Ditawari bantuan Bank Dunia, Luhut Pandjaitan minta bantu rehabilitasi mangrove

id Luhut binsar pandjaitan, rehabilitasi mangrove, mangrove, terumbu karang, maslaah lingkungan, kerusakan lingkungan, pele

Ditawari bantuan Bank Dunia, Luhut Pandjaitan minta bantu rehabilitasi mangrove

Dokumentasi. Kawasan hutan mangrove munjang di Desa Kurau Barat, Kabupaten Bangka Tengah. (babel.antaranews@com/ahmadi)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengaku mendapat banyak tawaran bantuan dari Bank Dunia dalam lawatannya ke Washington DC, Amerika Serikat, awal pekan ini.

Namun, dari banyak tawaran yang ia terima, Luhut mengaku hanya meminta Bank Dunia untuk ikut membantu Indonesia dalam program rehabilitasi mangrove yang akan dijalankan di 600 ribu hektare lahan dalam empat tahun ke depan.

"Bank Dunia tawarkan banyak sekali bantuan, tapi saya katakan kita cukup. Mereka bilang, 'Kami siapkan budget untuk vaksin', saya bilang kita cukup. Sampai mereka tanya bisa apa yang bisa dibantu, saya bilang, 'Kalian bantu kami di mangrove saja. Kami punya program 600 ribu hektare replanting program dan itu adalah the largest mangrove replanting program in the world (program penanaman kembali mangrove terbesar di dunia)," jelasnya dalam webinar yang digelar UGM di Jakarta, Selasa.

Selain menunjukkan minat pada program mangrove, Luhut menyebut Bank Dunia juga ingin ikut berpartisipasi dalam program rehabilitasi terumbu karang. Namun, Luhut dengan tegas mengingatkan bahwa program-program tersebut dibuat demi masa depan generasi Indonesia.

"Jadi kami tidak sekadar hanya untuk menyenangkan kalian. Jadi kalian juga jangan mereka kami ini harus men-service (melayani) kalian ya. Yang pertama (jadi perhatian) adalah generasi yang akan datang. Saya kira message (pesan) itu very clear (sangat jelas)," katanya saat menceritakan hasil pertemuannya dengan Bank Dunia.

Ia juga mengatakan agar dunia tak perlu menceramahi Indonesia soal masalah lingkungan seakan Indonesia dianggap sebagai negara yang tidak disiplin atau kurang memperhatikan masalah lingkungan.

"Jadi saya bilang, kalian enggak usah lecturing (menceramahi) kami mengenai masalah lingkungan. Karena saya beri contoh, tahun 2015 saya tangani kebakaran hutan itu ada 2 juta ha yang terbakar. Tapi Amerika terbakar 4 jt ha, Australia 6 jt ha, dan kalian enggak pernah ribut. Jadi diplomasi itu straight forward (tegas) tetapi dengan humble tone (nada rendah hati)," pungkas Luhut.

 
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar