat Kepala BNPB, Suharyanto menjabat Sesmilpres. Itu artinya, dalam interaksi antara Doni dan Presiden, ada sosok Suharyanto di antara mereka.

Catatan lain dari sosok Suharyanto di mata Egy adalah kepeduliannya yang sangat tinggi terhadap prajurit atau pasukannya.

 

Hal itu dibuktikan Suharyono selama sembilan tahun di medan operasi Kalimantan. Di sana, ia terlibat operasi Paraku (Pasukan Rakyat Kalimantan Utara). Selain itu, ia juga mengenyam pengalaman operasi di bumi lorosae (Timtim).

 

Yang terakhir, sebagai Pangdam Brawijaya, awal Oktober 2021 ia secara khusus terbang ke Papua untuk memberi dukungan langsung kepada prajurit Kodam V/Brawijaya yang tengah bertugas sebagai Pamtas RI-PNG (Pengamanan Perbatasan RI – Papua Nugini).

“Sikap kepemimpinan jenderal Suharyanto itu adalah modal besar saat mulai hari ini ia menjadi panglima penanggulangan bencana,” ujar Egy.

 

Bahkan kedekatan Doni Monardo dan Suharyanto tampak saat menunggu mekanik memperbaiki pesawat carter dari Malang ke Yogyakarta, untuk selanjutnya menuju Cilacap. Mereka, menurut Egy, terlibat dalam obrolan yang intensif sambil menikmati bakso Malang di tengah hujan rintik.

Egy mengharapkan Suharyanto menjadi sosok pemimpin sinergi penanggulangan bencana, termasuk melakukan mitigasi, perubahan perilaku agar setiap orang menjaga ala, agar alam tidak rusak yang bisa mengakibatkan bencana.

Tangguh

Ketangguhan Suharyanto terhadap bencana terbukti dalam penanganan COVID-19 di Jawa Timur. Di bawah kepemimpinannya, Kodam V/Brawijaya berinisiatif mengambil kebijakan PPKM darurat meksi instruksi Menteri Dalam Negeri secara resmi belum keluar.

 

Pihaknya menggelar apel gelar pasukan yang digelar serentak di Surabaya Raya, Malang Raya, Madiun Raya, Tapal Kuda dan di Mojokerto.

Semua personel dipetakan di seluruh wilayah Kabupaten/Kota di Jawa Timur untuk melakukan tracing dan memberi contoh protokol kesehatan.

Total pasukan berbeda-beda disesuaikan dengan tingkat ancaman penyebaran COVID-19.


Dalam komandonya, Mayjen Suharyanto juga melakukan percepatan vaksinasi dosis kedua dengan sasaran 20 ribu orang sehari, sebagai updaya pencegahan COVID-19 di wilayah Surabaya raya dan sekitarnya.

Upaya tersebut menjawab kekhawatiran masyarakat, khususnya warga Surabaya yang menanyakan pembagian dosis kedua. Pelaksanaan vaksinasi dosis kedua tersebut disebar di tiga titik di kompleks Kodam, yakni di Lapangan Kodam V/Brawijaya dengan target 10 ribu dosis, Balai Prajurit 2.500 dosis, dan Stadion Brawijaya 7.500 dosis.

Ia juga meyakinkan masyarakat yang belum vaksin dapat melakukan vaksinasi pertamanya.

Bahkan Mayjen Suharyanto juga memastikan semua prajuritnya sebagai petugas tracer bisa menerapkan aplikasi Silacak (sistem informasi pelacakan) dengan optimal gunama menemukan dan menekan penyebaran COVID-19, saat berkunjung ke Kabupaten Nganjuk.

Dia menekankan agar semua pihak sebagai tim bisa mengaplikasikannya dengan baik aplikasi itu. Dengan itu, diharapkan testing, tracing dan treatment COVID-19 bisa dilakukan dengan optimal.

"Semua harus bisa," katanya menegaskan.

Dengan ketangguhannya tersebut, besar harapan Mayjen Suharyanto dapat segera memberi komando dan arahan guna percepatan penanggulangan bencana hidrometeorologi dan bencana non-alam yang menelan korban jiwa akhir-akhir ini. Selain itu, untuk mempertegas arahan mitigasi bencana di setiap daerah untuk ketahanan masyarakat dalam menghadapinya.

Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2021