Madu sialang jadi sumber ekonomi warga Musi Banyuasin

id madu,musi banyuasin,zsl

Madu sialang jadi sumber ekonomi warga Musi Banyuasin

Petani madu sialang menunjukkan produknya didampingi Project Director Kelola Sendang ZSL Indonesia Damayanti Buchori. (ANTARA/HO/19)

Palembang (ANTARA) - Produk Madu Sialang bertahan menjadi sumber ekonomi warga Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, sejak puluhan tahun lalu karena masyarakat setempat menerapkan metode pemanenan yang ramah lingkungan.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Meranti Wana Makmur Nur Rohim di Sekayu, Rabu, mengatakan, warga desanya yakni Desa Lubuk Bitialo rata-rata mengumpulkan sekitar 2 ton madu murni per bulan.

“Kami sudah memiliki merek dagang, dan sejauh ini permintaan pasar sangat tinggi karena jenis madu murni yang sangat berkhasiat,” kata dia.

Ia menjelaskan, setelah sarang lebah diturunkan dari pohon kemudian dilakukan pemisahan antara madu dengan kotoran dengan cara ditiriskan sebanyak tiga kali.



Selanjutnya dilakukan penurunan kadar air untuk menghasilkan madu murni yang sehat dan higienis. Lalu, madu dikemas dalam botol dengan merek dagang Wana dengan berbagai varian harga dan isi.

Ia mengatakan Madu Sialang ini tergolong langka mengingat untuk mendapatkannya warga harus menerobos hutan agar mendapatkan pohon sialang yang biasanya memiliki 8-10 sarang lebah.

Untuk memanen madu ini, warga harus memanjat pohon sialang setinggi 60-80 meter yang dilakukan pada malam hari.

Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin mengatakan kegiatan ini sudah berlangsung turun temurun terutama di masyarakat Kecamatan Batanghari Leko Dawas, Kecamatan Tungkal Ulu dan Kecamatan Sungai Keruh.

Madu Sialang dari Musi Banyuasin Khususnya dari Kecamatan Batanghari Leko, Dawas dan Tungkal Ulu ini cukup terkenal bagi penikmat madu di Palembang dan Jambi.

Nurdin, petani madu, mengatakan dirinya sudah belasan tahun menekuni profesi sebagai pemanjat pohon untuk mendapatkan madu sialang ini

“Saya menelusur belantara demi Madu Sialang ini, tepatnya di kawasan hutan lindung Meranti Sungai Merah,” kata dia.

Ia mengatakan proses pemanen dilakukan dengan ramah lingkungan dengan tetap menyisakan sarang lebah sektiar 5 cm sebagai rumah bagi ratu lebah dan anak-anaknya.

"Ini terbukti pada 40 hari berikutnya, akan ada panen lagi jadi siklusnya tidak terputus," kata dia.

Project Director Kelola Sendang ZSL Indonesia Damayanti Buchori menambahkan pihaknya juga mendampingi warga dalam penirisan, pengemasan hingga pemasaran madu murni tersebut melalui progra Kelola Sendang (Kemitraan pengelolaan Lanskap Sembilang-Dangku).

Salah satu lokasi yakni di Desa Lubuk Bintialo yang termasuk dalam kawasan program Kelola Sendang, yang terdiri atas lanskap KPHP Meranti hingga batas Suaka Margasatwa Dangku.

“Sejak dahulu hutan meranti dikenal sebagai salah satu kawasan ekosistem hutan dengan kekayaan flora dan fauna tertinggi di dunia. Hingga kini lazim bagi warga di sana bertemu dengan Harimau, Gajah, Tapir, Beruang Madu, Beruk, Burung Enggang,” kata dia.