Imlek Palembang tak hanya sembahyang di Wihara

id vihara,imlek,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara hari ini,sincia, pecinan, tahun baru imlek

Umat Buddha melakukan penyalaan 1000 lilin sebagai rangkaian dari perayaan tahun baru Imlek di Vihara Dharmakirti Palembang, Senin (4/2/2019). . ANTARA FOTO/Feny Selly/UJ/19

Orang Tionghoa yang sudah berpindah agama apapun tetap boleh merayakan hari itu, tanpa terkecuali.
Palembang (ANTARA News Sumsel) - Tanggal 5 Februari 2019 tercetak berwarna merah di kalender yang menempel di dinding rumah menunjukkan pada Selasa itu merupakan hari libur karena Tahun Baru Imlek, dalam penanggalan Tionghoa.

Anak-anak terutama usia Sekolah Dasar banyak yang belum mengetahui apa Imlek itu.

Faiza Hairunisa, pelajar Kelas III SD Kartika II Sekip Ujung Palembang mengutarakan pertanyaan kepada orang tuanya tentang Imlek itu perayaan apa.

Tidak sedikit orang yang salah mengartikan Imlek sebagai hari raya dalam keagamaan Buddha karena umumnya umat Buddha datang ke wihara merayakannya.
 
Dokumentasi- Persiapan perlengkapan ritual seribu pelita di Vihara Dharmakirti Palembang. (ANTARA News Sumsel/Feny Selly/I016)

Imlek bukanlah hari raya suatu agama, bukan juga hari raya keagamaan Buddha, Tao, maupun Konghucu.

Seorang tokoh agama Buddha di Palembang Rifai Thambrin menjelaskan?Imlek suatu perayaan tradisi dalam masyarakat Tionghoa.

Perayaan tradisi itu untuk menyambut musim semi dan berakhirnya musim dingin. Perayaan dilakukan oleh Suku Bangsa Tionghoa di Tiongkok (China) yang dalam perkembangannya ditetapkan sebagai hari pergantian tahun.

Imlek berasal dari dialek Hokkian yang artinya "Kalender Lunar" (Im artinya lunar atau bulan dan Lek artinya kalender), sedangkan dalam dialek Mandarin, Imlek adalah "Yinli".

Berdasarkan penjelasan tersebut Tahun Baru Imlek artinya tahun baru yang dihitung berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi.

Tahun Baru Imlek adalah tahun barunya semua orang Tionghoa terlepas dari agama apapun yang dianutnya.

Orang Tionghoa yang sudah berpindah agama apapun tetap boleh merayakan hari itu, tanpa terkecuali.

Kesalahpahaman mengenai anggapan bahwa Imlek perayaan agama Buddha, Konghucu, dan Tao oleh sebagian besar orang, khususnya di Indonesia, karena kurangnya informasi yang benar dan melekatnya stigma serta sikap penyamarataan bahwa warga keturunan Tionghoa pastilah beragama Buddha, Tao, atau Konghucu, sedangkan agama Buddha adalah agama khusus warga keturunan Tionghoa.

Oleh karena itu, ketika umat Buddha Indonesia yang sebagian besar tinggal di perkotaan, adalah warga keturunan Tionghoa dan merayakan Imlek, maka sebagian besar orang beranggapan bahwa Imlek adalah hari raya keagamaan Buddha. Padahal bukan demikian itu.

Imlek merayakan datangnya musim semi di China dan tidak ada kaitannya dengan agama.

Namun, karena yang beragama itu manusia, maka manusianyalah yang ingin merayakan dengan cara agamanya, termasuk umat Buddha yang keturunan Tionghoa.

Imlek jangan hanya diisi dengan sembahyang dan pesta makan-makan, melainkan dijadikan momentum untuk merenung dalam setahun lalu tentang apa yang sudah dilakukan.

Selain itu, membawa semangat untuk mempertahankan dan mengembangkan berbagai hal yang sudah baik serta meninggalkan hal-hal yang dinilai buruk.

Berdasarkan penjelasan itu, kata tokoh umat Buddha di Palembang tersebut, siapapun dengan latar belakang agama apapun tidak ada halangan untuk melakukan tradisi Imlek karena bukan hari raya agama tertentu.

                     
                     Tak Hanya Terasa

Perayaan Imlek di Palembang tidak hanya terasa di sejumlah lokasi yang terdapat wihara atau kelenteng dan kawasan permukiman warga keturunan Tionghoa, seperti di Kawasan Dempo Palembang.

Kawasan Dempo yang dikenal sebagai "Pecinan" Palembang, dalam suasana Imlek tahun ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Di kawasan itu, tampak ramai kendaraan roda empat milik tamu warga yang sedang merayakan Tahun Baru China atau Sin Cia itu.

Ramainya kendaraan yang parkir di pinggir jalan mendorong pemuda yang tinggal di sekitar kawasan Jalan Dempo menjadi juru parkir dadakan.

Mereka memanfaatkan keramaian perayaan itu untuk mengais rezeki dan membantu mengatur parkir kendaraan tamu agar tidak terjadi kemacetan arus lalu lintas di kawasan itu.

Salah seorang pemuda setempat, Dody, mengatakan peristiwa Tahun Baru Imlek ini sangat dinantikan warga sekitar kawasan "Pecinan" itu, karena bisa mendapat uang yang lumayan banyak dari tamu yang mendapatkan bantuan pengaturan parkir dan dijaga kendaraannya.

Uang yang bisa diperoleh dari membatu pengaturan parkir dan penjagaan kendaraan di kawasan Dempo itu di atas Rp100.000 per orang.

Suasana Imlek tampak juga di sejumlah mal dan hotel di daerah dengan julukan "Bumi Sriwijaya" itu.

Untuk menyemarakkan Imlek, manajemen Grand Zuri Hotel Palembang menyediakan paket promosi dengan harga spesial bagi tamu yang makan dan menginap di hotel tersebut.

Menyambut pergantian Tahun Anjing ke Tahun Babi, disediakan paket makan bersama Buffet Imlek dengan tema Prosperity Dinner Gong Xi Gong Xi.

Pejabat Humas/Public Relation Grand Zuri Hotel, Helena Angeline, menjelaskan bahwa pihaknya menyiapkan aneka menu, seperti appetizers hingga dessert berbalut "chinese vuisine".

Untuk menu utama Imlek, pengunjing hotel bisa menikmati makanan laut "seafood steamboat dan BBQ live cooking".

Tamu yang menikmati suguhan kuliner Imlek di Grand Zuri Hotel dihibur dengan penampilan "Live Music Accoustic".

Guna melengkapi kemeriahan Imlek, dihadirkan atraksi Barongsai serta berbagai hadiah menarik dari pohon kebajikan yang dihiasi angpau.

Di Mal Palembang Icon, untuk menyemarakkan Imlek, pengelola menghadirkan rangkaian program kegiatan bertajuk "Let?s Gong Xi" dengan mengusung konsep nuansa musim semi yang telah dimulai sejak 15 Januari hingga 28 Februari 2019.

Palembang Icon akan menghadirkan dekorasi dengan dominasi bermacam bunga, seperti mei hua, yellow/peach blossom, peoni, anggrek dan narcissus yang berwarna warni di beberapa area mal khususnya di area atrium sebagai pusat kegiatan Lunar New Year.

Asisten Marketing Communication Manager Palembang Icon, Trulli Amelia, mengatakan dekorasi tersebut sengaja ditampilkan untuk memberikan nuansa musim semi yang dapat dinikmati setiap pengunjung mal selama perayaan Lunar New Year.

Pengunjung juga dapat mengabadikan berbagai momentum yang berkesan bersama keluarga di beberapa titik foto "instagrammable" yang khusus disediakan pihak pengelola.

Melalui program "Let's Gong Xi", Lippo Malls, pengelola Mal Palembang Icon juga menampilkan rangkaian kegiatan yang merupakan tradisi untuk melengkapi perayaan Lunar New Year, seperti penampilan barongsai dan liong, wushu, dan wing chun, penampilan dari paduan suara dan musik tradisional China.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar