Anak korban video porno masuk pesantren

id porno,korban vidoe porno,pemain video porno,masuk pesantren,video porno anak,berita sumsel,berita palembang

Ilustrasi - Video Porno (Antarasumsel.com/Grafis/Aw)

Bandung (Antaranews Sumsel) - Tiga anak yang menjadi korban produksi video prono di mana anak-anak tersebut berperan dengan perempuan dewasa akan dipesantrenkan usai rehabilitasi di P2TP2A, hal tersebut dikatakan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak danĀ  Pemberdayaan Masyarakat (DP3APM) Kota Bandung Dedi Supandi.

"Setelah penyembuhan trauma selesai, kita kembalikan ke keluarga, tetapi karena kondisinya tidak ramah anak sepertinya kita tidak dulu kembalikan ke keluarga, anak-anak ini akan dibawa ke pesantren," kata Dedi di Bandung, Selasa.

Menurut Dedi anak-anak itu belum bisa dikembalikan ke rumahnya karena sebagian dari pelaku adalah keluarga, sehingga tidak mungkin anak-anak tersebut dikembalikan ke keluarga mereka.

Dinas DP3APM Kota Bandung juga telah meminta izin kepada keluarga korban, agar mereka dibawa ke pesantren.

"Kami sudah menyampaikan hal itu kepada neneknya, dia berharap anak-anak tersebut tetap megenyam pendidikan," kata Dedi.

Dedi mengatakan pihak pesantren pun telah setuju dan bahkan pengelolanya telah datang ke keluarga korban.

Dedi menolak untuk memberitahukan nama pesanten tempar anak-anak tersebut mengenyam pendidikan.

"Masih di Bandung juga, tetapi saya tidak bisa memberi tahu nama pesantren tersebut, karena ini adalah masalah perlindungan anak," kata dia.

Ketua P2TP2A Provinsi Jawa Barat Netty H. mengatakan keadaan anak-anak tersebut yang saat ini berada di penampuang P2TP2A semakin membaik.

"Mereka sudah mengerti konsep kebersihan diri, mereka mulai memiliki manajemen waktu, kapan mereka harus bangun, kapan mereka harus merapikan tempatĀ  tidur dan sebagainya sesuatu yang di rumah mereka sendiri tidak pernah dibiasakan," kata dia.

Dia mengatakan selama ini anak-anak tersebut tidak pernah mendapatkan penanaman nilai budi perketi dari keluarganya.

Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar