Marsekal Syaugi pun menangisi "saudara-saudaranya"

id kabasarnas,basarnas,tim sar,Marsekal Syaugi

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) M Syaugie dan Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono saat jumpa pers terkait pesawat Lion Air JT610 yang dilaporkan hilang kontak di Kantor Pusat Basarnas, Jakarta, Senin (29/10/2018). (ANTARA/Dewanto Samodro)

Seorang Marsekal Madya TNI yang setara dengan letnan jenderal TNI, Syaugi tak mampu menahan keluarnya air mata setelah mendengar "1001" keluhan, kritik hingga kecaman terhadap proses pencarian pesawat udara Lion Air di Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018.

Dalam acara pertemuan yang dihadiri pula Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi serta sejumlah pimpinan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) serta Polri, dengan panjang lebar Syaugi bercerita tentang upaya pencaharian 189 penumpang pesawat milik pengusaha swasta yang seringkali dikritik masyarakat akibat mempunyai kebiasaan menerapkan jam karet.

Perwira tinggi TNI Angkatan Udara ini bercerita semula sekitar 850 orang telah dikerahkan untuk mencari ke-189 penumpang pesawat yang naas itu. Angka itu kini telah bertambah menjadi sekitar 1100 orang.

Syaugi sedikitpun tak ragu kemudian menyatakan tekadnya untuk terus mencari hingga ditemukannya para penumpang yang disebutnya sebagai " saudara-saudara saya".

Mendengar ucapan spontan dan tulus itu, para keluarga penumpang bertepuk tangan beberapa kali, sebagai tanda bahwa mereka memahami dan mendukung ucapann sang marsekal itu.


Air mata Syaugi

Rakyat Indonesia bisa dikatakan jarang sekali mlihat seorang pejabat tinggi apalagi dari kalangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) menitikkan air matanya di depan khalayak umum. Seorang lelaki biasanya enggan menangis atau mengeluarkan air matanya di depan orang lain, apalagi di muka orang banyak.

Akan tetapi, bisa diduga Syaugi tak kuat menahan rasa harunya setelah mendengar ratapan beberapa orang peserta pertemuan mengenai anggota keluarganya yang hilang di perairan Karawang yang kedalamannya 30 hingga 32 meter apalagi ditambah dengan tumpukan lumpur yang kian menebal.

Kritik beraneka ragam mulai dari sikap petugas yang menjengkelkan keluarga korban karena soal foto hingga sikap sombong atau arogan yang ditunjukkan pendiri Lion Air Rusdi Kirana yang kini menjadi Duta Besar Luar Biasa dan berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Malaysia.

Sekalipun sudah menyandang pangkat Marsekal Madya TNI, ternyata Syaugi adalah tetap seorang manusia biasa yang pasti tidak bisa menahan rasa haru atau sedihnya ketika mendengarkan ratapan kesedihan orang banyak.

Cepat atau lambat harus menyadari bahwa mereka kehilangan anggota keluarga yang sangat dicintainya mulai dari suami, istri anak hingga cucunya karena disana terdapat dua bayi.

Seorang bapak sampai mengecam sikap manajemen Lion Air yang belum pernah sekalipun menelepon diri atau keluarganya sehingga ulah itu mencerminkan tentang tidak adanya rasa empati atau menempatkan diri sebagai keluarga yang sedang dirundung kesedihan.

Karena itu, Marsekal Madya TNI Syaugi minta doa restu keluarga dan rakyat Indonesia agar pencarian para penumpang pesawat ini akhirnya benar- benar maksimal hasilnya.


Koruptor

Selama 11 bulan tahun 2018 ini, rakyat Indonesia sudah puluhan kali melihat ulah yang sangat memalukan yang dipertontonkan segelintir "oknum" pejabat negara yang memakan uang rakyat dan negara melalui tindakan melawan hukum,.

Setya Novanto yang merupakan mantan ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia serta juga mantan ketua umum DPP Partai Golkar akhirnya dihukum penjara 15 tahun akibat mencuri uang puluhan miliar rupiah dalam proyek raksasa pembuatan kartu tanda penduduk elektronik atau KTP-E yang bernilai triliunan rupiah.

Kemudian Idrus Marham yang harus mengundurkan diri dari jabatan menteri sosial karena telah disangkakan saat menjadi anggota DPR yang "terhormat" terlibat atau diduga keras ikut melakukan korupsi pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU- Riau I bersama anggota DPR lainnya Eni Saragih.

Sebelumnya beberapa tahun lalu, Irman Gusman yang sedang nikmat-nikmatnya menjadi ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) harus terjungkal dari "kursi empuknya" hanya gara-gara menerima segepok uang yang nilainya "cuma" Rp100 juta dari seorang pengusaha yang minta rekomendasinya supaya bisa ditunjuk Perum Bulog menjadi importir gula.

Kemudian di tingkatan yang agak "rendahan" Zumi Zola harus dinonaktifkan dari kursi "empuknya" sebagai gubernur Jambi karena disangkakan telah melakukan tindak pidana korupsi dan juga menerima gratifikasi alias sogokan. Kemudian ada juga kasus bupati Bekasi, Jawa Barat, Neneng Yasin yang dipergoki terlibat dalam kasus pembangunan kawasan industri Meikarta oleh kelompok bisnis raksasa Lipp0.

Jika, rakyat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) membandingkan "setumpuk" kasus korupsi dengan cucuran air mata Syaugi, maka kesimpulan apa yang harus ditarik?

Rakyat bisa menarik kesimpulan bahwa di satu pihak ada puluhan pejabat negara yang dengan teganya makan uang rakyat dan negara melalui korupsi. Di sisi lain, harus melihat tontonan yang mengharukan bahwa masih ada pejabat yang berusaha memperhatikan dan berempati terhadap kesedihan ratusan bahkan ribuan orang yang kehilangan orang- orang yang dikasihinya a atau dicintainya seperti Syaugi.

Ternyata masih ada seorang warga biasa yang kebetulan menjadi perwira tinggi TNI yang tak bisa menahan rasa sedihnya saat mendengar curhat atau curahan hati warga yang terpaksa kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya.

Karena pada 17 April 2019 akan berlangsung pemilihan anggota DPD RI, ditambah dengan DPR RI serta DPRD I dan II dan tak ketinggalan pemilihan presiden dan wakil presiden, maka semua orang tanpa pengecualian apa pun juga mulai dari capres, cawapres hingga calon wakil rakyat harus mampu menarik manfaat dari pelajaran berharga yang ditunjukkan Marsekal Madya TNi Syaugi.

Sekalipun Syaugi adalah orang biasa yang pasti tak akan bisa lepas dari kekurangan atau kekhilafan sebagai insan yang juga punya dosa atau kesalahan, sikap kesatria atau jantannya untuk menitikkan air mata di depan ratusan orang serta pasti disaksikan jutaan orang melalui televisi pasti amat patut untuk direnungkan atau diikuti.

Seorang pejabat tidak boleh malu-malu untuk menunjukkan simpatinya terhadap nasib rakyat Indonesia dan justru solidaritas pejabat terhadap warga yang sedang dirundung malang akan menambah rasa sayang warga terhadap orang yang sedang mendapat amanah.

 
Pewarta :
Editor: Erwin Matondang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar