Harga sembako rata-rata naik di Musi Rawas Utara

id sembako,kebutuhan pokok,harga sembako naik,pasar,disperindag,sembako muratara,pasar tradisional,pedagang sembako

Dokumen - Pedagang cabai di pasar tradisional (ANTARA/Yudhi Mahatma/Ag/16)

....Hukum pasarnya memang seperti itu, kalau permintaan konsumen meningkat, di situlah permainan harga dilakukan oleh para pedagang, jadi ini hal yang wajar....
Muratara, Sumsel (ANTARA) - Menjelang hari raya Idul Fitri 2019/1440 Hijriah, harga kebutuhan sembilan bahan pokok di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, rata-rata mengalami kenaikan.

Berdasarkan pantauan Antara, Senin, sejumlah harga sembila bahan pokok (Sembako) yang mengalami kenaikan harga tersebut seperti cabai merah dan cabai rawit, bawang merah dan bawang putih, ayam potong dan telur ayam.

Harga cabai merah dan cabai rawit naik dari biasanya Rp25.000/Kg menjadi Rp40.000/Kg, bawang merahdan bawang putih harga normalnya Rp20.000 - Rp25.000/Kg sekarang masih di harga Rp35.000/Kg, telur ayam naik dari biasanya Rp38.000/Karpet menjadi Rp42.000/Karpet, serta ayam potong juga naik dari biasanya Rp38.000/Kg menjadi Rp40.000/Kg.

"Bahan-bahan ini mulai naik sejak awal Ramadhan, kemudian sempat turun, harganya stabil, sekarang dekat Lebaran naik lagi," kata salah seorang pedagang bahan pokok, Maryati di kawasan pasar Lawang Agung, Musi Rawas Utara.

Menurut pedagang bahan pokok lainnya, Suhaimi di kawasan pasar Beringin Makmur II, Musi Rawas Utara, menyebutkan khusus harga bawang putih sejak mengalami kenaikan hingga Rp100.000/Kg kini sudah turun namun masih di atas harga normal yakni Rp35.000/Kg.

"Bawang putih itu harga normalnya Rp20.000 - Rp25.000/Kg, bulan lalu memang sempat naik tinggi sampai Rp100.000, terus turun jadi Rp50.000/Kg, dan sekarang masih Rp35.000/Kg," katanya.

Sementara Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Musi Rawas Utara Syamsu Anwar dihubungi melalui telepon mengatakan secara umum kenaikan harga bahan pokok di daerah itu tidak terlalu signifikan.

Menurut dia, faktor penyebab kenaikkan bahan pokok itu  dipicu psikologi masyarakat yang kerap berbelanja dalam jumlah banyak pada momen tertentu seperti bulan Ramadhan dan hari raya Lebaran.

"Hukum pasarnya memang seperti itu, kalau permintaan konsumen meningkat, di situlah permainan harga dilakukan oleh para pedagang, jadi ini hal yang wajar, biasanya tidak berlangsung lama," katanya.

Syamsu Anwar berharap masyarakat tidak panik karena fenomena seperti ini terjadi setiap tahun dan pihaknya akan terus memantau perkembangan di lapangan serta menjalin komunikasi dengan berbagai stakeholder dan pedagang.





 
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar