Mendekat dengan standarisasi pertandingan Asian Games

id Asian Games, olahraga, pertandingan, cabang olahraga, wasit, Asian University Games, standarisasi pertandingan, Panitia Pelaksana

"Countdown Asian Games 2018" di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, Sumatera Selatan. (ANTARA Sumsel/Nova Wahyudi/dol/17)

.... Jangan sampai upaya keras yang dimulai sejak akhir tahun 2014 itu menjadi tercoreng karena gagal memenuhi standarisasi pertandingan....
Palembang (ANTARA Sumsel) - Provinsi Sumatera Selatan memang sudah cukup berpengalaman menjadi penyelenggara ajang olahraga internasional, baik yang single maupun multi events atau tunggal/banyak acaranya.

Sebut saja, SEA Games XXV tahun 2011, Islamic Solidarity Games 2013, Asian University Games 2014, kemudian Kejuaraan Dunia Skateboard dan Wakeboard 2012, Kejuaraan Asia Pasifik Voli Pantai dari 2010 hingga 2017, Kejuaraan Renang Usia Muda pelajar se ASEAN 2015, dan masih banyak lagi.

Namun, menjadi tuan rumah Asian Games XVIII tahun 2018 tentunya perkara yang berbeda karena levelnya jauh lebih tinggi dari event atau ajang yang pernah diselenggarakan.

Perhelatan akbar olahraga di Asia ini bakal diikuti 45 negara dengan kontribusi tamu negara di Palembang, Sumatera Selatan, sekitar 15 ribu orang.

Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (INASGOC) mengingatkan tuan rumah Sumatera Selatan untuk memenuhi standardisasinya, khususnya dalam pelaksanaan pertandingan.

Wakil Ketua Deputi I Djoko Pramono di Palembang, Sabtu (2/12), mengatakan, dirinya tidak menyangkal bahwa Sumsel telah berpengalaman sebagai tuan rumah SEA Games XXV, namun ajang Asian Games ini sungguh berbeda karena sangat berkelas dan berstandar tinggi.


Pembukaan SEA Games XXV (ANTARA)

"Prestisenya luar biasa karena ini ajang multievent. Negara-negara kuat di Asia akan berjuang untuk menjaga eksistensinya. Sumsel sepatutnya juga harus meningkatkan kemampuannya sebagai penyelenggara," kata Djoko dalam acara Gala Dinner peserta Piala Pertiwi yang menjadi ajang untuk mengetesnya.

Oleh karena itu, kesempatan menggelar ajang pengetes dari cabang olahraga yang dipertandingkan harus benar-benar dimanfaatkan sebagai kesempatan uji coba, katanya.

Asian Games XVIII tahun 2018 akan digelar di dua tempat yakni Jakarta dan Palembang. Khusus di Palembang, akan dipertandingkan cabang olahraga yakni sepak bola, basket, tenis/soft-tenis, voli, kano/kayak, dayung, menembak, triathlon, sepak takraw, panjat tebing dan boling.

Sejauh ini Sumsel telah menjalankan tes event thriathlon, tenis lapangan, voli pantai, sepak takraw dan dayung. Kemudian, yang sedang berlangsung yakni tes event sepak bola wanita, 3-13 Desember 2017, serta menyusul cabang olahraga menembak.

Ketua Asosiasi Provinsi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia Sumatera Selatan Musni Wijaya mengatakan saat ini Sumsel sedang meng-`upgrade` kemampuan untuk mencapai kesuksesan sebagai penyelenggara.

Menurutnya, ajang tes event dijadikan ruang untuk memantapkan kesiapan sebagai tuan rumah.

Ia menerangkan, untuk cabang olahraga sepak bola wanita hingga kini belum diketahui berapa jumlah pesertanya. Namun, panitia Asian Games di Sumsel telah memplot tiga stadion sekaligus untuk menyelenggarakan pertandingan tersebut.


Suasana malam di pelataran Gelora Sriwijaya Jakabaring yang nampak gemerlap (ANTARA Sumsel)

Pertandingan akan digelar di Stadion Gelora Sriwjaya Jakabaring, Stadion Bumi, dan Stadion Atletik.

"Stadion Bumi dan Stadion Atletik sudah siap, sementara Stadion Jakabaring lagi renovasi. Karena lagi perbaikan, maka tes event pakai dua stadion saja," kata dia.

Dalam tes event Asian Games dengan menyelenggarakan Piala Pertiwi, Asprov PSSI berupaya mendekat dengan standarisasi pertandingan Asian Games.

Menurut Musni, dengan jumlah peserta 12 provinsi di Piala Pertiwi ini setidaknya telah mendekat dengan jumlah peserta Asian Games sebenarnya karena diperkirakan maksimal 14 tim.

Berbagai prasyaratan pertandingan sepak bola internasional pun disiapkan, seperti ruang ganti pemain, ruang kesehatan, ruang media, ruang konferensi pers, ruang wasit dan lainnya.

"Bahkan untuk pembawa acaranya juga disiapkan yang berbahasa Inggris," kata Musni.

                    Butuh Keterlibatan PB

Beberapa waktu lalu, perwakilan International Tenis Federation meninjau Stadion Tenis PT Bukit Asam di Kompleks Olahraga Jakabaring untuk memantau kesiapan Sumatera Selatan dalam menyelenggarakan Asian Games ke-18 tahun 2018.

Peninjauan arena ini diikuti Major Shunmugam Uthrapathy sebagai Delegasi Teknik Dewan Olimpiade Asia (OCA), Susan Soebakti selaku manajer kompetisi PB Pelti, Gunawan Tedjo Sutikno sebagai manajer arena, beserta sejumlah penjabat pemerintah Provinsi Sumsel.

Guawan Tedjo yang sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal PB Pelti mengatakan perwakilan International Tenis Federation (ITF) ini didatangkan untuk mendampingi Pemprov Sumatera Selatan yang berencana melaksanakan perenovasian dan pembangunan delapan lapangan baru.

PB Pelti berinisiatif sendiri melakukan pendampingan ke Sumsel untuk mencegah terjadinya kesalahan patal mengingat cabang olahraga tenis memiliki standar cukup tinggi dalam penyelenggaraan pertandingan.

"Pelti tidak mau nanti akan menjadi masalah karena kesalahan dalam ukuran lapangan, dan hal-hal teknis lainnya," kata Gunawan.

Ia mengatakan, dengan melibatkan ITF sedari awal maka bukan saja memastikan arena sesuai standar, tapi juga memberikan garansi ke penyelenggara bahwa venue yang disiapkan sudah sesuai standar internasional.

Jika nantinya stempel layak diberikan ITF maka penyelenggara tidak dapat lagi disalahkan oleh peserta. "Tapi, untuk menyandang sesuai standar ini, tentunya ITF memiliki sejumlah persyaratan," kata Gunawan.


Major Shunmugam Uthrapathy (kanan) berbincang dengan Manager Arena Tenis Asian Games 2018 August Ferry Raturandang (kiri) saat meninjau Kompleks Tenis Bukit Asam di Jakabaring Sport City (JSC) Palembang. (ANTARA Sumsel/Nova Wahyudi)

Sementara itu, Delegasi Teknik Dewan Olimpiade Asia (OCA) Major Shunmugam Uthrapathy mengatakan bahwa arena yang disiapkan Sumsel ini belum memenuhi standar Asian Games.

Ia tidak membantah bahwa secara sekilas sudah bagus tapi standar ini untuk pertandingan level SEA Games sehingga masih perlu ditambah lagi beberapa fasilitas agar sesuai dengan standar dan klasifikasi ITF.

Penambahan itu yakni ruang kantor, ruang konferensi pers, ruang pers, ruang pijat, ruang doping, ruang istirahat atlet, ruan wasit, dan ruan kesehatan.

Selain itu, penyelenggara diminta menyediakan setidaknya 17 lapangan berstandar intersional mengingat yang tersedia baru sembilan lapangan.

Penambahan lapangan ini terkait asumsi jumlah negara peserta yakni sekitar 35-36 negara dengan masing-masing akan mengirimkan sekitar 9 orang jika turun dengan full team.

"ITF berharap semua fasilitas ini selesai paling lambat pada Januari 2018 karena pada Maret ada test event. Meski saat ini Sumsel belum memulai tapi saya optimistis bakal membangun yang sesuai standar dan tepat waktu karena adanya keseriusan dari pemerintah setempat," kata dia.

Asisten III Bidang Kesra Pemprov Sumsel, Ahmad Najib menenangkan, bahwa selain menyiapkan Stadion Tenis ini, Sumatera Selatan juga akan membangun Convention Hall pada lahan seluas 5,5 hektare yang dapat diproyeksikan untuk pertandingan final tenis Asian Games.

"Fasilitas ini sangat mewah yang akan dibangun oleh PT Bukti Asam dengan biaya sekitar Rp140 miliar, jangankan untuk tenis Asian Games, digunakan pertandingan sekelas Wimbeldon pun bisa," kata Najib.

Sumsel berpacu dengan waktu untuk menjalankan tugas negara sebagai tuan rumah Asian Games. Jangan sampai upaya keras yang dimulai sejak akhir tahun 2014 itu menjadi tercoreng karena gagal memenuhi standarisasi pertandingan cabang olahraga yang berlaku secara internasional.
Pewarta :
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar