Perupa Yogyakarta gelar pameran lukisan "Spirit of Localness"

id perupa, pameran, lukisan, patung, borobudur

Ilustrasi - Candi Borobudur. (Foto Antarasumsel.com/Yudi Abdullah/14)

Borobudur, Jateng (ANTARA Sumsel) - Sebanyak sembilan perupa berasal dari Yogyakarta menggelar pameran lukisan bertajuk "Spirit of Localness" di Tuk Songo Visual Arts House, kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, 9 Juni-9 Juli 2014.
        
Pembukaan pameran berlangsung di Borobudur, Senin (9/6) malam, oleh pelukis kondang berbasis di Yogyakarta, Heri Dono itu, antara lain dihadiri pemilik Museum OHD Kota Magelang, Oei Hong Djien, Koordinator Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI) Umar Khusaeni, pemilik Studio Mendut Kabupaten Magelang Mami Kato, dan para seniman terutama di daerah itu.
        
Pada kesempatan itu, juga digelar pentas musik kontemporer oleh kelompok "Ada Kalanya" Yogyakarta dan pemusik Leo Kristi, serta pembacaan puisi oleh penyair Kota Magelang, E.S. Wibodo, berjudul "Juru Gambar Borobudur".
        
Mereka yang tergabung dalam "Daun Pintu Forum" Yogyakarta dan memamerkan karya 22 lukisan, empat patung, dan satu instalasi dengan catatan kuratorial oleh pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Mikke Susanto itu, adalah Bambang Siswanto, Hari Ndaruwati, Ibnu Prastowo, Jati "Wegig" Munandar, Joseph Praba, Kelik Darmianto, Slamet Widodo, Valentino Febri, dan Yohanes Dedeo.
        
Mikke mengemukakan kebiasaan perupa Indonesia mengupas berbagai tema lokal-tradisional sebagai suatu keniscayaan. Tema itu, sebagai paling laku dijual daripada yang bersifat universal.
        
Selain karena alasan mudah diidentifikasi, katanya, tema lokal-tradisional juga memberi kemudahan lain, yakni karena banyak perupa yang masih hidup dengan konsep lokal-tradisional. Mereka tidak perlu banyak riset kreatif untuk menelusuri dan menentukan tema lukisannya, karena budaya Indonesia kental dengan nilai-nilai kearifan lokal.
        
"Tinggal bagaimana perupa bisa mengeksplorasi dan mengeksploitasinya. Bisa dikatakan tema lokal-tradisional adalah tema paling banyak digunakan oleh para perupa Indonesia," katanya.
        
Ia menyebut tema lokal-tradisional tidak habis diungkap dan dikupas.
        
"Isu lokal-tradisional memang tak pernah habis untuk diungkap dan dikupas oleh para seniman," kata Mikke.
        
Ia mengemukakan dengan mengajukan isu lokal-tradisional, peluang untuk menerobos berbagai perkembangan baru dalam seni rupa dunia makin terbuka lebar.
        
Oei Hong Djien yang juga kolektor lukisan tersebut, antara lain mengemukakan tentang perkembangan terkini seni rupa dunia dan pentingnya kerja sama antara perupa, pengelola galeri, dan kolektor untuk mengembangkan seni rupa Indonesia.
        
Heri Dono mengemukakan pertemuan antara fenomena globalisasi dan lokalitas yang disebut sebagai "glokal".

"Indonesia menjadi kuat untuk pengertian lokal dan global," katanya.
        
Sejumlah lukisan yang dipamerkan, antara lain berjudul "Borobudur Heaven" (Valentino Febri), "Selalu Ada dalam Cerita" (Bambang Siswano), "Ai" (Hari Ndaruwati), "Ladys, How Are You?" (Ibnu Prastowo), "Yang Tersudut" (Jati "Wegig" Munandar), "Slintru" (Joseph Praba), "The Myth of Merapi#1" (Kelik Dewanto), dan "Langit Ke-7" (Yohanes Dedeo).

Pewarta :
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar