Tingginya angka kematian ibu disebabkan minimnya pengetahuan

id Dwi Listyawardani,Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan,bkkbn pusat

Tingginya angka kematian ibu disebabkan minimnya pengetahuan

Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Dwi Listyawardani memberikan keterangan pada wartawan di Jakarta, Rabu (6/3/2019). (ANTARA/Aditya Ramadhan)

Jakarta (ANTARA) -
Masih tingginya angka kematian ibu di Indonesia akibat minimnya pengetahuan dalam proses kehamilan, persalinan, dan perencanaannya, kata Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Dwi Listyawardani.

Dwi Listyawardani di Jakarta, Rabu (6/3), menerangkan, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi meski 90 persen proses persalinan sudah ditangani oleh tenaga kesehatan.

“Ironisnya 90 persen persalinan sudah ditolong tenaga kesehatan, tapi kenapa masih banyak kematian saat persalinan, ini ironi,” kata Dwi.

Dia menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan angka kematian ibu masih tinggi, yaitu dari minimnya pengetahuan dalam merencanakan kehamilan dan berkeluarga.

“Angka kematian ibu yang mempengaruhi itu 4 Terlalu, yaitu kehamilan terlalu muda, kehamilan terlalu tua, terlalu banyak memiliki anak, dan terlalu rapat dalam rentang waktu kehamilan anak yang satu dengan lainnya,” kata Dwi.

Ketidaktahuan informasi tentang kesehatan reproduksi tersebut yang menurut Dwi menyebabkan kematian ibu.

Selain itu, dia juga menyebutkan beberapa keterlambatan dalam penanganan akan berisiko terhadap kematian ibu saat persalinan.

Terlambat mengetahui adanya bahaya dan mendeteksi risiko bahaya dalam suatu kehamilan bisa berakibat fatal pada saat persalinan, katanya.

Oleh karena itu Dwi menekankan pentingnya pemeriksaan rutin selama sembilan bulan proses kehamilan.

Selain itu, terlambat membawa ibu hamil yang akan melahirkan ke fasilitas kesehatan juga bisa berakibat fatal dan mempengaruhi angka kematian ibu.

“Sudah terjadi pendarahan, sudah terjadi macam-macam tapi nggak segera dibawa ke faskes karena mungkin kendaraan nggak ada, mungkin nggak ada yang mengantar, apalagi daerah pedesaan dengan geografis yang seperti itu dan seterusnya,” papar Dwi.

Dan risiko yang terakhir ialah terlambatnya penanganan yang dilakukan oleh petugas kesehatan saat sudah di fasilitas kesehatan.

Di beberapa negara, kata Dwi, terdapat dua unit gawat darurat di rumah sakit yaitu UGD untuk umum dan UGD khusus bagi ibu hamil yang akan melahirkan.

Oleh karena itu Dwi menekankan pentingnya sosialisasi kepada masyarakat khususnya perempuan dan ibu hamil untuk meningkatkan edukasi tentang kesehatan reproduksi dan kehamilan. 
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar