Olimpiade Tokyo uji coba loncat indah dan voli di bawah pengawasan ketat

id Olimpiade,Olimpiade Tokyo,uji coba loncat indah,uji coba voli

Olimpiade Tokyo uji coba loncat indah dan voli di bawah pengawasan ketat

Timnas dayung dan kayak Indonesia saat menjalani sesi latihan pada ajang Kualifikasi Olimpiade Tokyo di Pattaya, Thailand. (dokumentasi PB PODSI)

Jakarta (ANTARA) - Loncat indah dan voli menjadi acara uji coba pertama yang digelar pada Olimpiade Tokyo, Sabtu, dengan melibatkan atlet internasional di bawah pengawasan ketat.

Piala dunia loncat indah, yang juga merupakan kualifikasi untuk Olimpiade musim panas, menampilkan lebih dari 200 atlet dari 50 negara, termasuk China.

"Kami tidak diizinkan keluar dari kamar kami, di mana Anda harus tinggal... -- tidak ada udara luar, tidak ada interaksi manusia," kata peloncat indah perempuan AS, Sarah Bacon, dikutip dari Reuters, Sabtu.

"Tapi kami telah membuatnya berhasil."

Dengan sekitar 15.000 atlet Olimpiade dan Paralimpiade yang diharapkan untuk berkompetisi, penyelenggara bergulat dengan bagaimana mengadakan Olimpiade dengan aman selama pandemi COVID-19.

Pihak berwenang Jepang bertekad untuk melindungi tidak hanya peserta Olimpiade, tetapi juga penduduk lokal yang menurut survei sebagian besar bependapat menentang Olimpiade karena virus corona.

Jepang sedang berjuang melawan gelombang keempat virus corona, dan pemerintah telah mengumumkan keadaan darurat di Tokyo dan sejumlah daerah lainnya.

Saat pemanasan sebelum acara penyisihan putra, para atlet loncat indah diperingatkan karena berkumpul terlalu dekat, sehingga melanggar peraturan jarak sosial, di papan loncatan setinggi 3 meter.

Acara tersebut juga diselingi oleh gempa bumi yang mengguncang Tokyo Aquatics Center, pengingat bahwa Olimpiade sedang berlangsung di salah satu wilayah di dunia yang paling aktif secara tektonik.

Para atlet loncat indah mengungkapkan rasa terima kasih atas kesempatan untuk bertanding namun juga mengungkapkan rasa frustasi karena tindakan pencegahan penularan virus corona membuat mereka tidak berkesempatan untuk menjelajahi kota atau mendapatkan udara segar.

Perketat protokol kesehatan

Peserta menjalani tes COVID-19 setiap pagi dan harus memperbarui informasi kesehatan pada aplikasi smartphone. Selain itu, mereka ditempatkan dalam "gelembung," membatasi pergerakan antara hotel dan tempat.

"Akan sangat menyenangkan jika mereka bisa menyewa bus untuk tim melakukan tamasya di sekitar kota," kata Patrick Hausding, peraih medali perak dan perunggu untuk Jerman dalam dua Olimpiade sebelumnya.

"Berada di Tokyo dan tidak bisa melihat apa pun sungguh memalukan."

Acara uji coba loncat indah, yang semula dijadwalkan pada April, terancam dibatalkan di tengah laporan Federasi Renang Internasional (FINA) yang tidak puas dengan tindakan pencegahan COVID-19.

FINA dan penyelenggara Olimpiade Tokyo setuju untuk menjadwalkan ulang acara pada 1-6 Mei, namun badan renang global tersebut membatalkan kualifikasi renang artistik yang dijadwalkan akan diadakan di Tokyo, dan memindahkan kualifikasi renang maraton dari Fukuoka di Jepang selatan ke Portugal.

Australia memutuskan untuk mundur dari loncat indah karena kekhawatiran tentang meningkatnya kasus COVID-19 di Jepang.

Sementara itu, acara uji coba voli yang digelar di Ariake Arena melibatkan pertandingan persahabatan antara tim putra Jepang dan China yang diikuti oleh tim putri.

Kapten tim pria China, Guo Cheng, mengatakan menghargai kesempatan untuk bertanding dan penyelenggara telah melakukan pekerjaan yang baik untuk mewujudkannya.

"Setelah kami tiba di Jepang, makanan dan akomodasi kami diurus dengan baik dan saya benar-benar merasa aman bermain dalam pertandingan itu," kata Guo Cheng, setelah timnya kalah lima set dari Jepang.

Olimpiade Tokyo, yang tertunda satu tahun karena pandemi, dijadwalkan dibuka pada 23 Juli.
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar