Satelit Telkom-3R diperkirakan mengorbit 2016

id Satelit Telkom-3R, satelit, pemancar

Satelit Telkom-3R diperkirakan mengorbit 2016

Ilustrasi - (Foto Antarasumsel.com/Awi)

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Setelah Satelit Telkom-3 gagal mencapai orbit pada 7 Agustus 2012, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berkeinginan meluncurkan Satelit Telkom-3R pada 2016 sebagai investasi jangka panjang.

Menurut Direktur Utama Telkom Arief Yahya, Rabu, persiapan pembuatan Satelit Telkom-3R akan dimulai tahun depan. Diperkirakan tiga tahun kemudian, satelit tersebut baru dapat diluncurkan.

"Kita masih mempunyai hak menunjuk kembali pihak Rusia untuk mendesain satelit. Namun, kita juga punya opsi untuk bisa gunakan hak itu atau tidak," kata Arif usai Seremonial Penyerahan Klaim Asuransi Satelit Telkom-3 di kantor Kementerian BUMN di Jakarta.

Ia menyampaikan, apabila Telkom memilih opsi untuk tidak menggunakan desain Rusia dan membuka tender kepada pihak lain, maka perseroan dapat mendesain satelit sesuai dengan keinginannya, termasuk memilih slot peluncuran satelit serta cakupannya ("coverage").

"Sebab, untuk diluncurkannya satelit itu di slot berapa derajat serta 'coverage'-nya butuh desain khusus. Desain satelit membutuhkan waktu sekitar enam bulan," katanya.

Sebaliknya, menurut Arif, apabila Telkom menggunakan hak tersebut, maka dasain satelit sepenuhnya menjadi tanggungjawab dari ISS-Reshetnev Rusia, sehingga perseroan dapat menghemat waktu untuk mendesain satelit tersebut.

"Intinya, Telkom punya pilihan untuk memilih lagi Rusia atau 'open tender'," tandas Arief tanpa membeberkan tempat peluncuran Satelit Telkom-3R tersebut.

Ia mengatakan untuk kebutuhan Satelit Telkom-3R jangka pendek, perseroan dapat menyewanya kepada China dan Jepang. Namun, Telkom lebih memiliki satelit buatan China karena "foot string" berada di Indonesia.

Arief mencontohkan, satu satelit yang dimiliki Telkom mempunyai sekitar 24 "transponder". Artinya, Satelit Telkom-3R membutuhkan kurang lebih 42 "transponder". Biaya sewa satu transponder sekitar 1 juta dolar AS, sehingga 42 "transponder" membutuhkan dana sebesar 42 juta dolar AS.    

"Kalau kita sewa akan bertahap. Namun semuanya itu bergantung dengan kebutuhan," katanya.

Ia mengatakan satelit yang disewa tersebut akan disewa kembali kepada pihak lain, seperti misalnya perbankan.

(KR-SSB/M008)


Editor: Awi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar