Rupiah awal pekan masih berpotensi menguat terbatas

id rupiah melemah,trump,the fed,dolar as,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara hari ini, palembang hari ini, jembatan

Rupiah awal pekan masih berpotensi menguat  terbatas

Petugas kasir menghitung mata uang rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Kwitang, Jakarta Pusat (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada awal pekan ini masih berpotensi menguat namun relatif terbatas.

Pada pukul 10.14 WIB, rupiah sendiri masih melemah 22 poin atau 0,16 persen menjadi Rp13.960 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp13.938 per dolar AS.

"Kemungkinan rupiah menguat terbatas walaupun secara teknikal kemungkinan ada pelemahan karena telah menguat secara berturut-turut menguat sejak Kamis minggu lalu," kata ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih di Jakarta, Senin.

Dari eksternal, Presiden Trump kembali meminta The Fed untuk segera mengakhiri kebijakan moneter ketat seiring dengan tensi perdagangan dengan China yang masih berlangsung.

Permintaan ini semakin membuat probabilitas The Fed menurunkan suku bunganya pada pertemuan 30-31 Juli 2019 ini semakin besar.

Dari internal, keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,75 persen masih menjadi katalis positif bagi nilai tukar. Dengan keputusan ini tren suku bunga acuan BI ke depan dinilai akan cenderung turun.

"Keputusan BI turunkan suku bunga menjadi sinyal potensi turunnya suku bunga yang berlanjut di masa mendatang," ujar Lana.

Lana memperkirakan hari ini rupiah akan bergerak menguat di kisaran Rp13.900 per dolar AS sampai Rp13.930 per dolar AS. Namun, secara teknikal rupiah diprediksi melemah di kisaran Rp13.970 per dolar AS sampai Rp13.990 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Senin ini menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp13.963 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp13.913 per dolar AS.
 
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar