Kapolri musnahkan 1.400 senjata api rakitan

id kapolri, pemusnahan senjata api, kapolri musnahkan senjata api rakitan

Kapolri pimpin upacara pemusnahan senjata api rakitan di Mapolda Sumsel Palembang, Senin. (Foto: antarasumsel.com/Banu S)

Palembang (Antarasumsel.com) - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian memimpin pemusnahan 1.400 pucuk senjata api rakitan di halaman Mapolda Sumatera Selatan di Palembang, Senin.

"Senjata api rakitan yang dimusnahkan itu hasil  penyerahan secara sukarela dari masyarakat dan tangkapan ada 1.400 pucuk dinilai sangat luar biasa," kata Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

Namun, kata dia, disisi lain polri perlu belajar, jika peristiwa terjadi berulang pasti ada akar masalah yang harus diselesaikan secara maksimal .

"Kita boleh bangga apresiasi, tapi akar permasalahannya belum dituntaskan secara maksimal" kata Kapolri Tito Karnavian.

Menurut Jenderal Polisi berbintang empat itu, dulu kecepek atau senjata api rakitan laras panjang dimiliki adalah tradisi dari masyarakat, karena dulu banyak hutan untuk berburu binatang seperti babi dan rusa, dan sekedar jaga-jaga untuk membela diri.
"Semakin kuatnya institusi masyarakat dan lain-lain, maka peran untuk membela dan melindungi masyarakat seharusnya diambil oleh negara, sehingga masyarakat tidak perlu membela diri sendiri. Yang tadinya niat untuk membela diri, malah jadi tindak kejahatan nantinya,"ujar Kapolri.

Ia menyatakan mengapresiasi jajaran dalam upaya tindakan yang dilakukan khususnya jajaran Polda Sumsel.

Ia mengingatkan, akar permasalahan pembuatan senjata api rakitan di Kabupaten Ogan Ilir (OI), Ogan Komering Ilir (OKI), Musirawas dan Empat Lawang bagian wilayah Sumatera Selatan belum menemukan titik terang untuk pemberantasan pembuatan senjata api rakitan.

Tito mengakui, masyarakat Sumsel memang dulunya terkenal dengan tradisi membawa senjata tajam dan senjata  api rakitan laras panjang atau yang sering disebut kecepek.

Ia menambahkan, masyarakat, tidak perlu membuat senjata seperti ini dengan sosialisasi, dan mengkanalisasi, yang membuat dan menjual, mereka harus disalurkan untuk bidang lain.
Pewarta :
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar