Siswa dengan gangguan pendengaran lihai menari Bali

id tari bali,anak kekurangan pendengaran,siswa slb,berita sumsel,berita palembang,berita antara,Rina Jayani

Siswi Sekolah Inklusi Aluna menarikan tari pendet Bali dalam rangka pembukaan acara kampanye Lautku Bersih di Car Free Day Jakarta, Minggu (13/5). (ANTARA/Aditya Ramadhan)

Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Para siswi dengan gangguan pendengaran dari Sekolah Inklusi Aluna lihai menarikan tari pendet dari Bali dalam rangka pembukaan acara kampanye Lautku Bersih di kawasan "Car Free Day" Jakarta, Minggu.

Sebanyak lima dari enam penari tersebut merupakan murid dengan gangguan pendengaran di Sekolah Aluna yang merupakan sekolah inklusi berbasis montessori.

Enam penari bernama Embun, Tiara, Salsa, Marsya, Rara, dan Sasi merupakan gabungan dari siswa kelas 1 dan kelas 3 SD Sekolah Aluna.

Kendati memiliki gangguan pada indra pendengaran, para penari dengan gemulai berlenggak-lenggok menari mengikuti irama musik.

Pelatih tari yang juga salah satu orang tua murid, Della Novianti menjelaskan siswi dengan keterbatasan pada pendengaran tersebut menggunakan alat bantu dengar (ABD) dan operasi Cochlear Implan (CI) atau biasa disebut dengan implan koklea sehingga bisa mendengar irama musik.

Meski demikian dibutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi bagi mereka untuk menyelaraskan gerakan dan musik secara bersamaan, kata Della.

Dia menjelaskan mengajarkan tari pendet pada anak dengan gangguan pendengaran memang lebih sulit. "Tapi sebenarnya meskipun mereka tidak seperti anak reguler lainnya, mereka justru memiliki kelebihan visual. Itu sangat membantu mereka untuk menghafal gerakan," kata Della.

Dia menyebutkan dibutuhkan waktu satu bulan untuk menyiapkan tiga kali pementasan.

Della mengungkapkan salah satu cara agar para siswi inklusi dapat menghafal gerakan ialah dengan memperdengarkan musik dan juga memperlihatkan video tarian. Hal ini dilakukan agar anak lebih memahami dengan cara konkret lebih dulu.

"Jika mereka sudah terbiasa dengan musiknya, mereka akan lebih peka terhadap ketukan sehingga mudah untuk mengingat gerakan," lanjut Della.

Selain tari pendet, murid Sekolah Aluna juga mempersembahkan pertunjukan musik angklung yang dibawakan oleh murid kelas 1 SD dengan memainkan lagu Kapal Api.

Salah satu guru Sekolah Aluna Emma Kristanti menyebut bahwa angklung adalah salah satu alat musik yang lebih mudah dimainkan oleh anak dengan gangguan pendengaran.

"Anak-anak dengan ABD dan CI lebih mudah memainkan angklung karena terdiri dari notasi satu per satu yang bisa dimaikan secara bergantian. Jadi setiap anak hanya fokus pada notasi bagian mereka saja. Kelebihan visual mereka justru membuat mereka lebih fokus melihat notasi yang kita siapkan," kata Emma.

Untuk satu lagu dibutuhkan sedikitnya empat kali latihan sebelum pementasan.

"Kami biasanya memulai latihan dengan mengenal lagu itu sendiri. Kami nyanyikan berulang-ulang kemudian kami baca dengan notasi angka do re mi fa sol agar anak lebih mudah hapal dan paham. Sejauh ini cara tersebut jauh lebih membantu dibanding anak langsung memainkan notasi secara bergantian. Biarkan mereka memahami lagunya lebih dulu," lanjut Emma.

Dia menyebutkan ajang pementasan ini bukan hanya untuk sekadar tampil tetapi juga bisa menjadi media anak-anak dengan gangguan pendengaran dalam bereksplorasi dan semakin menumbuhkan kepercayaan diri.

Kepala Sekolah Aluna Rina Jayani mengatakan anak-anak dengan ABD maupun CI perlu mendapat panggung yang sama di lingkungan.

"Ini menjadi sarana anak-anak untuk belajar. Baik itu soal budaya, kekompakan, interaksi sosial dengan lingkungan baru dan yang terpenting mereka semakin percaya diri. Mereka semakin berkembang dan yakin bahwa dirinya bisa, sama dengan anak lainnya," kata Rina.

Lebih dari itu, Rina berharap hal ini juga menjadi edukasi untuk masyarakat. "Banyak masyarakat yang belum tahu soal implan koklea dan anak-anak dengan CI bisa loh berkembang dan berkegiatan sama seperti anak lainnya," katanya.

Salah satu penari dengan implan koklea Salsa merasa sangat senang atas penampilannya yang diapresiasi oleh publik.

"Aku senang sekali bisa menari di sini. Sangat ramai dan semua betepuk tangan. Aku dan teman-teman sangat senang, kami bisa," seru Salsa bersemangat disertai senyum manisnya.
 
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar