BKSDA Sumsel catat 23 kali manusia berkonflik dengan harimau

id Konflik satwa di sumsel, satwa sumsel, harimau Lahat, beruang oku, gajah Sumatera, sm sugihan, buaya, bksda sumsel, genm

BKSDA Sumsel catat 23 kali manusia berkonflik dengan harimau

Kepala BKSDA Sumsel, Genman Suhefti Hasibuan. (ANTARA/Aziz Munajar/20)

Palembang (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan mencatat frekuensi konflik Harimau Sumatera dan manusia terjadi sebanyak 23 kali selama 2019 dan termasuk paling tinggi di antara satwa lainnya.

Kepala BKSDA Sumsel, Genman Suhefti Hasibuan di Palembang, Kamis, mengatakan konflik tersebut juga mengakibatkan lima orang di tiga wilayah meninggal dunia pada rentang November - Desember 2019.

"Frekuensi konflik antara manusia dan harimau ini agak tidak biasa, sebab pada 2017 dan 2018 tidak ada laporan konflik, tetapi pada 2019 naik drastis," ujar Genman .

Menurutnya secara umum ada empat spesies besar yang paling banyak berkonflik dengan manusia di wilayah kerja BKSDA Sumsel yang juga mencakupi Provinsi Bangka Belitung, yakni harimau, beruang, gajah dan buaya.

Total frekuensi konflik keempatnya selama 2017 - 2019 tercatat 83 kali, kata dia, frekuensi tertinggi diduduki buaya yakni 2 kali berkonflik pada 2017, lalu 14 kali pada 2018 dan 21 kali pada 2019, sehingga total ada 37 kali konflik yang sebagian besar terjadi di Bangka Belitung dan sebagian kecil di Sumatera Selatan.

Paling tinggi kedua barulah harimau yang tercatat 23 kali berkonflik di Kabupaten Lahat, Muara Enim, Ogan Komering Ulu (OKU), Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin Empat Lawang dan Kota Pagaralam dengan catatan bahwa pada 2017 serta 2018 frekuensi konflik tidak ada.

Kemudian konflik dengan beruang tercatat 0 kali pada 2017, 1 kali pada 2018 dan 9 kali pada 2019, sehingga total ada 10 kali konflik yang umumnya terjadi di sekitar Bukit Barisan.

"Sementara untuk Gajah Sumatera tercatat 4 kali pada 2017, 3 kali pada 2018 dan 6 kali pada 2019, jadi totalnya 13 kali, umumnya terjadi di OKU Selatan, OKI dan Banyuasin," tambah Genman.

Konflik satwa dan manusia tersebut disebabkan degradasi kawasan hutan yang mengganggu habitat keempatnya seperti berkurangnya luas teritori hingga menipisnya sumber makanan akibat perburuan liar di dalam hutan lindung.

"Berkali-kali kami imbau kepada masyarakat agar tetap menjaga keutuhan habitat satwa terutama di dalam hutan lindung, jangan lagi ada perambahan dan perburuan," demikian Genman .

 
Pewarta :
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar