Menyulap sisa songket menjadi sepatu cantik

id songket, kain songket, tenun songket, sepatu songket, nadina, nadin,menyulap songket,sepatu cantik

Nadina Salim merapikan sepatu di galerinya (ANTARA News Sumsel/Feny Selly/I016)

....Bahan kain untuk sepatu ini tidak butuh hingga bermeter-meter. Jadi bisa digunakan untuk pola sepatu nan elegan dengan harga yang tidak terlalu mahal....
Palembang (ANTARA News Sumsel) – Siapa yang tak kenal keindahan kain tenun songket Palembang bermotif khas daerah yang selama ini lebih banyak dikenakan sebagai sewet atau sarung atau dijahit sebagai pakaian.

Namun di tangan desainer Nadina Salim, songket Palembang ini lebih berkreasi dan inovatif menjadi sepatu cantik .

“Selama ini orang ragu membuat sepatu dari songket Palembang asli ini karena harga kainnya yang mahal,” ungkap Nadina lulusan seni rupa Universitas Negeri Jakarta ini.

Wanita dipanggil akrab Nadin ini mengaku memperoleh sisa-sisa songket dari para pengrajin  di kawasan 14 ulu Palembang untuk digunakan sebagai bahan sepatu rancangannya yang diberi merk SCHU (baca Shoe).

“Bahan kain untuk sepatu ini  tidak butuh hingga bermeter-meter.  Jadi bisa digunakan untuk pola sepatu nan elegan dengan harga yang tidak terlalu mahal,” kata wanita dua anak ini.

Desain sepatu yang ia buat kemudian diproses oleh pengrajin, karena keterbatasan pengrajin lokal, Nadina mempercayakan pembuatan sepatunya kepada pengrajin sepatu di Kota Kembang Bandung.

Ia juga menerima order desain sepatu songket costum atau desain khusus  yang menginginkan sepatu songket dengan warna tertentu.

“Biasanya untuk ini saya harus order dengan pengrajin untuk melebihkan  warna tertentu saat menenun songket," ungkap ibu rumah tangga ini.

Kreasi sepatu songket ini dilatarbelakangi keinginnanya  berinovasi agar tenun songket  dapat dipakai kalangan manapun.

Awal mula usaha ini, Nadina  bermodal Rp500.000 dan hanya memproduksi sepatu sesuai pesanan yang lebih banyak diperuntukkan untuk acara pernikahan dan acara lainnya.

Sepatu songket desainnya tersebut dijual dengan harga Rp450.000  hingga Rp 550.000  tergantung dari tingkat kesulitan dan bahan baku.  Harga ini tergolong cukup murah mengingat bahan baku songket yang utuh berharga hingga jutaan rupiah.

Jalur pemasaran produk yang ia pilih adalah melalui media sosial  dan berbagai pameran kerajinan. Peminat sepatunya tidak hanya di Sumsel tetapi juga dari Jawa dan kota lainnya.

Ia juga membuat galeri sepatu koleksinya di rumahnya di kawasan Kenten Permai Palembang.

Dengan memanfaatkan sisa tenun kain songket dan menyulap menjadi barang produktif diharapkan menjadi motivasi bagi perajin dan perempuan-perempuan lain seperti Nadin di Sumsel. Semoga. 

Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar