Kiprah para komika membawa Indonesia kian jenaka

id dunia komedi, komika,stand up comedy,cak lontong, kiky saputri

Kiprah para komika membawa Indonesia kian jenaka

Arsip. Komika Arie Kriting di Jakarta, Kamis (12/12/2019). ANTARA News/Maria Cicilia Galuh

JAKARTA (ANTARA) - Humor merupakan hiburan yang paling bisa diterima oleh semua kalangan. Di panggung stand up comedy, misalnya, humor menjadi media kritik yang menggelitik karena dikemas secara cerdas biar pun itu acap sarkas.

Kehadiran para komika muda bertalenta itu setidaknya memperbaiki selera canda kita. Semoga juga menyembuhkan para penderita kelainan humor.

“Humor adalah sesuatu yang menyebabkan rasa geli di otak dan tertawa adalah cara untuk menggaruknya”, (Wasson, 1926).

Hampir di sepanjang zaman, humor menjadi komoditas hiburan ramai peminat. Kecuali pada masa Aristoteles hingga Plato (384-348 SM) yang memandang miring humor. Kala itu humor digunakan untuk menunjukkan rasa superior seseorang dengan menertawakan orang lain karena kebodohan dan kekonyolannya sehingga dianggap amoral.

Setelahnya, pengertian humor belum juga memperoleh pandangan positif terutama pada gaya canda agresif. Pada abad ke-18, barulah para filsuf humanis dan moralis mengartikan humor lebih bersifat sosial. Lantas humor dirujuk sebagai hal-hal menghibur yang bersifat simpatik, toleran, dan penuh kebajikan terhadap ketidaksempurnaan dunia dan kelemahan sifat manusia.

Jurnalis yang juga novelis Inggris kelahiran Hongaria, Arthur Koestler, dalam buku The Act of Creation, membagi kreativitas manusia ke dalam tiga wilayah, yakni humor, pengetahuan, dan seni. Seni membuat orang takjub, ilmu pengetahuan membuat orang paham, dan humor membuat orang tertawa.

Meski berbeda fungsi, ketiga unsur itu posisinya sederajat, selain karena batasannya sering tumpang tindih, ketiganya bisa tampil pada saat bersamaan. Namun masih banyak orang belum memahami hal ini.

Dalam humor terkandung aspek psikologi, antropologi, dan sastra sehingga humor menjadi objek yang menarik untuk diteliti. Indonesia memiliki The Library of Humor Studies yang didirikan Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3). Perpustakaan humor yang terletak di Menara DDTC di Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, itu merupakan pusat kajian humor pertama di Tanah Air.

The Library of Humor Studies memajang lebih dari 2.000 buku tentang kajian komedi. Sebagian besar dari buku-buku itu merupakan koleksi pribadi tiga pendiri IHIK3, yakni Danny Septriadi, Seno Gumira Ajidarma, dan Darminto M. Sudarmo. Danny dan Seno adalah akademikus dan peneliti kartun, humor, serta komedi di Indonesia. Adapun Darminto adalah pendiri Kelompok Kartunis Kaliwungu, yang juga mantan pemimpin redaksi majalah HumOr, majalah dwimingguan yang beredar di pasaran selama 17 tahu (1980-1997).

Untuk mengundang minat masyarakat mempelajari humor dan agar Indonesia lebih jenaka, IHIK3 giat menggelar diskusi di gedung perpustakaan humor itu maupun datang ke sekolah dan kampus-kampus.

 

Pesona komika

Di Indonesia, jagat kelakar terus berkembang dengan putaran tren setiap dekade. Pada era 80-an diwarnai dengan guyonan khas grup lawak Srimulat. Kemudian Warkop DKI hadir menguasai pasar humor pada dekade 90-an, yang sampai sekarang film-film lama mereka masih sering diputar ulang oleh sejumlah stasiun televisi nasional.

Pada awal 2000-an, format kelompok komedi juga masih ada di televisi. Grup tersebut antara lain adalah Cagur, Bajaj, Patrio, Bagito, serta lainnya. Nama grup yang terakhir ini cukup mencerahkan panggung humor masa itu berkat lawakan kritis nan cerdas.