Palembang, (ANTARA News) - Pelatih senam artistik putra Indonesia, Jonathan Sianturi, meminta adanya perbaikan dalam sistem Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas), menyusul hasil cabang olahraga senam yang kurang memuaskan pada SEA Games XXVI, di Palembang, Sumatera Selatan, 12-15 November 2011.
Pernyataan Jonathan itu disampaikan di Palembang, Rabu, menyusul hasil perolehan medali cabang senam yang dinilai belum memuaskan.
Tim artistik putra dan putri Indonesia hanya membukukan satu medali emas, dua perak, dan empat perunggu, dari 14 medali emas yang diperebutkan.
Medali terbanyak dikumpulkan oleh tim senam Vietnam, dengan 11 emas, 4 perak, dan 4 perunggu.
"Sistem Pemusatan latihan nasional senam harus dibenahi, jika tidak siap-siap saja pada SEA Games berikutnya semakin terpuruk," ujar Jonathan.
Menurut dia lagi, pelaksanaan Pelatnas di Indonesia tidak lagi berlangsung secara berkesinambungan seperti pada era tahun 90-an.
Sedangkan di negara-negara lain, seperti Vietnam menerapkan Pelatnas sepanjang tahun tanpa melihat event yang akan diikuti dengan mengadaptasi pola pelatihan di berbagai negara-negara maju.
"Seperti Vietnam, atlet hanya libur dua atau tiga minggu setelah SEA Games, sedangkan Indonesia langsung mengembalikan atlet ke daerahnya masing-masing. Nanti, satu tahun menjelang SEA Games baru dikumpulkan lagi," ujar mantan atlet nasional ini pula.
Menurut dia, pola seperti itu tidak dapat lagi diterapkan jika menginginkan meraih prestasi pada ajang SEA Games.
"Jika mau bicara prestasi, maka benahi dulu sistem Pelatnas di Indonesia. Jangan setelah SEA Games langsung bubaran seperti beberapa tahun terakhir," kata peraih lima medali emas SEA Games Indonesia tahun 1997 ini.
Dia menerangkan, potensi atlet Indonesia sangat luar biasa dan dapat bersaing dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
"Ada atlet yang dapat emas, ada pula yang dapat perak dan perunggu. Artinya atlet kita masih diperhitungkan, bahkan poin yang dicetak juga tidak seberapa jauh dengan atlet Vietnam misalnya," ujar dia.
Karena itu, Jonathan mengharapkan semua pihak terkait, baik pengurus Persani sendiri hingga KONI untuk memperhatikan hasil yang dicapai pada SEA Games kali ini.
"Proses perekrutan atlet sudah baik, melalui Kejurnas dan PON. Namun, buat apa kita ramai-ramai juara di Kejurnas jika pada SEA Games tidak dapat apa-apa. Untuk itu saya menyarankan ada dua kelas dalam tim nasional, yakni tim senior dan tim junior," ujar dia.
Dia melanjutkan, untuk tim senior dibina secara terus menerus, sedangkan tim junior hanya untuk pelapis saja dan kapan saja dapat dikembalikan ke daerah masing-masing.
"Atlet yang tergabung dalam tim nasional, artinya sudah yang terbaik dan tinggal dibina saja. Jika bersungguh-sungguh, saya yakin menjadi yang terbaik di Asia Tenggara sangat mungkin diraih lagi," ujar dia.
Jonathan mengungkapkan, prestasi senam Indonesia mengalami kemunduran setelah SEA Games tahun 2001, karena tidak dilakukan pembinaan secara berkesinambungan akibat krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1998-1999.
"Karena krisis moneter, Pelatnas dihentikan dan seluruh atlet dikembalikan ke daerah masing-masing. Dan mulai saat itu terjadi kemunduran prestasi senam artistik. Memang sisa-sisa prestasi masih ada pada SEA Games tahun 2001 dengan meraih tiga emas, tapi setelahnya kita tidak mampu berbicara banyak lagi," ujarnya.
Sebagai atlet yang turut andil dalam membesarkan nama senam artistik Indonesia, Jonathan tidak mau berputus asa atas kemunduran prestasi itu.
"Itulah dinamikanya, saat Indonesia terpuruk seluruh negara Asia Tenggara justru terpacu untuk bangkit. Kini, saya rasa saatnya Indonesia untuk bangkit kembali meraih kejayaan masa lalu," ujar dia lagi.
Dia pun mengharapkan pada SEA Games XXVII tahun 2013 nanti, tim artistik Indonesia dapat meraih prestasi lebih baik.
"Hasil yang didapat pada SEA Games kali ini tidak terlalu buruk. Para atlet sudah bertanding dengan cukup baik karena ada wakil Indonesia pada setiap final alat. Poin juga tidak terlalu jauh, saat ini tinggal bagaimana usaha untuk meningkatkannya. Itulah perjuangan," ujar dia.
Ia pun mengharapkan pengurus Persani yang baru terbentuk dapat fokus pada peningkatan prestasi atlet di ajang internasional.
"Saya tahu pengurus yang ada saat ini masih baru, tapi bukan berarti mereka tidak bisa belajar. Saya harap mereka dapat membawa energi baru bagi senam artisitik Indonesia, terutama dalam membina atlet," jelasnya. (ANT/dl)