Kesehatan 6.0

id kesehatan,kesehatan 6.0,revolusi industri,teknologi kesehatan,reformasi kesehatan,berita palembang, berita sumsel

Kesehatan 6.0

Tenaga medis memeriksa kesehatan mata peserta operasi katarak di Graha Mantap, Jakarta, Rabu (24/1/2024). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/tom/am.

Dari perspektif dekonstruksi Derrida, era Kesehatan 6.0 memungkinkan kita untuk memikirkan kembali konsep-konsep dasar seperti 'kesehatan' dan 'penyakit'. Dekonstruksi, dengan fokusnya pada pembongkaran struktur linguistik dan konseptual yang kita anggap sebagai kebenaran tak terbantahkan, mengajak kita untuk mempertanyakan asumsi dasar kita tentang kesehatan.

Dalam era di mana teknologi dapat mendeteksi, memprediksi, dan bahkan mencegah kondisi kesehatan sebelum mereka manifestasikan secara fisik, batasan antara 'sehat' dan 'sakit' menjadi semakin fluid.

Teknologi, dalam hal ini, bukan hanya alat, tetapi juga mediator yang mengubah pemahaman kita tentang kesehatan dan penyakit, memaksa kita untuk mempertimbangkan ulang apa artinya hidup sehat dalam konteks yang terus berubah.

Dalam kerangka fenomenologi, yang menekankan pada pengalaman subjektif dan cara individu memaknai dunia mereka, era Kesehatan 6.0 menawarkan wawasan yang kaya tentang interaksi manusia-teknologi. Dengan mengintegrasikan teknologi dalam perawatan kesehatan, individu tidak hanya berinteraksi dengan alat, tetapi juga dengan representasi dan simulasi yang mengubah pengalaman subjektif mereka tentang kesehatan dan penyakit.

Fenomenologi memungkinkan kita untuk menjelajahi bagaimana realitas virtual, kecerdasan buatan, dan teknologi lainnya mempengaruhi cara kita merasakan dan memahami tubuh dan kesehatan kita.

Dalam konteks ini, pertanyaan tentang 'autentisitas' pengalaman kesehatan menjadi sentral, mengundang kita untuk mempertimbangkan bagaimana teknologi membentuk dan kadang-kadang menggantikan pengalaman kesehatan 'nyata' dengan versi yang dibuat dan dimediasi secara teknologi.

Sebagai hasilnya, kita dihadapkan pada tugas filosofis untuk menavigasi dunia di mana batasan antara nyata dan buatan tidak hanya kabur tetapi terus didefinisikan ulang oleh kemajuan teknologi.

Tantangan

Kesehatan 6.0 menjanjikan kemajuan besar, namun juga memerlukan perhatian khusus terhadap isu etika, kesetaraan akses, dan keamanan data. Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, implementasi teknologi ini harus disertai dengan upaya peningkatan infrastruktur, literasi digital, dan kebijakan kesehatan yang inklusif untuk memastikan bahwa semua lapisan masyarakat dapat memanfaatkan manfaatnya.

Dengan memadukan kemajuan teknologi dengan pemikiran kritis dan etika, Kesehatan 6.0 memiliki potensi untuk tidak hanya mengubah cara kita mendekati perawatan kesehatan, tetapi juga memperkuat kemanusiaan kita dalam prosesnya.

Penting untuk mempertimbangkan bagaimana teknologi Kesehatan 6.0 dapat diterapkan secara spesifik dalam konteks Indonesia dan negara berkembang lainnya, yang sering kali menghadapi tantangan unik seperti ketimpangan akses kesehatan, infrastruktur yang belum memadai, dan keterbatasan sumber daya.

Dalam menghadapi tantangan ini, teknologi seperti AI dan big data dapat berperan penting dalam meningkatkan sistem surveilans kesehatan publik. Misalnya, dengan menganalisis data dari berbagai sumber, AI dapat membantu dalam deteksi dini wabah penyakit, memungkinkan intervensi lebih cepat dan efektif.

Di Indonesia, dimana penyakit seperti demam berdarah dan malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, teknologi seperti ini bisa sangat bermanfaat.

Sel punca dan nanomedisin, walaupun masih di tahap awal pengembangannya di banyak negara berkembang, menawarkan harapan untuk pengobatan kondisi yang sebelumnya dianggap tidak dapat disembuhkan.

Dalam konteks ini, penting bagi negara-negara tersebut untuk berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan, serta dalam pembangunan kapasitas lokal untuk produksi teknologi kesehatan. Kemitraan dengan institusi global dan transfer teknologi juga dapat mempercepat adopsi dan adaptasi teknologi canggih ini.

Metaverse dan realitas virtual (VR) menawarkan potensi transformasional dalam pendidikan medis dan pelatihan tenaga kesehatan, yang merupakan area kunci untuk peningkatan kualitas perawatan kesehatan di negara berkembang.

Dengan menggunakan simulasi VR, tenaga kesehatan dapat memperoleh pengalaman praktik yang berharga tanpa risiko terhadap pasien, mengatasi salah satu hambatan besar dalam pendidikan medis di daerah-daerah dengan sumber daya terbatas.

Lebih lanjut, aplikasi blockchain dalam sistem kesehatan dapat membantu mengatasi masalah kepercayaan dan transparansi, yang sering menjadi kendala dalam pengelolaan data kesehatan di negara berkembang. Dengan memastikan integritas dan keamanan data, blockchain dapat memfasilitasi pertukaran informasi antar fasilitas kesehatan, meningkatkan koordinasi perawatan dan efisiensi sistem kesehatan secara keseluruhan.

Namun, implementasi teknologi ini tidak tanpa tantangan. Isu-isu seperti privasi data, etika dalam penggunaan AI, dan kesenjangan digital memerlukan perhatian serius. Dalam konteks filsafat, pertanyaan tentang bagaimana teknologi ini mengubah konsep identitas, tubuh, dan kesehatan manusia menjadi semakin relevan.

Apakah dengan kemajuan ini, kita mendekati era di mana batasan antara manusia dan mesin, nyata dan virtual, menjadi semakin kabur?

Untuk menghadapi tantangan ini, diperlukan dialog multidisiplin yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, komunitas akademik, dan masyarakat sipil. Kebijakan yang inklusif dan etis harus dibangun untuk memastikan bahwa teknologi Kesehatan 6.0 tidak hanya mendorong inovasi, tapi juga menjaga keadilan dan martabat manusia.

Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, kunci suksesnya adalah dalam keseimbangan antara adopsi teknologi dan pembangunan kapasitas lokal, memastikan bahwa setiap langkah maju dalam teknologi kesehatan juga merupakan langkah maju dalam keadilan kesehatan.

Dengan pendekatan yang berpusat pada manusia, Kesehatan 6.0 bisa menjadi kekuatan pemberdayaan, membawa kita semua menuju masa depan kesehatan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih inklusif.

*) Penulis adalah Dokter pengampu Telemedicine di SMAN 13 Semarang, pendidik di FKIK Unismuh Makassar, Kandidat Doktor IPCTRM TMU Taiwan, Ketua Komisi Kesehatan Ditlitka PPI Dunia, penulis buku profesional salah satu bukunya berjudul "The Art of Televasculobiomedicine 5.0", reviewer jurnal nasional dan internasional, trainer bersertifikasi BNSP)

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kesehatan 6.0