Kebudayaan Kalbar dan Jakarta ramaikan Cap Go Meh

id Cap Go Meh,kebudayaan daerah,kemeriahan cap go meh,berita sumsel,berita palembang,Tanjidor,ondel-ondel,pawai To Khiau Sinshe, aksi Barongsai, Tanjidor

Arsip- Tatung Singkawang mengikuti karnaval perayaan Cap Go Meh. (ANTARA FOTO/Risky Andrianto)

Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Dua kebudayaan, yakni Tatung yang terkenal di Singkawang, Kalimantan Barat serta kesenian dari Betawi, seperti Tanjidor dan ondel-ondel turut ambil bagian meramaikan perayaan Cap Go Meh di Jakarta, Minggu (4/3).

Perayaan Cap Go Meh yang dilaksanakan di Mal Seasons City Jakarta ini menampilkan atraksi Tatung dan pawai To Khiau Sinshe, aksi Barongsai, Tanjidor, Ondel-ondel Betawi, Bakti Sosial Pengobatan Gratis oleh dokter dan Sinshe, upacara spiritual, hingga lelang barang sembahyang.

General Manager Seasons City Mualim WIjoyo, dalam rilisnya, mengatakan kegiatan tersebut merupakan inisiatif dan komitmen pusat perbelanjaan itu dalam melestarikan budaya dan mempererat persatuan masyarakat.

"Kami ingin menjaga kelestarian budaya di Indonesia yang begitu beragam dengan menghadirkan Tatung yang popular di Kalimantan Barat. Dengan kehadiran atraksi ini, kami mengajak masyarakat untuk sama-sama melestarikan khazanah kebudayaan Indonesia sehingga bisa terus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa," katanya.

Perayaan Cap Go Meh di Season City merupakan kegiatan yang rutin dilakukan dan pada tahun ini merupakan yang Keempat kalinya.

Dia mengatakan Tatung dipilih karena atraksi ekstrem tersebut belum banyak disaksikan oleh masyarakat, terutama waga Jakarta.

Atraksi Tatung kali ini diikuti oleh 100 Sinshe Tatung laki-laki dan perempuan yang melakukan aksi ekstrem seperti Debus yang terkenal di Banten.

Tatung sendiri merupakan atraksi di mana Sinshe akan dirasuki oleh roh dewa luhur leluhur atau kekuatan supranatural yang memungkinkan pelaku atraksi bisa melakukan hal ekstrem, seperti berdiri di atas tombak.

Mualim mengatakan, perayaan Cap Gomeh ini berbeda dengan perayaan di tempat lain karena digabung dengan kebudayaan Betawi yang membuat minat masyarakat Jakarta untuk menyaksikan acara ini.

"Cara itu kami lakukan untuk menunjukkan bahwa Indonesia itu benar-benar Bhinneka Tunggal Ika, budayanya beragam tapi tetap satu Indonesia. Kami berharap keberagaman ini bisa terus dijaga oleh masyarakat," ujar Mualim.
(TZ.J008/T. Susilo)
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar