Enam anak punk dihadiahi cukur rambut gratis

id Anak punk,Punk,Musirawas

Sebelum  di serahkan  kepada pihak keluarganya, anak punk terlebih dahulu dicukur rambutnya, Jumat (10/8). (ANTARA News Sumsel/Marjamin/Erwin Matondang/18)

....ulah mereka ini sering meresahkan masyarakat, terutama para pedagang dan masyarakat yang lagi belanja di pasar Tugumulyo mereka meminta uang untuk makan....

Musi Rawas (ANTARA News Sumsel) - Sebanyak enam anak punk jalanan, diamakan satpol PP Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan karena dianggap kerap meresahkan masyarakat.

"Dalam razia rutin kami mengamakan enam anak punk,  ulah mereka ini sering meresahkan masyarakat, terutama para pedagang dan masyarakat yang lagi belanja di pasar Tugumulyo mereka meminta uang untuk makan," kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Pemkab Musi Rawas Syamsul Joko Karyono di Muara Beliti, Jumat.

Syamsul mengatakan, dari enam anak punk yang berhasil diamankan, dua diantara berasal dari Kabupaten Musi Rawas yakni Desa Wonosari Kecamatan Megang Sakti dan Kelurahan B Srikaton Kecamatan Tugumulyo.

Sedangkan dua diantaranya berasal dari Bengkulu dan juga Jambi. Mirisnya, satu diantaranya adalah seorang wanita yang baru berusia 15 tahun.

"Setelah diamankan keenam anak punk itu kami  data dan  membuat surat pernyataan untuk tidak datang dan berkumpul lagi di Kabupaten Mura. Kami berkoordinasi dengan dinas sosial untuk mengembalikan ke enam anak itu kepada orang tuanya masing-masing," terang dia.

Namun tambahnya, sebelum  di serahkan  kepada pihak keluarganya, anak punk tersebut terlebih dahulu dicukur rambutnya supaya lebih rapi.

"Sudah lama ingin kami tangkap, namun setelah dilakukan pencarian cuma enam yang tertangkap, mereka ini banyak sering kumpul di Gedung Dekranasda kalau siang hari berpencar," tutupnya.

Sementara itu seorang anak punk Rendi (15) berasal dari Desa Wonosari Kecamatan Megang Sakti mengaku dirinya bersama lima anak punk lainnya baru saja bebas dari rehabilitasi dari salah satu yayasan di Kota Lubuklinggau.

Bahkan sudah hampir lima tahun lebih dirinya melakoni hidup dijalanan dan bergabung dengan komunitas anak punk.

"Keluarga saya masih ada di Megang Sakti yang bekerja sebagai buruh. Saya hidup dijalan ini karena ingin bebas dan tidak ada yang mengatur," ungkap Rendi.

Ia juga mengaku baru keluar dari rehabilitasi setelah menjalani rehab selama empat bulan di Lubuklinggau. Awalnya ia langsung pulang kerumah, tapi karena ada tamu dari Bengkulu dan Jambi jadi ia langsung ke Tugumulyo untuk berkumpul. Tapi ia malah ditangkap oleh Satpol PP.

 

Pewarta :
Editor: Erwin Matondang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar