Resensi film- "Marlina si pembunuh"- sulitnya perempuan mendapat keadilan

id Marsha Timoty, Marlina si pembunuh, film, cerita film, Mouly Surya, sutradara film, kepala perampok, perempuan Sumba, hukuman, keadilan

Artis pemeran film Marlina si pembunuh ,Marsha Timothy dan Dea Panendra (ANTARA Sumsel/Zaynita gibons/Ang/17)

Cerita "Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak" sebenarnya sederhana, seperti yang diklasifikasikan sang sutradara Mouly Surya dalam empat babak film tersebut.    

Pertama terjadi perampokan dan Marlina (Marsha Timoty) melawan, kemudian dia melakukan perjalanan ke kantor polisi sambil membawa kepala perampok yang dipenggalnya, sesampainya ke polisi dia melaporkan kejadian tersebut dan dia kembali untuk menyelamatkan temannya.

Namun pengalaman Marlina sebagai perempuan Sumba yang ditinggal mati suaminya menunjukkan banyak hal, bahwa masih banyak perempuan yang mengalami berbagai macam kekerasan, bahwa pihak yang seharusnya memberikan rasa aman dan keadilan pun berlaku diskriminatif kepada perempuan.

Berawal dari datangnya Markus (Egy Fedly) ke rumahnya, kemudian disusuli oleh teman-teman Markus untuk membawa seluruh hewan ternak Marlina karena suaminya belum melunasi utang.

Tak hanya itu para penjahat itu juga akan melakukan pemerkosaan berkelompok.

Rumah Marlina yang jauh dari tetangga membuat dia tidak dapat meminta pertolongan kepada orang lain, sehingga dia hanya dapat mengandalkan dirinya sendiri.

Maka dalam kedaan terdesak seperti itu wajar saja dia mengambil langkah apa pun.

Marlina memilih untuk menghabisi nyawa orang-orang dengan memenggal kepala Markus yang memperkosanya.

Setelah itu, dia pun berencana melapor ke polisi sambil membawa kepala pemerkosanya.

Tentu tindakan itu memiliki konsekuensi, ada beban moral yang ditanggungnya karena telah membunuh orang, dalam perjalanan ke kantor polisi, bayangan tentang peristiwa pembunuhan tersebut terus menghantuinya.

Tetapi Marlina tak mau disalahkan atas apa yang dilakukannya, karena apa yang dia perbuat adalah bentuk pembelaan diri.

Sesampainya di kantor polisi, dia menitipkan kepala Markus di sebuah kedai, kemudian dia masuk ke dalam ruangan untuk melaporkan kejadian menimpa dirinya.

Bukan pelayanan yang baik yang dia dapatkan, para aparat tersebut malah sibuk dengan kegiatan rekreasi mereka sendiri, sementara Marlina terus menunggu.

Sewaktu dia melaporkan kejadian perampokan dan perkosaan, polisi yang bertugas terlihat tidak memiliki simpati sedikit pun terhadap apa yang menimpa Marlina, bahkan saat menyinggung masalah pemerkosaan, polisi malah bertanya "kenapa kau mau diperkosa oleh orang tua?".

Sebuah pertanyaan yang menyudutkan korban pemerkosaan.

Pertanyaan-pertanyaan yang cenderung menyudutkan korban pemerkosaan memang sering terjadi dalam penanganan kasus pemerkosaan, tak adanya pendekatan gender membuat korban merasa dipojokkan.

Bagi korban, menceritakan peristiwa nista tersebut saja sudah terasa sangat berat, apalagi ditambah pertanyaan-pertanyaan yang membuat korban tidak nyaman, belum lagi hukuman yang dijatuhkan kepada para pelaku masih cenderung ringan.

Diskriminasi tak hanya menimpa Marlina, temannya Novi (Dea Panendra) yang sudah mengandung selama 10 bulan namun tak juga melahirkan.

Kurangnya akses kesehatan dan informasi mengenai kehamilan membuat suami dan keluarganya menyalahkan dirinya karena anaknya tak kunjung lahir.

Suami Novi percaya, anak tersebut tak kunjung lahir karena sungsang akibat ibunya berselingkuh.

Sekeras apa pun Novi meyakinkan suaminya bahwa dia tidak berselingkuh dan anak yang dikandungnya tak sungsang, suaminya tetap tak percaya malah menghajar dan menyalahkan Novi.    

                Bukan "Koboi" biasa    

Sejak awal genre "Western" yang biasa ada di film koboi Amerika sudah terasa, dengan rasio layar lebar kamera menyoroti luasnya padang  savana Sumba yang kering, nuansa tersebut juga diperkuat dengan musik latar dengan warna yang sama.

Jika pahlawan dalam film koboi adalah laki-laki, dalam film yang telah diputar diberbagai festival film internasional tesebut, peran-peran heroik dan maskulin itu diambil alih oleh perempuan, yaitu Marlina dan Novi.

Meski sendirian Marlina berani melawan para perampok, Novi pun membela Marlina meski nyawa menjadi taruhannya.

Keberadaan kuda sebagai kendaraan pun tak luput dari film tersebut, Marlina dengan gagah berani mengendarai kuda Sumba sambil menenteng kepala Markus menuju kantor Polisi.

Pembicaraan-pembicaraan mengenai seks misalnya, yang biasa dilakukan oleh laki-laki, kali ini dibahas oleh Novi dan Marlina saat mereka sedang buang air kecil di padang rumput.

Meski demikian, film ini tidak kehilangan sentuhan Sumba-nya, Marlina adalah penganut Merapu yang merupakan kepercayaan lokal orang Sumba. Dalam ajaran Merapu, penganutnya memuja arwah para leluhur.

Tak ada narasi yang mengatakan bahwa dia adalah penganut Merapu namun kita dapat mengetahui dari cara mayat suaminya diperlakukan.

Mayat itu diawetkan dan posisinya didudukkan dengan tangan memangku dagu, persis seperti bayi yang masih berada di dalam rahim, kemudian mayat tersebut dibalut kain tenun ikat Sumba Timur.

Menurut kepercayaan mereka, kain ikat yang diwarna dengan pewarna alam memiliki zat kimia yang dapat membantu mengawetkan mayat.

Ciri khas sumba juga ditunjukkan dengan kalung berbentuk rahim yang digunakan Marlina, sebuah simbol perempuan dari tanah Sumba.

Minimalnya musik latar dalam film ini, juga membuat penonton mendengarkan derau angin, suara jangkring dan sunyinya Sumba.

Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak ini, tak hanya menyadarkan penonton betapa beratnya beban yang harus dialami oleh perempuan, tetapi juga memberikan tentang lanskap Sumba yang jarang terekspos dalam film Indonesia.
Pewarta :
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar