Kota Palembang ternyata sudah kehilangan 221 anak sungai

id anak sungai musi,Sungai Musi,Leaving No One Behind,Seminar Nasional Hari Air Dunia,Sungai Kapuran

Warga menaiki perahu menyusuri genangan air di kawasan Jakabaring Palembang, Sumatera Selatan. (ANTARA /Nova Wahyudi)

Palembang (ANTARA) - Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) sudah kehilangan 221 anak sungai dari Sungai Musi dalam waktu kurang dari satu abad setelah lepas dari penjajahan.

Wali Kota Palembang, Harnojoyo di Palembang, Kamis, mengatakan, data dari Kementerian PUPR itu patut menjadi perhatian semua pihak untuk memunculkan kesadaran betapa negeri ini sudah mengabaikan air sebagai sumber kehidupan manusia.

“Menurut catatan sejarah, di zaman kolonial Belanda ada 316 anak sungai di Palembang, tapi kini yang tersisa hanya 95 anak sungai lagi. Ini belum satu abad kita merdeka,”ujarnya saat berbicara pada Seminar Nasional Hari Air Dunia 2019 dengan tema “Leaving No One Behind”.

Ia mengemukakan kondisi ini tak lain berkat masifnya aktifitas manusia yang tidak menghormati pentingnya air, di antaranya adanya penimbunan dan pembuangan sampah ke sungai.

Padahal, di zaman kolonial Belanda hanya terjadi satu kali penimbunan sungai yakni Sungai Kapuran pada 1753 untuk diubah menjadi jalan, yang kini menjadi Jalan Merdeka Palembang.

Lantas, Harnojoyo mengajukan pertanyaan, apa yang akan terjadi di Kota Palembang jika para pemimpin dan warganya tidak peduli pada pelestarian anak sungai.

“Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya Kota Palembang ke depannya nanti, kita semua bisa disalahkan generasi mendatang, yakni anak cucu yang kita sayangi,” tambahnya.

Untuk itu, sejak awal menapaki jejak sebagai pimpinan daerah, ia konsisten memperhatikan pelestarian sungai.

Salah satu program yang konsisten dilaksanakan hingga kini yakni gotong royong setiap hari Minggu membersihkan anak sungai, bahkan aturan ini sudah menjadi peraturan wali kota (perwako) yang mana setiap kecamatan dan kelurahan Kota Palembang wajib melaksanakannya.

Menurutnya, upaya ini merupakan cara efektif untuk mengubah perilaku masyarakat dalam memperlakukan sungai. Selama ini sungai dijadikan tempat sampah.

Kemudian, pemerintah membangun infrastruktur untuk mengatasi banjir di sejumlah tempat seperti proyek pompanisasi Sungai Bendung yang diperkirakan akan selesai pada Juli 2019, pompanisasi di Sungai Buah dan pengerukan Sungai Lambidaro.

Lalu, saat ini pemkot sedang mengajukan rencana pembangunan embung di atas lahan 100 hektare di kawasan Keramasan, Gandus yang nantinya dijadikan tempat cadangan air baku PDAM Tirta Musi.

“Kita sangat butuh embung ini, siapa yang bisa menjamin air Sungai Musi akan bisa dipakai terus. Suatu saat bisa jadi akan defisit seperti yang sempat terjadi di Sungai Mahakam,” kata dia.

Menurut Harnojoyo sangat penting pembangunan infrastruktur terkait penyediaan dan pengelolaan air ini karena air yang ada saat ini sejatinya merupakan hak generasi mendatang juga.
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar