Memadamkan bara api di bawah kaki

id kebakran hutan,kebakaran lahan,pemadamana kebakaran lahan,bpbd,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara hari ini, pale

Petugas gabungan berusaha memadamkan kebakaran lahan gambut. (ANTARA)

Tanah yang didominasi gambut masih terasa hangat, bahkan panas saat diinjak meski telah menggunakan sepatu tebal
Rokan Hilir, Riau (ANTARA) - Dari pantauan udara, kawasan Mumugo di Rokan Hilir, Bangsal Aceh dan Medang Kampai di Dumai, Riau, tak lagi berapi. Menyisakan petak-petak lahan kecoklatan bekas terbakar yang berhasil dipadamkan.

Heli Bell 412 PK-DAS milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang melakukan patroli udara, terus terbang ke arah Pulau Rupat, Bengkalis.

Dari kota Dumai, pulau indah ini hanya dipisahkan selat. Kawasan ini sebelumnya terbakar hebat.

Heli sempat terbang rendah melihat kerja tim Manggala Agni yang masih bekerja di lokasi ini. Setelah itu heli berputar dan mendarat di Bandara Pinang Kampai, Dumai.

Dari sinilah perjalanan darat melihat kerja Manggala Agni dimulai.

Panas terasa terik dan aroma lahan terbakar begitu menyengat. Tanah yang didominasi gambut masih terasa hangat, bahkan panas saat diinjak meski telah menggunakan sepatu tebal.

Debunya seketika menyeruak memedihkan mata. Harus hati-hati saat melangkah karena masih menyisakan banyak bara di mana-mana.

Beberapa meter ke depan, lidah api terlihat menjilat. Menghanguskan pepohonan, rerumputan dan gambut di sekitarnya.

Di antara asap, debu pekat dan bara api di dalam gambut itu, empat pasukan Manggala Agni terus menerobos maju.

Batu Bintang, Dumai Barat, menjadi lokasi pertama yang dikunjungi pada Selasa (5/3) lalu. Berjarak hanya sekitar 45 menit dari bandara dan cukup berdekatan dengan pemukiman warga, tim Manggala Agni bagai berpacu dengan waktu dan cuaca.

Lokasi yang sulit dan tak bisa diakses kendaraan, memaksa tim Manggala Agni harus membawa seluruh peralatan dengan berjalan kaki.

Untuk mengakali stok air yang sangat terbatas, dibuatlah embung-embung air di lokasi terbakar. Luasnya sekitar 4x2 meter dengan kedalaman lebih kurang 8 meter.

Dari embung inilah selang dipasang, kemudian ditarik secara manual untuk memadamkan jilatan api dari jarak paling dekat.

Mereka harus sangat berhati-hati karena yang diinjak terkadang adalah api. Tim juga harus memperhatikan arah angin karena asap yang menyelimuti lokasi membuat jarak pandang begitu terbatas.

Terkadang angin bisa saja membuat jilatan api berputar mengelilingi mereka.

''Kalau lahan sudah terbakar begini, tak ada yang berani mengaku milik siapa. Pokoknya kalau sudah terbakar, jadi milik kami untuk segera dipadamkan,'' kata anggota Manggala Agni, Yanweli, dengan suara yang mulai parau.


Garda Terdepan

Mereka sudah bekerja memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak awal Januari, jauh sebelum Provinsi Riau menetapkan status siaga darurat.

Mereka menjadi garda terdepan tiap dilaporkan terjadi kebakaran yang mayoritas terjadi di lahan milik masyarakat.

Kekuatan Daops Dumai ada 60 orang. Area tugas mereka tidak hanya di Kota Dumai saja, namun juga sampai ke Kabupaten Bengkalis dan sebagian Kabupaten Rokan Hilir.

Hampir setiap hari pasukan Manggala Agni turun ke lokasi, mulai dari yang bisa diakses roda empat, roda dua, bahkan hanya dengan akses jalan kaki.

Mereka jauh dari pemberitaan karena terkadang bekerja di lokasi yang jauh dari penglihatan dan jangkauan. "Bagi kami tak masalah karena yang terpenting adalah titik api bisa segera dipadamkan,'' kata Jusman,  tokoh di jajaran pasukan anti karhutla.

Atas kerja keras seluruh anggota tim di lapangan, titik api skala besar di wilayah Daops Dumai, termasuk di Pulau Rupat yang sempat terbakar hebat, sudah berhasil dipadamkan. Tahapan saat ini adalah melakukan proses pendinginan.

Mayoritas yang terbakar adalah area lahan gambut yang memiliki keunikan. Di atas bisa saja tidak terlihat ada api, namun di bawahnya masih menyisakan bara menyala.

Maka proses pendinginan sebenarnya jauh lebih sulit dan berisiko daripada proses pemadaman. Bahkan butuh waktu hingga berminggu-minggu.

Tim pemadam harus memastikan api di bawah lahan gambut benar-benar padam. Karena selama proses pendinginan, bisa saja api tersembunyi di bawah kaki.

Proses pendinginan lainnya di wilayah Kota Dumai terletak di Jalan Meranti. Lokasi ini juga masih berdekatan dengan pemukiman warga dan titik api sudah berhasil dipadamkan.

Namun banyak titik yang masih menyisakan asap. Itu menandakan bahwa ada bara di bawah gambut yang berpotensi menjadi titik api jika dibiarkan.

Di sini tim Manggala Agni tidak membuat embung. Mereka memanfaatkan air dari parit di tepi jalan, lalu menyambung selang demi selang hingga masuk ke dalam area terbakar.

Lokasi cukup sulit karena tidak ada akses jalan. Kalau begini kondisinya, maka harus menebas semak belukar dan membuat jalan setapak lebih dulu agar selang air bisa masuk.


Bahan Kimia

Untuk membantu proses pemadaman dengan debit air yang sedikit, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membekali tim Manggala Agni (MA) di lapangan dengan zat adiktif. Bahan kimia ini akan dicampur dengan air dan disemburkan menggunakan alat pemadam bernama nozzle air.

Dengan alat ini air bercampur bahan kimia yang ramah lingkungan disemburkan dengan tiga posisi. Melintang, menyebar dan satu lagi dengan posisi seperti disuntikan ke dalam tanah atau lahan gambut.

Zat ini sangat membantu mempercepat proses pemadaman maupun pendinginan, karena menutup sumber oksigen api.

Siang mulai menyapa petang, namun tim Manggala Agni sebagai garda terdepan pemadam dari KLHK, masih belum kunjung terlihat akan pulang. Jusman mengatakan, mereka harus benar-benar memastikan bahwa semua titik api dan titik asap sudah padam atau paling tidak aman saat ditinggalkan.

Di Pulau Rupat, meski saat ini sudah tak ada titik api lagi, namun tim Manggala Agni masih melakukan proses pendinginan yang penuh risiko. Bahkan ada yang harus tinggal di lokasi sudah hampir satu bulan.

Akhirnya diputuskan sore itu juga menuju Rupat dan hanya bisa diakses menggunakan jalur darat. Diawali dengan menggunakan mobil selama lebih kurang satu jam baru sampai di pelabuhan.

Setelah mengantre dengan kendaraan warga lainnya, butuh waktu sekitar 30 menit untuk menyeberang menggunakan kapal roro dari Dumai ke Tanjung Kapal, Rupat.
 
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar