Admission menangkan Festival Film untuk Perdamaian

id Film pendek, Admission

Film pendek, Admission (Antarasumsel.com/Ist)

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Film pendek, Admission, dengan sutradara Harry Kakatsakis dari Amerika Serikat memenangi kategori Best International Short Film sekaligus merebut kategori Best Film pada Festival Film untuk Perdamaian yang digelar di Jakarta, Kamis malam.

"Festival film perdamaian barawal dari kegalauan karena tidak ada festival yang khusus tentang perdamaian," kata Pendiri dan Direktur International Film Festival for Peace, Inspiration and Equality (IFFPIE) Damien Dematra yang menyelenggarakan Festival Film untuk Perdamaian tersebut.

Film  berikutnya yang memenangkan festival tersebut adalah film berjudul Maherjan dengan sutradara Rubaiyat Hossain dari Bangladesh memenangi kategori Best International Feature Film.

Selain itu kategori Best Documentary Short dimenangi oleh film berjudul A Balloon for Allah dengan sutradara Nefise Ozkal Lorentzen asal Norwegia.

Untuk Best Documentary Feature dimenangi oleh film berjudul Little Town of Bethlehem karya sutradara Jim Hanon asal Amerika Serikat.

Untuk kategori Best New Comer  dimenangi oleh film berjudul One Day After Peace dengan sutradara Miri Laufer dan Erez Laufer yang berasal dari Israel.

Festival tersebut adalah hasil kerja sama antara World Peace Movement  dengan International Film Festival for Peace, Inspiration and Equality (IFFPIE) yang ditujukan untuk mensosialisasikan perdamaian.

Damien mengatakan sangat miris karena pada festival tahun ini tidak ada film yang berasal dari Indonesia, karena itu diharapkan tahun depan film dari Indonesia dapat mendominasi festival film yang diadakan oleh IFFPIE.

Pemenang pada festival film akan diputar di Prancis dan Hollywood, Amerika Serikat, pada Oktober mendatang, katanya.

Menurut dia, kesadaran akan pentingnya perdamaian di kalangan masyarakat dunia layak diacungi jempol.

"Terbukti dengan banyaknya film yang menjadi peserta dengan menembus 500 judul film yang berasal dari berbagai negara," kata Damien.

Sebagian besar sineas  yang ikut merupakan pembuat film independen sehingga mereka dengan bebas mengekspresikan ide-ide dalam film yang dibuat.

Bahkan orang Palestina dan Israel dapat bekerja sama untuk membuat film yang menjadi salah satu peserta festival dengan judul "Blood Relations".

Menurut dia, dengan pembuatan film itu membuktikan bahwa keinginan untuk hidup berdampingan secara damai merupakan keinginan semua orang tanpa melihat perbedaan asal-usul dan ideologi politik.

Ketua World Peace Movement Sofia Koswara mengatakan kriteria utama pemenang di samping faktor teknis adalah kekuatan pesan yang disampaikan film bersangkutan.

Wanita yang juga menjadi salah satu dewan juri festival film tersebut mengatakan kegiatan itu juga sebagai sarana untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya perdamaian.

"Kita sudah lelah dengan konflik antar suku, agama, ras dan golongan," kata Sofia.

Dia mengatakan 'World Peace Movement' terbuka untuk semua pihak yang akan bekerja sama untuk mempromosikan perdamaian.

"Jika kita mencintai perdamaian maka kita harus melakukan aksi nyata untuk mewujudkan perdamaian," katanya.

Pemenang festival film dalam IFFPIE akan ditayangkan di bioskop, perguruan tinggi, kedutaan besar dan sekolah di Indonesia mulai 30 Agustus hingga 30 September 2012.
(ANT-SDP-48/D009)

Editor: Awi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar