Perlu diketahui petambak, suhu dingin pengaruhi nafsu makan ikan bandeng

id Petani tambak, ikan bandeng, suhu dingin, cuaca kemarau, musim kemarau

Perlu diketahui petambak, suhu dingin pengaruhi nafsu makan ikan bandeng

Warga sedang memanen ikan bandeng di tambak (istimewa)

Sidoarjo (ANTARA) - Petani tambak yang ada di Kecamatan Sedati Sidoarjo, Jawa Timur mengatakan jika suhu dingin yang terjadi akhir-akhir ini mempengaruhi nafsu makan ikan bandeng, hingga akhirnya memperlambat proses pertumbuhannya.

Salah satu petani bandeng di Desa Buncitan, Sedati Sidoarjo, Khumaidi saat dikonfirmasi di Sidoarjo, Selasa mengatakan, suhu dingin yang terjadi beberapa pekan terakhir memang mempengaruhi nafsu makan ikan bandeng.

"Untuk mengantisipasinya, biasanya petani tambah menambahkan pupuk kandang yang disimpan di dalam karung untuk ditempatkan di beberapa titik areal tambak," katanya.

Ia mengemukakan, selain pemakaian pupuk kandang sebagai alat bantu menghangatkan kandang, pihaknya juga tetap menggunakan pelet dan juga vitamin supaya ikan bandeng yang di budi daya tetap mau makan.



"Untuk pupuk kandang, sudah dua kali dalam sebulan terakhir dimasukkan ke dalam tambak. Tetapi lebih baik dilakukan setiap pekan. Namun, itu semua tergantung suhu," ujarnya.

Ia sendiri tidak bisa berbuat banyak karena perubahan suhu pada awal pergantian musim kemarau seperti sekarang ini.

"Ini kejadian alam, kami hanya bisa mengantisipasi, salah satunya dengan cara seperti itu," katanya.

Sebelumnya, Kasi Data dan Informasi BMKG Juanda Teguh Tri Susanto di Sidoarjo mengatakan jika suhu dingin yang terjadi akhir-akhir ini dipengaruhi oleh adanya aliran massa udara dingin dan kering dari wilayah benua Australia yang dikenal dengan aliran monsun dingin Australia.



"Secara klimatologi, monsun dingin Australia aktif pada periode bulan Juni-Juni-Agustus, yang umumnya merupakan periode puncak Musim Kemarau di wilayah Indonesia selatan ekuator," katanya.

Ia menjelaskan, desakan aliran udara kering dan dingin dari Australia ini menyebabkan kondisi udara yang relatif lebih dingin, terutama pada malam hari dan dapat dirasakan lebih signifikan di wilayah dataran tinggi atau pegunungan.

"Kondisi musim kemarau dengan cuaca cerah dan atmosfer dengan tutupan awan sedikit di sekitar wilayah Jawa-Nusa Tenggara dapat memaksimalkan pancaran panas bumi ke atmosfer pada malam hari sehingga suhu permukaan bumi akan lebih rendah dan lebih dingin dari biasanya," katanya.

Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar