Kiprah para komika membawa Indonesia kian jenaka

id dunia komedi, komika,stand up comedy,cak lontong, kiky saputri

Kiprah para komika membawa Indonesia kian jenaka

Arsip. Komika Arie Kriting di Jakarta, Kamis (12/12/2019). ANTARA News/Maria Cicilia Galuh

Dan dalam satu dekade terakhir, dunia komedi di Indonesia diramaikan oleh kehadiran format lawak yang berbeda, yaitu stand up comedy atau komedi tunggal, dengan penampil yang kemudian disebut sebagai komika.

Para komika biasanya mengemas kegelisahan pribadi ke dalam materi komedi yang mereka usung ke atas panggung. Kegelisahan itu bisa berasal dari situasi politik nasional, fenomena gaya perkotaan, atau mengolok-olok ketertinggalan peradaban.

Komika sebagai komedian masa kini hadir menyegarkan panggung hiburan karena menawarkan bahan lawakan yang lebih bernutrisi: sarat kritik dan pesan moral. Berbagai ajang kompetisi stand up comedy di sejumlah stasiun televisi akhirnya melahirkan komika-komika muda bertalenta. Mereka menekuni profesinya dengan modal kecerdasan dan wawasan, menyiapkan penampilan dengan riset dan materi yang matang.

Komika-komika ternama telah sukses membangun pesonanya masing-masing yang menjadi karakter, ciri dan nilai jual mereka. Sebutlah Dodit Mulyanto yang menggemaskan dengan pesona cupunya, lalu ada Marshel Widianto yang menggelikan dengan pesona miskin, dan Mongol Stres yang kerap menjadikan agama sebagai modal lelucon namun tidak sampai melanggar "batas". Dari wilayah timur hadir Arie Kriting yang biasa meledek kebiasaan khas di sejumlah daerah luar Jawa untuk mengemas isu ketertinggalan.

Dalam deret komika terkemuka ada nama Cak Lontong yang menjadi langganan para pejabat. Humor cerdas Ir. Lies Hartono, lulusan Teknik Elektro ITS Surabaya, itu mengantarkannya ke panggung-panggung acara partai politik dan pemerintahan. Si ahli silogisme ini kadang membuat audiens terlambat tertawa karena lawakan absurdnya perlu dicerna otak sejenak, sejurus kemudian mereka baru terbahak-bahak.

Satu nama lagi yang tak boleh luput dalam pembahasan profil komika Indonesia adalah Kiky Saputri, si ahli mempermalukan yang telah putus urat takutnya. Perempuan mungil itu tak segan-segan “menelanjangi” objek roasting yang berada di panggungnya. Para politikus dan pejabat adalah sasaran empuk untuk memuaskan hasrat mencelanya. Meski demikian para subjek sasaran rata-rata tidak murka karena memang sang komika melontarkannya dalam gaya canda (yang cerdas dan sarkas).

Kehadiran para komika muda bertalenta di panggung hiburan Tanah Air perlahan mampu menggeser model dagelan slapstick, receh redundant yang hanya mengandalkan aksi panggung dan bukan esensi pesan moral.

 

Kelainan humor

Walau menghibur, humor tak selalu mendapat tempat terhormat jika tidak mengindahkan adab, norma, tatanan sosial, atau menghina kecerdasan makhluk paling sempurna di dunia. Berikut beberapa jenis humor yang dapat digolongkan sebagai kelainan.

- Julukan merendahkan. Di sekolah, kampus, atau kantor terkesan lumrah ketika seseorang memanggil teman atau rekan kerja dengan berbagai julukan yang merujuk pada kondisi fisiknya. Semisal “si gendut”, “cungkring”, “kriting”, bahkan nama aneka satwa turut disematkan sebagai panggilan akrab. Memang maksudnya sebagai candaan, namun olokan yang berkonotasi merendahkan tentu bukan hal yang baik untuk menjadi kebiasaan dan dianggap tak masalah.

- Candaan berbahaya. Kasus orang mengalami celaka karena bercanda sudah tak terhitung jumlahnya. Salah satunya oknum polisi di Sumba Barat NTT Briptu ER, tanpa sengaja menembak warga sipil yang merupakan temannya sendiri. Korban bernama Ferdinandus Lango Bili awalnya bercanda dengan mengacungkan sebilah pisau menantang tersangka untuk menembak dirinya. ER membalas tantangan korban dengan menarik pistol dari saku celana, dan dengan maksud bercanda pula, ia menembakkan senjata laras pendeknya yang ternyata benar-benar meletus dan menewaskan korban.

Contoh lain dari horseplay, seperti aksi iseng menarik kursi yang hendak diduduki teman. Korban yang jatuh terduduk dapat mengalami kelumpuhan, dan itu sudah banyak terjadi. Atau teman yang sedang berulang tahun dikerjai habis-habisan sampai diceburkan ke kolam di tengah malam yang dingin. Semua aksi bercanda yang keterlaluan bisa berakibat fatal bagi korban.

- Prank. Atau lelucon praktikal kadang diterapkan untuk hal-hal yang tidak pantas. Dulu pernah ada Youtuber di Bandung yang menuai kecaman gara-gara mengerjai seorang transgender (waria) dengan memberikan kardus sumbangan sembako tapi berisi batu bata dan sampah. Kasus prank lain yang juga dikecam banyak orang adalah menirukan adegan KDRT yang menimpa pasangan selebritas.

- Canda membawa karma. Perkataan adalah doa, maka berucaplah yang baik karena Tuhan Maha Mendengar. Di media sosial saat ini tengah ramai menggunjingkan kasus warganet yang bercanda berlebihan lalu menjadi karma di kemudian hari.

Ada yang berkata: “Aku pengin opname di RS karena makanannya enak-enak”. Keesokan harinya dia benar-benar dirawat di rumah sakit karena kecelakaan.

Pada kasus lain, seorang pria yang tengah jalan-jalan dengan kekasihnya, bergurau dengan berjalan terseok-seok menirukan cara jalan orang pincang. Setahun kemudian (2023) pria tersebut berjalan pincang menggunakan tongkat akibat kecelakaan yang dialaminya.

- Humor receh. Selera humor berkaitan dengan tingkat kecerdasan seseorang. Maka pelawak atau komedian yang menyuguhkan lelucon receh dan audiens yang terbahak-bahak oleh sesuatu yang tidak lucu, bisa jadi merupakan kelainan.

- Terkait penyakit. Penelitian tim ahli University College London yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer mengungkap bahwa selera humor yang datar alias kurang lucu merupakan tanda-tanda awal penyakit demensia. Dalam tingkat yang lebih parah, calon penderita demensia lebih menyukai komedi yang gelap dan tidak normal. Ternyata, gejala demensia tidak melulu kepikunan tetapi juga pergeseran selera humor.

 

Strategi koping

Laughter is the best medicine, sebab saat tertawa tubuh akan melepas hormon endorfin yang bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik. Perspektif lucu dalam menghadapi kesulitan dapat meringankan segala beban dalam kehidupan.

Bahagia itu hanya persoalan perspektif, apa pun kondisinya bila seseorang memiliki cara pandang dan cara memilih rasa yang positif, dia tidak punya waktu untuk meratap. Pada tingkat ahli, bahkan seseorang mampu menertawakan kenestapaan yang menimpanya.

Bisa berdamai dengan kenyataan pahit serta mengubahnya menjadi lelucon adalah kemampuan yang tidak mudah.

Orang dengan rasa humor yang tinggi kemungkinan lebih mampu mengatasi tekanan hidup, lebih cair dalam bersosialisasi, dan koping terhadap penyakit yang dideritanya.

Jadi, perbanyaklah tertawa agar hidup terasa ringan dan menyenangkan. Untuk menghadirkan banyak tawa, sekarang ini panggung komedi digelar di mana-mana. Bisa jadi, itu pertanda bangsa Indonesia kian jenaka.