62 tahun timnas raih medali perunggu Asian Games sulit diulangi

id Timnas Indonesia,Asian Games,Toni Pogacnik,Maulwi Saelan

62 tahun timnas raih medali perunggu Asian Games sulit diulangi

Dok - Pesepak bola Uni Emirat Arab Alsharji Salem (kanan) berebut bola dengan pesepak bola Indonesia saat babak 16 besar pada Asian Games 2018 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Jawa Barat, Jumat (24/8/2018). Pada Asian Games terbaru itu Indonesia gagal ke perempat final setelah kalah dalam adu penalti. (ANTARA FOTO/INASGOC/Djuli Pamungkas)

Jakarta (ANTARA) - Tepat hari ini 62 tahun silam, tim nasional sepak bola Indonesia sempat dijuluki sebagai Macan Asia setelah berhasil merebut medali perunggu dalam ajang Asian Games 1958 di Tokyo, Jepang.

Mengalahkan India 4-1 dalam perebutan tempat ketiga, membuat prestasi ini menjadi yang tertinggi yang bisa dicapai Indonesia dan bertahan hingga dewasa ini, bahkan sulit untuk diulangi.

Pelatih Indonesia saat itu, Antun Toni Pogacnik, membuat perubahan besar-besaran di tubuh timnas. Ia melakukan peremajaan dalam skuatnya. Nama-nama seperti Ramang, Djamiaat Dhalhaar, hingga Aang Witarsa terpinggirkan.

Sebagai pengganti, di lini depan dihuni pemain dengan rerata umur 23 seperti Wowo Sunaryo, Bakir, dan Suryadi. Sementara di posisi penjaga gawang tetap diisi Maulwi Saelan, sang pengawal Bung Karno.

Pada babak penyisihan, Indonesia tergabung di Grup B bersama Myanmar dan India. Maulwi Saelan dan kawan-kawan sukses menjadi juara grup setelah menumbangkan Myanmar 4-2 dan India 2-1.

Di babak perempat final, timnas Indonesia telah ditunggu tim yang tak terlalu diperhitungkan, Filipina. Benar saja kedigdayaan Indonesia tak kuasa dibendung dan mereka mengakhiri laga dengan skor 5-2.

Memasuki Semifinal, Indonesia akhirnya mendapatkan lawan tangguh yakni Republic of China (yang sekarang menjadi Taiwan), sekaligus kandidat kuat juara saat itu. Meski begitu, Indonesia mampu mengimbangi perlawanan Taiwan dan hanya kalah dengan skor tipis 1-0.

Harapan untuk mendapat medali emas pupus sudah, satu-satunya yang bisa dibawa pulang hanya perunggu. Di babak perebutan tempat ketiga, Indonesia kembali bertemu dengan India yang pada babak semifinal kalah atas Korea Selatan 3-1.

Pengalaman saat bertemu di fase grup, membuat pasukan Toni Pogacnik ini bisa sedikit jumawa. India kembali tak berdaya di hadapan Indonesia dan harus mengakui kekalahan 4-1.

Kemenangan itu membuat timnas Indonesia mencatatkan sejarah yang terus bertahan -bahkan hanya menjadi mimpi timnas- hingga hari ini yakni medali perunggu di Asian Games.

Peletak dasar sepak bola Indonesia

Keberhasilan timnas Indonesia merebut medali perunggu Asian Games 1958 tak bisa dilepaskan dari tangan dingin Toni Pogacnik. Pelatih asal Yugoslavia itu telah meletakan warisan dasar sepak bola kita, yakni kecepatan dan ketepatan.

Sejak menginjakan kaki pada 1954, ia sadar betul bahwa pemain di Asia Tenggara khususnya memiliki postur tubuh yang pendek. Berbeda jika dibandingkan dengan pemain asal Eropa. Maka untuk mengimbanginya, Toni menggenjot kemampuan pemain lewat kecepatan dan kelincahan.

Kecepatan inilah yang menjadi identik sepak bola Indonesia, hampir semua klub memaksimalkan kecepatan kedua sayap saat melakukan penyerangan. strategi ini hampir menjadi manual book di Indonesia.

Tapi perihal ketepatan, butuh waktu bagi Toni untuk bisa menerapkan pada anak-anak asuhnya. Menciptakan peluang sebaik-baiknya yang didorong oleh kecerdasan pemain di lapangan menjadi hal yang sulit, bahkan konon hingga saat ini.

Bahkan Luis Milla sempat mengatakan bahwa pemain di Indonesia memiliki skill mumpuni tapi tanpa diimbangi dengan kemampuan teoritis dasar sepak bola. Yang menjadikan Indonesia menonjol adalah kerja keras di sepanjang laga.

Pun demikian dengan Shin Tae-yong yang menyoroti para pemain Indonesia belum sepenuhnya memahami teknik dasar. Bahkan ia berani menyebut kualitas Passing para pemain timnas Indonesia tak lebih baik dari anak sekolah dasar.

Namun skandal suap jelang Asian Games 1962 di Jakarta menjadi awal dari keruntuhan era Pogacnik. Itu bukan hanya menghancurkan fondasi tim yang cikal-bakalnya sudah dia siapkan sejak 1954, tapi juga menghancurkan hatinya.

Terlepas dari itu, Toni telah menjadi semacam cerita legenda sebagai pengantar tidur agar keesokan hari Indonesia bisa bermimpi menjadi Macan Asia.
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar