Dolar AS bertahan kuat karena kekhawatiran pertumbuhan menguntit pasar

id indeks dolar,kurs dolar,euro,perlambatan ekonomi,resesi global,pasar asia,berita sumsel, berita palembang, antara palembang

Dolar AS bertahan kuat karena kekhawatiran pertumbuhan menguntit pasar

Ilustrasi - Uang dolar Amerika dan euro. ANTARA/REUTERS/aa.

Singapura (ANTARA) - Dolar mempertahankan kekuatannya terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya di sesi Asia pada perdagangan Senin pagi, dan euro berada di bawah tekanan karena investor mencari mata uang aman di tengah kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan global.

Data pada Jumat (1/7/2022) menunjukkan inflasi zona euro melonjak ke rekor lain, menambah kasus bagi Bank Sentral Eropa (ECB) untuk menaikkan suku bunga acuannya bulan ini.

Baca juga: Kurs Rupiah Senin pagi melemah 2 poin

Sementara mata uang bersama stabil di 1,0435 dolar AS pada Senin pagi, sedikit di atas palung lima tahun Mei di 1,0349 dolar serta menyoroti preferensi pasar untuk dolar karena kesuraman menutupi prospek.

Dolar Australia dan Selandia Baru mencapai posisi terendah dua tahun pada Jumat (1/7/2022) dan tidak jauh dari level tersebut di awal sesi Asia, dengan Aussie turun 0,3 persen menjadi 0,6796 dolar AS, setelah jatuh ke level 0,6764 dolar AS pada akhir pekan lalu. Kiwi tergelincir 0,1 persen menjadi 0,6197 dolar AS.

Perdagangan kemungkinan akan ringan menjelang liburan Hari Kemerdekaan di Amerika Serikat.

Aliran mencari keamanan cenderung mendukung greenback, terutama dengan mengorbankan perdagangan dan mata uang yang didorong ekspor, ketika ekonomi dunia lemah. Ini telah membuat dolar tetap tinggi bahkan ketika kekhawatiran pertumbuhan telah meredam ekspektasi kenaikan suku bunga AS.

Baca juga: Dolar menuju minggu terbaik

Indeks dolar AS berdiri di 105,100, tidak jauh di bawah tertinggi dua dekade bulan lalu di 105,790. Perkiraan PDB Federal Reserve (Fed) Atlanta yang banyak diawasi telah turun ke -2,1 persen secara tahunan untuk kuartal kedua, menyiratkan negara itu sudah dalam resesi teknis.

"Aussie dan mata uang komoditas lainnya dan bahkan euro dan sterling kemungkinan akan turun lebih dalam minggu ini, mengingat pasar saat ini sangat fokus pada risiko perlambatan tajam dalam ekonomi global," kata Ahli Strategi Mata Uang The Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, di Sydney.

Sterling mencapai level terendah dua minggu di 1,1976 dolar pada Jumat (1/7/2022) dan terakhir dibeli 1,2095 dolar.

Menjelang minggu ini, bank sentral Australia bertemu pada Selasa (5/7/2022) dan investor juga menunggu publikasi risalah dari pertemuan The Fed bulan lalu pada Rabu (6/7/2022) dan data ketenagakerjaan AS pada Jumat (8/7/2022).

Pasar telah memperkirakan kenaikan 40 basis poin (bp) di Australia, sehingga Aussie mungkin tidak mendapatkan banyak dorongan jika itu tercapai.

Risalah pertemuan kebijakan The Fed Juni pada Rabu (6/7/2022) hampir pasti terdengar hawkish mengingat komite memilih untuk menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin.

Pasar memperkirakan peluang sekitar 85 persen untuk kenaikan 75 basis poin bulan ini dan suku bunga pada 3,25-3,5 persen pada akhir tahun - sebelum pemotongan pada 2023.

Terhadap mata uang Asia, dolar mempertahankan kenaikan Jumat (1/7/2022) yang mengangkatnya ke level terkuat dalam beberapa tahun terhadap baht Thailand, rupiah Indonesia, dan dolar Singapura.

Yuan China memulai sesi di pasar domestik dengan stabil di 6,7021 per dolar AS.
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2022