Dinas Perikanan Sumsel cegah penangkapan ikan ilegal

id perikanan, cegah tangkap ikan secara ielgal, ielgal fishing, penangkapan ikan secara ilegalperlu dihentikan , perikana

Dinas Perikanan Sumsel cegah  penangkapan ikan ilegal

Sejumlah ABK yang ditangkap terkait dengan aktivitas penangkapan ikan ilegal oleh kapal perikanan asing di kawasan perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia. ANTARA/HO Dokumentasi Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Palembang (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Selatan berupaya melakukan pencegahan penangkapan ikan secara ilegal di laut dan sungai dengan meningkatkan pengawasan.

"Penangkapan ikan secara ilegal dapat mengakibatkan sumberdaya laut dan sungai seperti ikan kn mengalami deplesi atau penyusutan dan kerusakan ekosistem," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumsel, Widada Krisna di Palembang, Senin.

Penangkapan ikan yang dilakukan menggunakan alat dan bahan yang dilarang seperti pukat harimau, bahan kimia dan menyetrum perlu diberantas bersama.

Penggunaan bahan-bahan kimia dan alat berbahaya yang tidak ramah lingkungan akan membunuh biota laut dan sungai, serta ikan-ikan yang seharusnya tidak untuk ditangkap ikut mati akibat penggunaan alat dan bahan tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan.

Untuk mencegah dan memberantas kegiatan penangkapan ikan secara ilegal itu, pihaknya mengajak semua pihak dan lapisan masyarakat berpartisipasi melakukan pengawasan dan melaporkan kepada pihaknya dan aparat keamanan jika mengetahui adanya sesorang atau sekelompok tertentu melakukan kegiatan melanggar hukum itu.

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, pihaknya berupaya membentuk kelompok masyarakat pengawasan kegiatan penangkapan ikan dan melakukan kegiatan sosialisasi dampak buruk kegiatan penangkapan ikan secara ilegal.

Melalui upaya tersebut diharapkan keberlangsungan sumberdaya perikanan dapat dipertahankan dan dapat dicegah penyusutan produkis serta kerusakan ekosistem laut dan sungai di provinsi dengan 17 kabupaten dan kota itu, ujar dia pula.
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar