Pawai kerbau semarakkan festival seni multatuli

id festival Seni Multatuli,pawai banten,budaya banten,berita sumsel,berita palembang,pawai kerbu

Kerbau. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Lebak (ANTARA News Sumsel) - Pawai kerbau yang dilaksanakan pada Minggu pagi menyemarakkan Festival Seni Multatuli di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Sejak pukul 08.00 WIB rombongan pawai yang terdiri atasi 20 petani yang menuntun kerbau dan bertelanjang kaki berjalan dari Aweh menuju Jalan Multatuli dengan pemberhentian terakhir di alun-alun Rangkasbitung.

Setiap kerbau digiring oleh dua orang, ada juga pemilik yang menunggangi kerbaunya. Kerbau-kerbau itu juga dihiasi berbagai ornamen, mulai hiasan kepala hingga ke punggung.

Para peserta berdandansebagai penggembala, dengan busana setelan warna hitam, topi fedora serta selempang bewarna ungu. Ada pula yang yang membawa suling dan dimainkan sepanjang pawai.

Kerbau-kerbau tersebut berasal dari lima desa di Kecamatan Cikulur, yaitu dari Desa Curug Panjang, Muncang Kopong, Aman Jaya, Muara Dua dan Anggalan.

Pawai tersebut menarik perhatian warga sekitar, anak-anak kecil berlari mengejar kerbau, ada juga yang mencoba memegangi hewan mamalia tersebut.

Sesampainya di Alun-alun ada 20 pelukis yang akan menggambar kerbau-kerbau tersebut dengan perspektif mereka masing-masing.

Selama proses melukis, masyarakat terlihat dengan antusias dan mengerubuti pelukis-pelukis tersebut.

"Kalau dulu kerbau digunakan untuk membajak sawah, sekarang pertanian sudah memakai alat. Maka kerbau dijadikan sebagai modal hidup masyarakat," kata pserta.

Dia mengatakan kalau di desa, banyak masyarakat yang mungkin rumahnya kecil, tetapi punya kerbaunya banyak. Hal itu karena kerbau punya nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat.

Jika mereka butuh dana, misalnya untuk biaya sekolah anak, mereka akan menjual kerbau tersebut.

Pawai kerbau ini baru pertama kali diselenggarakan untuk memeriahkan Festival Seni Multatuli, namun biasanya warga Lebak juga memiliki satu festival khusus untuk kerbau yaitu festival Patok.

"Festival Patok adalah kontes kegagahan kerbau, jadi di sana kita akan melihat kerbau yang gagah-gagah. Diadakan dua tahun sekali," kata Iti.

Sementara itu salah satu pemilik kerbau Abah Bachrudin mengatakan biasa digunakan untuk kerja sawah, diternakkan dan dikonsumsi.

Kerbau juga sudah menjadi tradisi masyarakat Lebak, dalam sejarahnya bahkan disebut "Dewa Dunia" karena banyak manfaatnya dan dapat digunakan dala, banyak hal.

"Untuk membajak kuat, dagingnya juga enak," kata dia.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar