FIFPro desak musim dirampungkan ketimbang dibatalkan

id fifpro,jonas baer hoffmann,olahraga terdampak corona,liga inggris,liga spanyol,liga italia,liga prancis,liga jerman,liga

FIFPro desak musim dirampungkan  ketimbang dibatalkan

Suasana Carrow Road saat Liga Premier ditunda akibat kenaikan kasus positif virus corona di seluruh dunia, di Carrow Road, Norwich, Inggris, Sabtu (14/3/2020). ANTARA FOTO/Action Images via Reuters/Peter Cziborra/foc/cfo

Jakarta (ANTARA) - Serikat pesepak bola dunia, FIFPro, mendesak agar kompetisi sepak bola musim 2019/20 yang saat ini tengah ditangguhkan karena pandemi global virus corona agar dirampungkan ketimbang dibatalkan sama sekali.

Menyusul penundaan Euro dan Copa America ke tahun depan, menurut Sekretaris Jenderal FIFPro Jonas Baer-Hoffmann tak patut kompetisi musim 2019/20 dibatalkan.

"Semua pihak yang terlibat dalam sepak bola akan merugi jika pembatalan ditempuh. Bahkan mempertimbangkannya sebagai opsi bukanlah hal yang bertanggung jawab," kata Baer-Hoffmann sebagaimana dilansir Reuters, Rabu dini hari WIB.

"Jika kita semua punya waktu untuk merampungkan musim, itu harus dilakukan," ujarnya menambahkan.

Belakangan sejumlah klub mengemukakan wacana bahwa musim 2019/20 dibatalkan sama sekali dan dianggap tidak pernah terjadi, kendati sebelumnya ada opsi untuk merampungkan kompetisi hingga Agustus atau September.

Padahal, menurut Baer-Hoffmann ada beberapa contoh positif dari cara klub-klub menangani krisis yang dimunculkan akibat pandemi virus corona.

"Ada klub di Serbia yang secara sukarela membayarkan penuh gaji-gaji pemainnya hingga Juni dan di Kosta Rika tercapai kesepakatan kolektif untuk tetap membayarkan gaji," ujarnya.

Hanya saja, ada juga beberapa klub yang menggunakan krisis akibat pandemi corona sebagai alasan untuk memutus kontrak para pemainnya bahkan menempuh langkah menyatakan bangkrut agar tidak lagi dibebani tanggung jawab gaji maupun kewajiban finansial lainnya.

Baer-Hoffmann memuji langkah para pemain Juventus dan Barcelona memotong gaji mereka, tetapi ia menegaskan hal tersebut tidak bisa dijadikan alat untuk menekan klub-klub lain yang pondasi keuangannya lebih kecil.

"Kami menyarankan agar akal sehat dipakai ketika langkah-langkah tersebut ditempuh. Ada yang hanya menerima 300 hingga seribu euro sebulan, bagi mereka potongan gaji bukanlah persoalan sepele," tegasnya.

 
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar