Sumsel masih kekurangan apoteker

id Apoteker,Apotek,Medis

Ilustrasi obat (FOTO ANTARA)

Palembang (ANTARA News Sumsel) - Provinsi Sumatera Selatan masih kekurangan tenaga apoteker terutama di Kota/Kabupaten yang memiliki banyak wilayah terpencil.

"Sekarang ini anggota IAI ada 1.000 lebih, jumlah tersebut baru menutupi 80% kebutuhan di Sumsel saat ini, sehingga tentu kami masih kekurangan tenaga profesional," kata ketua pengurus daerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Sumsel Baharuddin Gumay usai pembukaan Konfrensi daerah (konferda)  XI dan seminar nasional Ikatan apoteker Indonesia (IAI) sumsel 2018 di Palembang, Sabtu.

Menurutnya kendati sudah banyak jumlah lulusan apoteker di sumsel, namun belum bisa menutupi kebutuhan yang ada, oleh karena itu percepatan lulusan pendidikan apoteker menjadi perhatian penting pihaknya. 

Selain kuota apoteker, distribusi tenaga peracik obat tersebut juga menjadi perhatian utama karena di sumsel sebaran apoteker tidak merata alias terpusat di kota besar, bahkan banyak desa tidak memiliki apoteker. 

Dia menjelaskan pihaknya bersama dinas kesehatan sumsel telah bersama-sama menjalankan program pemerintah nusantara sehat dengan mengirimkan dokter, bidan, perawat, tenaga farmasi dan apoteker ke wilayah terpencil, sehingga pihaknya menargetkan tahun 2020 sebaran apoteker sudah merata. 

"Tidak semua kecamatan ada apoteker, padahal di situ ada puskesmas, maka sebaran sudah harus merata, kalau tidak demikian maka akan semakin banyak kesalahan pelayanan farmasi, terutama salah meracik obat, apalagi sekarang sudah ada farmasi online, yang mengancam keberadaan kawan-kawan apoteker di bidang farmasi konvensional," ujar Baharuddin.

Ia melanjutkan perlu peningkatan profesionalisme kerja apoteker di lapangan, untuk itulah perlu dan sering diadakan ragam pelatihan mengenai pembaharuan informasi mengenai dunia apoteker, utamanya terkait penggunaan sisi teknologi. 

Sementara Wakil Gubernur Sumsel Ishak Mekki mengakui ketidak merataan apoteker dan tenaga kesehatan lain di Sumsel terutama di wilayah pedesaan. 

"Mungkin solusi dari distribusi yang tidak merata itu, perlu diperketat lagi aturan kepada para lulusan apoteker agar mau penempatan di wilayah terpencil, paling tidak dua tahun, kalau tidak seperti ini rasanya tidak ada yang mau, dan kekosongan itu terus terjadi," jelas Ishak Mekki.

 
Pewarta :
Editor: Erwin Matondang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar