Kezia Warouw senang seni budaya sejak kecil

id Kezia Warouw, putri indonesia,kesukaan putri indonesai 2018,seni indonesia,berita palembang,berita sumsel,Manado, Sulawesi Utara

Kezia Warouw (puteri-indonesia.com)

Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Kezia Warouw, Putri Indonesia 2016 yang tumbuh besar di Manado, Sulawesi Utara dan membacakan pusi dalam pementasan seni tari "Sipakainga" di Galeri Indonesia Kaya, mengaku dari kecil memang sudah senang dengan hal yang berbau seni dan budaya.

"Dari kecil saya memang sudah senang dengan seni dan budaya, pementasan ini merupakan hal yang menyenangkan bagi saya karena bisa membacakan pusi tentang asal di mana saya dibesarkan, kebetulan saya dibesarkan di Manado Sulawesi Utara," katanya.

Kezia yang sempat menanyakan puisi apa yang akan dibacananya itu, mengatakan bahwa ia membacakan dua puisi yang menceritakan tentang Sulawesi Selatan. Ia juga menyebutkan, persiapannya hanya satu minggu untuk membaca puisi itu.

"Sebelumnya saya menerima puisinya satu minggu sebelum pementasan, saya berfikir bahwa puisi ini tentang anak rantau yang keluar dari Sulawesi Selatan dan merindukan akan tanah kelahirannya.

"Dan yang puisi kedua bercerita tentang orang yang bergembira saat berduka, itu berasal dari Tanah Toraja, beberapa mungkin tahu yah ada yang diarak-arak mayatnya. Saya juga harus bisa memainkan mood nya nanti bagaimana," ujar Kezia.

Kezia sempat kesulitan untuk membacakan puisi dalam acara tersebut, ia mengakui banyak kata baru yang ditemui dalam puisi yang dibacakannya.

"Kesulitan dalam puisi "Sukmaku di Tanah Makasar" banyak kata-kata yang baru saya temui seperti pui-pui dan lainnya, ternyata pui-pui itu adalah alat musik, jadi nama alat musik yang dimainkan itu ada di puisi itu semua, kesulitan juga saat membacakan puisi dengan sesuai mood gitu sih," tambah Kezia.

Kezia sempat ragu membacakan puisi untuk yang pertama dalam pementasan seni tari, dengan harus mengikuti mood dari puisi tersebut.

"Kalau untuk pementasan seni tari untuk membacakan puisi, ini baru pertama kali, takut ada kata yang sulit dan asing, jadi saya ragu, aduh bisa nggak ya membacakan puisi ini?, ternyata benar saja banyak kata-kata yang asing," katanya.

"Sedangkan untuk puisi kedua itu juga aslinya bahasa Toraja, namun sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, jadi saya bisa tahu ketika sudah diartikan ternyata artinya ini," ungkap Kezia.

Wanita yang lahir di Jakarta ini dan dibesarkan di Menado, ini mempunyai pesan untuk generasi muda Indonesia agar selalu mencintai kebudayaan dan seni yang harus dijaga kelestariannya.

"Kalau bukan kita siapa lagi yang bisa mempertahankan budaya Indonesia, selain kita siapa lagi yang bisa menjaga peninggalan sejarah budaya dari pahlawan-pahlawan kita, selain kita siapa lagi yang akan meneruskan persatuan dan kesatuan Republik Indonesia, jadi, kalau bukan kita siapa lagi?," tambah Kezia.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar