Trik Wali Kota Surabaya kuatkan keluarga korban ledakan bom

id wali kota surabaya, risma, datangi korban bom, cara, trik, surabaya,keluarga korban,bom,teroris

Dok.Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. (FOTO ANTARA)

Surabaya (ANTARA News Sumsel) - Serangan bom bunuh diri yang mengguncang tiga gereja di Kota Surabaya pada Minggu (13/5) dan kantor Polrestabes Surabaya pada Senin (14/5) membuat luka mendalam bagi seluruh masyarakat di Indonesia.

Tidak terkecuali bagi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma). Di sela-sela kesibukannya, ia bersama jajaran menyempatkan untuk mengunjungi keluarga korban ledakan bom untuk menguatkan para keluarga korban.

Pada Senin (14/5), sekitar pukul 15.00 WIB, Risma mendatangi rumah duka dari almarhum Aloysius Bayu Rendra Wardhana di Jalan Gubeng Kertajaya I Nomor 15A Surabaya.

Bayu merupakan salah satu korban meninggal dunia dari ledakan bom Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya.

Sosok Bayu menjadi perbincangan setelah sempat menghadang sepeda motor pelaku pengeboman di depan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela.

Atas tindakannya yang menghentikan sepeda motor yang dikendarai Yusuf Fadhil (18) beserta membonceng adik kandungnya Firman Hakim (16) sambil memangku bom rakitan, Bayu mampu menyelamatkan sekitar 500 jemaat Gereja SMTB yang sedang mengikuti akhir dari misa atau kebaktian rutin.

Aksi Bayu membuat laju sepeda motor Yusuf Fadhil terhenti dan langsung meledak di halaman gereja. Seketika itu pula, tubuh Bayu hancur bersama kedua pengendara dan pembonceng motor yang menabraknya.

Sesampainya di rumah duka, Risma menyampaikan rasa bela sungkawa kepada istri korban dan memberikan santunan kepada keluarga yang ditinggalkan.

"Mohon maaf kalau saya baru bisa datang ke sini, karena dari kemarin masih ada pekerjaan yang belum bisa ditinggalkan," kata Risma kepada istri korban Bayu, Monic Dwi.

Ia pun juga tak tega melihat anak yang ditinggalkan korban masih berusia balita. Ia lantas mengunggah istri korban dengan memberikan dorongan semangat agar tabah dan sabar dalam menjalani cobaan.

"Bapakmu pahlawan Nak. Kalau tidak ada bapakmu, mungkin korban yang jatuh di sana bisa jauh lebih banyak lagi," kata Risma kepada anak pertama almarhum Aloysius yang masih berusia 2,5 tahun saat digendong ibunya, Monic Dwi.

Wali kota perempuan pertama di Kota Surabaya ini langsung tidak kuasa menahan air matanya melihat masa depan kedua anak mendiang Bayu yang harus ditinggalkan sang ayah akibat tindakan dari para teroris.

Tak hanya berhenti sampai di sana, mantan Kepala Badan Pembangunan Daerah Kota Surabaya menciumi kedua anak suami dari Monic Dwi itu.

"Kamu harus bangga sama bapakmu, nanti kalau besar yang pinter ya," kata Risma kepada anak kedua yang baru berusia 10 bulan.

Risma lalu melanjutkan kunjungan ke keluarga korban ledakan bom lainnya. Ia mendatangi rumah duka Adi Jasa di Jalan Demak No. 90-92 Surabaya.

Ada sekitar enam orang yang menjadi korban ledakan bom bunuh diri disemayamkan secara bersamaan di rumah duka Adi Jasa Surabaya.

Adapun rinciannya korban ledakam bom yang meninggal dunia yakni Martha Djumani (54), kakak beradik Evan (11) dan Nathan (8), Sri Puji Astutik (60), Go Derbin Ariesta (66) dan Tee Suk Tjien (64).

Dia kemudian memberikan santuan kepada masing-masing keluarga yang ditinggalkan.

"Semua kita tanggung, tidak perlu khawatir. Nanti diurusi sama Dinas Kesehatan. Yang penting sekarang harus kuat," kata Risma saat mengunjungi ayah dari dua anak korban meninggal ledakan bom di Rumah Duka Adi Jasa.

Adapun kedua anak yang meninggal dunia saat ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) Surabaya adalah Vinsencius Evan umur 11 tahun dan Nathel berumur delapan tahun, warga Barata Jaya Surabaya.  

Evan meninggal dunia di lokasi kejadian, sedangkan Nathel sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Bedah Surabaya beberapa jam sebelum akhirnya meninggal pada Minggu (13/5) malam.

Ery yang merupakan bapak dari dua anak yang meninggal dunia tersebut mengucapakan terima kasih atas bantuan yang diberikan Pemerintah Kota Surabaya melalui Risma. "Saya kuat kok bu," katanya.

Risma mengatakan bantuan tersebut tidak hanya diberikan keluarga Ery saja, melainkan juga diberikan juga kepada keluarga korban meninggal atau korban luka-luka lainnya.  

"Jadi semua nanti pengobatan, proses pemakann dan lainnya ditangung pemkot. Keluarga tidak perlu khawatir. Tadi ada yang tanya, bagaimana untuk kontrol dan lainnya, kami bilang akan bantu selesaikan," katanya.

Ada tiga gereja yang terkena ledakan bom yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) di Jalan Ngagel,  GKI Jalan Diponegoro dan GPPS Jalan Arjuna pada Minggu (13/5) dan Polrestabes Surabaya, Senin (14/5) pagi. Aksi teror peledakan bom tersebut menewaskan sekitar 18 orang dan puluhan orang terluka.

    
              Kecam
Risma pun mengecam keras atas tindakan kejahatan berupa peledakan bom di sejumlah tempat di Surabaya yang dilakukan oleh orang tidak berprikemanusiaan tersebut.

"Saya tidak mau lagi ada korban, banyak tidak orang berdosa, apalagi banyak korbannya anak-anak. Ini sangat biadab sekali dan dzolim," katanya.

Untuk itu, Risma mengimbau dan mengajak seluruh warga Surabaya agar aktif membantu Pemkot Surabaya untuk ikut serta menjaga Kota Surabaya bersama-sama dan melaporkan setiap kejadian yang ada di sekitar, baik peristiwa maupun hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.

Menurutnya, sekecil apapun informasi yang diberikan oleh masyakarat, pastinya sangat membantu pemkot dan pihak kepolisian dalam mengantisipasi hal-hal negatif yang tidak diinginkan.

Risma berpesan agar warga Surabaya tetap tenang dalam situasi saat ini. Sebab, kata dia, jajaran mulai dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Polres dan TNI sepakat untuk lebih intens menjaga Surabaya baik dari sisi strategi baru sampai intensitas keamanan.

Hal sama juga dikatakan Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana.  Ia meminta kepada masyarakat tidak panik dengan tetap menjaga ketenangan namun selalu waspada, agar aktifitas warga tetap berjalan normal.

Tidak hanya itu, Politisi PDI Perjuangan ini juga menegaskan agar warga Kota Surabaya tetap tegar dan tidak merasa takut untuk menghadapi aksis teror, karena semakin diburunya para pelaku teroris oleh pihak keamanan justru semakin menambah kepanikan para teroris.

"Adanya ledakan terjadi lagi di Mapolresta Surabaya bukti teroris panik sehingga apa saja dibuat target bom bunuh diri," katanya.

Kepanikan para teroris lainnya, lanjut dia, dibuktikan dengan kejadian di Wonocolo, Taman, Sidoarjo, dimana bom telah meledak sebelum pelakunya melakukan bom bunuh diri di tempat umum.

Ia juga mengaku telah mengimbau seluruh kantor baik swasta maupun pemerintah untuk memperketat penjagaan di pintu masuk guna mengantisipasi aksi teror yang kemungkinan terjadi.

"Termasuk kantor kelurahan, kecamatan, dan Balai Kota Surabaya. Siapapun pun yang masuk agar diperiksa secara detail. Imbauan perketat keamanan pintu masuk perkantoran dan objek vital ini dalam waktu yang tidak ditentukan. Masih koordinasi terus dengan pihak kepolisian," katanya.
Pewarta :
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar