Laba bersih Maybank Indonesia naik 29,7% pada Q1 2020

3624 Views

Presiden Komisaris Maybank Indonesia dan Group President & CEO Maybank, Datuk Abdul Farid Alias (kiri) dan Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria

Pertumbuhan Kuartal Pertama 2020 dibandingkan Kuartal Pertama 2019
  • Laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) naik 29,7% menjadi Rp538,2 miliar
  • Pendapatan non bunga (fee based income) naik 16,0% menjadi Rp597,6 miliar
  • Rasio CASA naik menjadi 37,4% didukung pertumbuhan tabungan sebesar 18,1%
  • Marjin Bunga Bersih (NIM) tumbuh menjadi 4,96%
  • Biaya overhead dikelola dengan efektif, hanya meningkat 1,2%
  • Posisi modal yang kuat dengan Rasio Kecukupan Modal (CAR) sebesar 20,6% dan total modal sebesar Rp26,2 triliun

Jakarta (ANTARA) -- PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia atau Bank) hari ini mengumumkan kenaikan laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) sebesar 29,7% menjadi Rp538,2 miliar pada kuartal I yang berakhir 31 Maret 2020 didukung peningkatan pendapatan non bunga (fee based income) dan pengelolaan biaya strategis secara berkelanjutan (sustained strategic cost management).

Bank mencatat pertumbuhan pendapatan non bunga (fee based income) sebesar 16,0% menjadi Rp597,6 miliar pada Maret 2020 dibandingkan dengan Rp515,0 miliar pada Maret 2019, terutama didukung oleh peningkatan pendapatan fee Global Market, bancassurance, investasi, dan fee transaksi jaringan elektronik (e-channel).

Maybank Indonesia berhasil memperkuat profil pendanaan seperti tercermin dari peningkatan rasio CASA dari 31,7% pada Maret 2019 menjadi 37,4% pada Maret 2020 dimana tabungan meningkat sebesar 18,1%. Peningkatan CASA juga merupakan hasil dari strategi Bank yang diterapkan sejak semester kedua 2019 untuk mengurangi surplus likuiditas berbiaya tinggi yang dimiliki Bank untuk memitigasi risiko yang tak terduga selama paruh pertama 2019. Platform digital banking, M2U yang memberikan layanan pembukaan rekening dengan mudah dan cepat juga memberikan kontribusi pada peningkatan rasio CASA. Rasio Kredit terhadap Simpanan/Loan to Deposit (LDR-Bank saja) berada pada tingkat yang sehat sebesar 89,7% sementara Rasio Cakupan Likuiditas/Liquidity Coverage Ratio (LCR-Bank saja) berada pada posisi 154,2% per Maret 2020, jauh melampaui kewajiban minimum sebesar 100%.

Total kredit turun sebesar 9,5% menjadi Rp122,9 triliun sejalan dengan strategi Bank untuk mengambil langkah konservatif dan menyesuaikan dengan postur serta risk appetite Bank dalam menjaga portofolionya terutama dalam situasi pandemi seperti saat ini. Per Maret 2020, kredit Perbankan Global turun 1,7% menjadi Rp35,3 triliun, sementara kredit Community Financial Services (CFS) non-ritel turun 17,5% menjadi Rp46,6 triliun dan kredit CFS Ritel turun 5,6% menjadi Rp41,1 triliun.
Marjin bunga bersih (NIM) pada Maret 2020 sebesar 4,96% atau lebih tinggi 14 basis point dibandingkan dengan 4,81% pada Maret 2019. Bank akan terus menjaga kedisiplinan dalam penentuan bunga kredit dan pengelolaan pendanaan secara aktif untuk dapat memitigasi tekanan pada marjin dengan lebih baik.

Biaya overhead tetap dikelola dengan efektif dan hanya meningkat sebesar 1,2% menjadi Rp1,6 triliun pada Maret 2020 sebagai hasil dari inisiatif pengelolaan biaya yang baik di seluruh lini bisnis dan unit pendukung.

Tingkat non-performing loan (NPL) sebesar 3,6% (gross) dan 2,2% (net) pada Maret 2020 dibandingkan dengan 2,9% (gross) dan 1,7% (net) pada Maret 2019 Hal ini disebabkan oleh menurunnya total kredit pada Maret 2020.Rasio Gross Impaired Loan sebesar 5,04% pada Maret 2020 dibandingkan 3,29% pada Maret 2019. Meningkatnya rasio impaired loan disebabkan oleh karena Bank menerapkan standar akuntansi baru PSAK 71 atau IFRS 9 secara penuh efektif mulai Januari 2020. Bank terus menempuh langkah proaktif untuk membantu nasabah menghadapi tantangan dan mempertahankan postur risiko yang sesuai dalam menjaga kualitas aset.
Posisi modal Bank tetap kuat dengan Rasio Kecukupan Modal (CAR) sebesar 20,6% pada Maret 2020 dibandingkan dengan 18,7% pada periode yang sama tahun lalu dan total modal Rp26,2 triliun pada Maret 2020 dibandingkan Rp25.9 triliun pada Maret 2019.

Perbankan Syariah

Total pembiayaan Perbankan Syariah Bank per Maret 2020 mencapai sebesar Rp24,4 triliun dibandingkan dengan Rp24,7 triliun tahun lalu. Namun dalam tiga bulan pertama Perbankan Syariah kembali tumbuh dan mencatat pertumbuhan pembiayaan sebesar Rp398,0 miliar mencapai total Rp24,4 triliun. Kafalah Perbankan Syariah mulai menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan; jika ditambah portofolio Kafalah, total pembiayaan mencapai Rp25,8 triliun pada Maret 2020. Total aset Perbankan Syariah per Maret 2020 sebesar Rp31,8 triliun atau 2,6% lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

Sementara, total simpanan nasabah tumbuh sebesar 2,4% atau membukukan peningkatan sebesar Rp599,7 miliar pada tiga bulan pertama 2020. Perbankan Syariah secara berkesinambungan telah memfokuskan pada aktivitas untuk mendapatkan pendanaan yang efisien, dan hal ini telah berhasil mengurangi simpanan berbiaya tinggi serta memperbaiki laba sebelum pajak menjadi sebesar Rp109,1 miliar dan peningkatan Return on Asset (ROA) menjadi 2,08% pada Maret 2020 dibandingkan 1,36% pada Maret 2019.

Perbankan Syariah terus memperkuat proposisi dan memperlihatkan keunggulan kapabilitas di pasar melalui produk yang inovatif seperti fitur hedging baru untuk nasabah korporasi dan komersial serta perlindungan asuransi jiwa dengan prinsip Syariah bagi pemegang rekening tabungan MyArafah.

Inisiatif Maybank Indonesia Memerangi COVID-19

Bank telah mengambil peran aktif untuk mendukung Pemerintah dalam memerangi wabah virus COVID-19 dengan memberikan donasi Alat Pelindung Diri (APD) ke rumah sakit di seluruh Indonesia dan melakukan program penggalangan donasi massal (crowd sourcing) melalui apliasi mobile banking M2U untuk membantu mereka yang terkena dampak wabah virus. Bank baru-baru ini juga memperkenalkan Rekening Tabungan yang dilengkapi perlindungan asuransi jiwa Covid-19, sejalan dengan komitmen Bank untuk memprioritaskan keselamatan dan kesehatan nasabah. Lebih jauh, Bank secara proaktif telah menghubungi para debitur untuk mengetahui dampak pandemi ini terhadap bisnis mereka serta memberikan bantuan jika diperlukan.

Presiden DirePresiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengatakan, Sejalan dengan perbaikan dan perubahan yang kami lakukan sejak tahun lalu, memang ekspektasi kami dapat mencatat kinerja yang positif di awal tahun dengan kenaikan PATAMI sebesar 29,7% dalam tiga bulan pertama 2020. Pendapatan non bunga (fee based income) makin menunjukkan peningkatan dan menjadi sumber pendapatan utama kami di saat Bank mengambil langkah selektif dalam menumbuhkan portofolio di tengah kondisi pasar saat ini. Pandemi global ini akan berdampak pada kinerja kami dalam tahun ini dan kami akan tetap harus menjaga kualitas aset. Sementara itu, kami akan terus menjaring peluang bisnis di bidang perbankan digital di mana kami dapat memberikan solusi keuangan yang inovatif dengan meningkatkan customers experience kepada para nasabah, di samping memberikan dukungan untuk menjaga kelangsungan bisnis mereka.

Presiden Komisaris Maybank Indonesia dan Group President & CEO Maybank, Datuk Abdul Farid Alias mengatakan, Langkah-langkah transformasi yang telah kami lakukan dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan hasil nyata dengan pertumbuhan yang kuat terlepas dari kuartal yang sangat menantang yang kami alami. Kami akan terus fokus pada pertumbuhan yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas aset kami, sementara pada saat yang sama memprioritaskan pengelolaan biaya dan likuiditas yang efektif. Dengan norma baru operasional perbankan yang kami saksikan, agenda transformasi digital Group akan kami akan percepat untuk mendorong fase pertumbuhan Maybank Indonesia berikutnya.

Anak Perusahaan

PT Maybank Indonesia Finance (Maybank Finance) terus mencatat kinerja yang sehat dengan laba sebelum pajak meningkat sebesar 8,2% menjadi Rp121,2 miliar pada kuartal pertama 2020. Maybank Finance tetap fokus untuk memastikan pengelolaan aset yang baik dengan tingkat NPL yang lebih rendah sebesar 0,26% (gross) dan 0,15% (net) per Maret 2020 dibandingkan dengan 0,34% (gross) dan 0,18% (net) pada periode yang sama tahun lalu.

Laba sebelum pajak PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM) naik 3,1% menjadi Rp57,3 miliar meskipun terjadi penurunan total pembiayaan konsumer (WOM saja) sebesar 2,6% menjadi Rp7,2 triliun pada Maret 2020. Kenaikan laba WOM merupakan dampak implementasi strategi untuk fokus pada dealer yang berkualitas sehingga menghasilkan portolio yang lebih baik. Bisnis pembiayaan multiguna WOM juga terus memberikan pertumbuhan yang sehat. WOM mencatat peningkatan kualitas aset seperti tercermin pada penurunan tingkat NPL menjadi 2,12% (gross) dan 0,68% (net) dari 3,18% (gross) dan 0,88% (net). Pandemi Covid-19 ini memberikan tantangan tersendiri untuk bisnis WOM hingga akhir tahun. WOM akan lebih berhati-hati dalam melakukan bisnis ke depan, dan akan mengintensifkan monitoring serta collection beberapa bulan mendatang.

Pewarta :
Editor : PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar