Palembang (ANTARA Sumsel) - Luas areal perkebunan sawit Sumatera Selatan secara keseluruhan bakal tersusul Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur karena sejumlah perusahaan nasional gencar berekspansi di dua provinsi itu dalam beberapa tahun terakhir.
"Saat ini luas lahan sawit di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan masing-masing sudah menembus 600 ribu hektare, sementara Sumsel sendiri yang mulai membuka perkebunan sejak tahun 1981 malah baru menembus satu juta hektare," kata Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel Safar Bahri di Palembang, Kamis.
Ketika ditanya mengenai kondisi perkebunan sawit Sumsel, menurut dia, keadaan itu disebabkan sejumlah investor yang biasa menanamkan modal di Sumsel juga melirik potensi lahan sawit di Kaltim dan Kalsel dalam beberapa tahun terakhir.
Sehingga dalam rentan lima tahun terjadi perubahan signifikan dalam total luas lahan di dua provinsi itu. Sumsel pun harus bersiap tersusul produksi minyak sawit mentahnya (CPO).
"Bisa dikatakan trennya sedang beralih ke Kalimatan, dan hal ini lumrah saja karena sebuah perusahaan memiliki orientasi bisnis. Artinya suatu ekspansi harus dilakukan, sehingga tidak sebatas menggarap Jambi dan Sumsel saja," katanya.
Meski kalah dari sisi ekspansi lahan, namun ia menilai Sumsel juga melakukan perluasan lahan dalam lima tahun terakhir.
Sejumlah perusahaan swasta melakukan penambahan luas areal perkebunan sawit inti dan plasma (milik rakyat sekitar perkebunan).
Malahan, pemerintah daerah cukup terkejut dengan aktivitas perkebunan itu, karena luas areal yang dimanfaatkan di luar prediksi.
"Sumsel hanya menargetkan produksi CPO sebesar 2 juta ton dalam lima tahun terakhir, namun pada 2012 sudah menembus 2,2 juta ton. Ini artinya perluasan lahan yang dilakukan pada 2008 bisa dikatakan diluar kendali," ujarnya.
Akan tetapi, perluasan lahan itu tidak menjadi masalah jika diimbangi dengan penambahan kapasitas tangki penampungan oleh pabrik-pabrik pembeli Tandan Buah Segar.
"Perusahaan selalu diimbau agar hasil panen petani plasma terserap dan jangan sampai kekurangan tangki penampungan dijadikan alasan.
Sejauh ini, masih relatif aman karena kejadian beberapa waktu lalu disebabkan panen raya secara serentak, sementara permintaan dari luar negeri bisa dikatakan zero," katanya. (Dolly)
