Catatan akhir tahun - Penggemukan sapi upaya atasi kebutuhan daging

Usaha penggemukan sapi (FOTO ANTARA)

....Hingga saat ini baru sekitar 25 persen perkebunan yang memanfaatkan lahannya sebagai tempat peternakan....
Berita Terkait
Palembang  (ANTARA Sumsel) - Sumatera Selatan sekarang ini masih kekurangan daging terutama menjelang lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, sehingga memerlukan pasokan dari luar.

Hampir setiap menghadapi hari besar agama Islam tersebut Sumsel mendatangkan sapi dari luar seperti Lampung dan provinsi di Jawa.

Itu sudah menjadi pemandangan rutin setiap tahun sehingga Dinas Peternakan Sumsel terus berupaya mengantisipasi supaya daerah ini tidak kekurangan daging.

Oleh karena itu beberapa tahun terakhir ini Dinas Peternakan Sumsel bekerja sama dengan pihak perkebunan melakukan penggemukan sapi.

Program penggemukan sapi tersebut sudah dilaksanakan sejak 2009 yang saat itu pihaknya mendapat bantuan pemerintah pusat sebanyak 200 ekor sapi.

Menurut dia, sementara pada 2011 dan 2012 jumlah sapi yang digemukan masing-masing sebanyak 400 ekor yang sekarang perkembangbiakannya mengalami kemajuan.

Sementara pada 2010 pemerintah pusat tidak menganggarkan penggemukan sapi sehingga belum ada bantuan.

Dengan adanya program tersebut diharapkan ketersediaan daging di daerah ini terus mencukupi terutama saat menjelang lebaran, kata Kepala Dinas Peternakan Sumsel Azrillazi kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Menurut dia, potensi program sapi sawit di Sumsel sangat besar karena lahan perkebunan di provinsi ini cukup luas, sekitar 300 ribu hektar.

Jika setiap hektar perkebunan terdapat dua ekor sapi, maka jumlah sapi di Sumsel akan mencapai 600 ribu ekor.

Namun, hingga saat ini baru sekitar 25 persen perkebunan yang memanfaatkan lahannya sebagai tempat peternakan.

Menurut dia, padahal kerja sama dengan perkebunan itu bisa memanfaatkan pakan dalam kebun tersebut sehingga berpengaruh pada produksi dan reproduksi sapi berkualitas.

Selain itu Dinas Peternakan Sumsel melaksanakan kerja sama dengan perbankan di daerah itu untuk memfasilitasi para peternak dalam menambah permodalan dalam penggemukan sapi.

Nantinya peternak bisa meminjam modal keperbankan sehingga pihaknya sekarang ini sedang melaksanakan kerja sama, kata dia.

Selain itu pendekatan dengan pihak perbankan tersebut karena sekarang ini pemerintah pusat telah membuat program Kredit Usaha Penggemukan Sapi, kata dia.

Jadi program itu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin supaya persediaan daging dan hewan di Sumsel terus meningkat, kata dia.

Namun, lanjut dia, mengenai Kredit Usaha Penggemukan Sapi baru disosialisasikan sehingga peternak belum ada yang meminjam.

Untuk program tersebut pemerintah mengasuransikan sapi yang nantinya bisa dijadikan jaminan dalam meminjam, ujar dia.

Dengan adanya program tersebut diharapkan ketersediaan daging di daerah ini terus bertambah dan cukup terutama saat menjelang lebaran, tambah dia.

Dalam mengatasi ketergantungan Sumsel akan pasokan sapi dari daerah lain, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sumsel, merencanakan melakukan pengiriman peternak ke Jawa Barat, guna belajar menjadi peternak sapi profesional.

Pihaknya memiliki rencana untuk memanfaatkan lahan sempit untuk penggemukan sapi sehingga memerlukan peternak yang handal, kata Ketua HKTI Sumsel Iskandar Samuel kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, pihaknya akan mengirimkan beberapa peternak ke daerah sentra penggemukan sapi, seperti di Jawa Barat, kata dia.

Menurut dia, upaya ini merupakan bentuk perhatian HKTI dalam mengembangkan produksi daging sapi di Indonesia, terutama di Provinsi Sumsel karena saat ini daerah ini masih mengimpor dalam jumlah cukup besar untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan sumber protein tersebut.

Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel Nasrun Umar mengatakan, dalam upaya mengantisipasi kekurangan daging terutama menjelang lebaran gubernur mengutamakan penggemukan sapi.

Memang, ujar dia, kota Palembang pernah terjadi kelangkaan pasokan sapi disebabkan adanya pengurangan pengiriman pasokan hewan yang dilakukan daerah sentra daging, seperti Lampung dan Jawa Tengah.

Menurut dia, penyebab terjadinya pengurangan pasokan hewan potong ke Sumsel itu dikarenakan adanya pembatasan kuota impor sapi untuk kebutuhan industri.

Kementrian Pertanian dalam hal ini Dirjen Perternakan pada tahun ini melakukan pembatasan impor daging untuk industri, kata dia.

Ternyata, pada triwulan ketiga, kuota daging industri yang telah ditetapkan habis sehingga untuk mencukupi kebutuhan industri tersebut, terpaksa menggunakan pasokan daging dalam negeri yang diperuntukkan bagi masyarakat.

Hal inilah mengakibatkan daerah surplus daging tidak melakukan pengiriman sapi ke Sumsel, kata dia beberapa waktu lalu.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, dia mengatakan, Dinas Peternakan Sumsel telah melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat, agar mendistribusikan stok sapi yang ada ke Provinsi Sumsel.

Selain itu gubernur memprogramkan penggemukan sapi yang diharapkan di tahun mendatang persediaan sapi terutama menjelang lebaran tidak kurang.

Kabid Pegolahan dan Pemasaran Hasil Perternakan Dinas Peternakan Provinsi Sumsel Safruddin mengatakan, setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan daging di Sumsel, jumlah sapi yang dipotong di RPH mencapai 150-200 ekor.

Namun, menjelang lebaran Sumsel masih mendatangkan hewan dari provinsi luar, tambah dia. (ANT-U005)

Editor: Parni
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasumsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar