Heli pemadam Karhutla di Sumsel sudah tumpahkan 42 juta liter air

id Heli pembom air, 42 juta liter air, heli water bombing sumsel, karhutla sumsel, bpbd sumsel, asap palembang pemadaman ka

Heli pemadam Karhutla  di Sumsel sudah tumpahkan 42 juta liter air

Arsip-Heli pembom air. (ANTARA/Aziz Munajar/19)

Palembang (ANTARA) - Helikopter pembom air pemadam kebakaran hutan dan lahan sudah menumpahkan 42 juta liter air di Provinsi Sumatera Selatan sejak Juli 2019.

Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansori, Jumat, mengatakan 42 juta liter air tersebut ditumpahkan oleh tujuh unit helikopter yang telah menjatuhkan 380 kali bom air.

"Intensitas bom air mulai meningkat sejak akhir Agustus seiring peningkatan titik api," ujar Anshori kepada Antara.

Menurut dia saat ini heli pembom air mulai menghadapi masalah serius berupa mendangkalnya sumber air yang biasa digunakan untuk memadamkan karhutla, sehingga para pilot helikopter harus mencari sumber air yang lebih dalam agar terangkat oleh bucket air.

Selain itu, tidak semua helikopter pembom air dioperasikan setiap hari, dari tujuh helikopter yang ada hanya enam unit digunakan setiap hari, satu helikopter harus pemeliharaan secara bergantian.
Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansori, Jumat (20/9) (ANTARA/Aziz Munajar/19)


"Memang tidak bisa semuanya, sesuai ketentuan penerbangan harus ada yang pemeliharaan (maintenance)," tambahnya.

Sementara jumlah hotspot dalam pantauan LAPAN terus meningkat signifikan, kata dia, setidaknya selama rentang 1 Januari - 19 September 2019 sudah tercatat 6.416 hotspot.

Peningkatan terjadi signifikan pada Agustus sebanyak 1.308 hotspot dan September sebanyak 4.541, jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat karena masih banyak lahan yang terbakar.

"Hari ini saja terdeteksi 275 hotspot dengan tingkat kepercayaan 80 persen yang banyak tersebar di OKI dan Muba," demikian Anshori.


 
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar