Dapiel Bayage, petugas "cleaning service" pemecah rekornas Peparnas Papua

id Peparnas, peparnas papua, pekan paralimpik nasional, paralimpik, dapiel bayage, para-atletik, paraatletik, para atletik

Dapiel Bayage, petugas "cleaning service" pemecah rekornas Peparnas Papua

Dapiel Bayage, atlet pemecah rekornas lompat tinggi Peparnas Papua (ANTARA/Zuhdiar Laeis)

Saya katakan difabel itu anugerah. Tuhan sudah memberikan di situ, ya di situ. Saya dorong optimistis bersikap, berpikir positif, dan berjuang, Tika selalu menyemangati
Jayapura (ANTARA) - Genap sehari sudah Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI Papua ditutup oleh Presiden RI Joko Widodo secara resmi dengan gempita dan kemeriahan.

Meski sudah usai, banyak cerita menarik yang masih tersisa dari pergelaran olahraga nasional bagi atlet difabel itu.

Salah satunya, sosok Dapiel Bayage, atlet para-atletik yang ramah dan murah senyum mewakili kontingen tuan rumah, Papua.

Berkali-kali, senyum mengembang tampak terlihat di wajah Dapiel kala dipanggil untuk menerima medali emas di Stadion Lukas Enembe, Jayapura.

Dapiel adalah atlet para-atletik yang telah memenangi nomor lompat tinggi T42 di Peparnas Papua.

Sebagai atlet difabel, prestasi Dapiel tak bisa diremehkan. Sudah cukup banyak medali yang dikoleksinya dari sejumlah ajang olahraga.

Bahkan, pemuda kelahiran Kampung Silakma, Distrik Gigma, Kabupaten Yahukimo, Papua, 14 Januari 1993 itu pernah mewakili Indonesia pada ASEAN Para Games 2017 di Malaysia dan berhasil membawa pulang satu medali emas.

Dapiel pun sudah mengikuti ajang Peparnas untuk yang ketiga kalinya. Pertama, pada Peparnas 2012 di Riau dengan terjun di tiga nomor, yakni lompat jauh, lempar lembing, dan tolak peluru.

Hasilnya, lempar lembing berhasil meraih medali perak, sedangkan lompat jauh harus puas dengan medali perunggu.

Pada Peparnas XV di Jawa Barat tahun 2016, Dapiel turun lagi di tiga nomor yang sama dan berhasil menggondol tiga medali.

"Lompat tinggi dapat emas, lempar lembing perak, sedangkan lompat jauh dapat medali perunggu," ujar anak dari pasangan mendiang Gise Sobolim dan Sani Mohe itu.

Perbaiki rekor

Di Peparnas Papua, atlet yang pernah bertanding pada event internasional itu dimasukkan ke dalam kelas elite dan hanya boleh mengikuti satu nomor pertandingan sesuai dengan aturan yang diberlakukan dalam Peparnas kali ini.

Dapiel pun maklum karena tujuan pemisahan kelas tersebut adalah untuk pemerataan prestasi olahraga nasional dan memberi kesempatan kepada para atlet debut di ajang empat tahunan itu.

Alhasil, bungsu dari dua bersaudara itu hanya turun di nomor lompat tinggi Peparnas Papua dan memenanginya, sekaligus memecahkan rekor nasional.

Dalam lomba tersebut Dapiel mencatatkan lompatan setinggi 1,70 meter, memperbaiki rekor sebelumnya dengan lompatan setinggi 1,65 meter yang dibukukan atas namanya sendiri di Peparnas XV di Jabar.

Menjadi atlet sebenarnya tidak pernah terpikirkan oleh Dapiel. Apalagi, sampai bisa berlaga di berbagai ajang olahraga dan menorehkan prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dapiel berkisah awal mulanya menjadi atlet dimulai pada 2010 ketika tidak sengaja bertemu seorang pelatih NPC yang memintanya berlatih untuk persiapan ajang olahraga difabel pelajar di Riau.

Ternyata, feeling pelatih tak salah memilih. Dapiel sampai sekarang telah mengantongi lima medali emas, dua perak, dan satu medali perunggu.

Selepas Peparnas Papua, Dapiel pun telah dipanggil menjalani pemusatan latihan nasional (pelatnas) untuk persiapan menghadapi ASEAN Para Games 2022 di Vietnam.

"Dipanggil untuk pelatnas (persiapan) ke ASEAN Para Games Vietnam tanggal 20 November nanti," ujar Dapiel.

Dapiel pun bertekad kembali mempersembahkan medali emas untuk Ibu Pertiwi pada pesta olahraga atlet difabel tingkat Asia Tenggara itu.

Meskipun Vietnam sudah menyatakan mengundurkan diri sebagai tuan rumah ASEAN Para Games, namun pesta olahraga dua tahunan itu masih berpeluang tetap digelar karena Indonesia kemungkinan mengajukan diri menjadi tuan rumah pengganti.

Cleaning service

Dapiel terlahir dengan kaki bagian kiri lebih pendek dari kaki kanannya atau dalam istilah kedokteran dikenal proximal focal femoral dislocation (PFFD).

Namun, kondisi tersebut tak mengurangi semangat hidupnya. Malah Dapiel sudah terbiasa hidup mandiri.

Dapiel sudah merantau sejak remaja untuk mencari kerja ke kota. Berbagai pekerjaan pernah dilakoninya, mulai jadi tukang cuci piring hingga berjualan buku teka-teki silang (TTS).

Saat ini, Dapiel bekerja sebagai petugas cleaning service di sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berkantor di Jayapura.

Pekerjaan itu sudah dijalaninya sejak 2013. Dapiel bertugas menyapu halaman, membersihkan ruangan, hingga menjaga kantor.

Dapiel pun tak malu dengan pekerjaannya, apalagi LSM tempatnya bekerja mendukung penuh prestasinya di bidang olahraga.

Sebab, Dapiel acapkali harus meninggalkan pekerjaannya dalam jangka waktu lama karena mengikuti pelatnas maupun persiapan even olahraga.

Saking sibuknya bertanding, Dapiel pun sampai harus beberapa menunda rencananya menikah. Ketika sudah mau persiapan menikah, Dapiel harus menjalani pelatnas.

Namun, Tika, sang kekasih, tetap memberikan dukungan kepada Dapiel. Tikalah yang menguatkan semangat Dapiel selama enam tahun ini.

"Saya katakan difabel itu anugerah. Tuhan sudah memberikan di situ, ya di situ. Saya dorong optimis bersikap, berpikir positif, dan berjuang," Tika selalu menyemangati.

Meski bekerja, Dapiel pun tetap menyempatkan untuk berlatih agar kemampuannya tetap terasah dan bisa mempertahankan prestasi.

Maka tak salah kalau Daniel dipercaya menjadi salah satu dari lima atlet berprestasi asal Papua yang mengarak obor api saat pembukaan Peparnas, 5 November lalu.

Itulah sepenggal kisah atlet difabel yang mampu berprestasi di tengah keterbatasan fisiknya. Dapiel mampu membuka mata bangsa dengan prestasinya dan semoga menginspirasi banyak penyandang difabel lainnya.

Menukil pesan dari dialog budaya tiga atlet pada penutupan Peparnas Papua, "Jangan hitung apa yang hilang dari dirimu, tapi gunakan yang tertinggal dari dirimu untuk meraih prestasi".
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2021