Adegan tersulit dalam "27 Steps of May"

id 27 Steps of May,raihaanun,film 27 steps of day,rayya makarim

Lukman Sardi (Antaranews/Maria Cicilia Galuh)

....Menulis adegan perkosaan itu susah banget karena harus ditulis dari A sampai Z walau munculnya sedikit-sedikit flashback....
Jakarta (ANTARA) - Film "27 Steps of May" mengangkat isu sensitif mengenai langkah May (Raihaanun), seorang korban kekerasan seksual yang diperkosa saat remaja, untuk bangkit dari trauma yang merundungnya bertahun-tahun.

Produser sekaligus penulis skenario Rayya Makarim mengatakan adegan perkosaan merupakan adegan tersulit baginya dalam film ini.

Meski hanya ditampilkan dalam cuplikan-cuplikan adegan kilas balik di film, ia harus menulisnya secara lengkap dari awal hingga akhir dalam proses penggarapan skenario.

Risetnya berlangsung selama dua tahun, dan ia mengulik testimoni-testimoni para korban kekerasan seksual hingga membaca teori-teori psikologi yang berkaitan.

"Menulis adegan perkosaan itu susah banget karena harus ditulis dari A sampai Z walau munculnya sedikit-sedikit flashback," kata Rayya, usai pemutaran "27 Steps of May" bersama Amnesty International Indonesia, di Jakarta, Sabtu.

Adegan tersebut beserta reka ulang saat May (Raihaanun) menunjukkannya pada pesulap (Ario Bayu), juga harus diambil secara utuh saat syuting. Prosesnya tak cuma menguras tenaga, tapi juga mental.

"Kami sempat menunda-nunda dua adegan ini," ujar dia.

Menurut sutradara Ravi Bharwani, Raihaanun menjalani sendiri rentetan adegan tersebut untuk merasakan betul hati May yang setelah kejadian tersebut menjalani hidupnya tanpa koneksi, emosi dan kata-kata.

"27 Steps of May" menggarisbawahi hubungan antara perempuan korban kekerasan seksual dan ayahnya, dan dalam film ini karakter Bapak (Lukman Sardi) juga harus menjadi ibu bagi May. Bapak selalu memasak, menyiapkan makanan, sampai membantu May menjahit.

Pada sisi lain, ia mengeluarkan rasa bersalah karena merasa gagal melindungi May lewat cara maskulin, bertinju.

Rayya mengatakan film ini lebih menyoroti hubungan anak dan ayah karena mereka ingin menonjolkan sisi visual ketimbang verbal.

"Hubungan ibu dan dan anak perempuan itu lebih verbal. Kami ingin menunjukkan yang visual, pakai rasa, tidak dibicarakan. Buat laki-laki (yang anaknya korban kekerasan seksual), pasti susah mengungkapkannya."

"27 Steps of May" pertama kali diputar di Busan International Film Festival pada Oktober tahun lalu,dan Cape Town International Film Market & Festival, Goteborg Film Festival, dan Bengaluru International Film Festival.

Film panjang ketiga Ravi itu meraih penghargaan Golden Hanoman Award untuk kategori film panjang Asia terbaik di Jogja-NETPAC Asian Film Festival.

"27 Steps of May" mengangkat pengalaman seorang perempuan untuk keluar dari trauma peristiwa pemerkosaan, juga mengisahkan perjuangan seorang ayah selama delapan tahun mendampingi anak perempuannya menemukan kembali hidupnya. Film berdurasi 112 menit itu dibintangi oleh Raihaanun, Lukman Sardi, Ario Bayu dan Verdi Solaiman.
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar