Orang Rimba mengungsi ke dalam hutan setelah bentrok dengan satpam perusahaan sawit

id Warsi, bentrokan SAD dan perusahaan

Orang Rimba mengungsi ke dalam hutan setelah bentrok dengan satpam perusahaan sawit

Gubuk atau tempat tinggal warga SAD atau orang rimba yang berada dipinggiran perkebunan sawit dirusak.(ANTARA/Ho)

Bagi Orang Rimba konflik di perkebunan dan dilanjutkan dengan penyerbuan ke pemukiman adalah hal yang sangat menakutkan, itulah yang menyebabkan mereka lari
Jambi (ANTARA) - KKI Warsi mengatakan Orang Rimba (Suku Anak Dalam) mengungsi ke dalam hutan yang lebih jauh dari tempat tinggal mereka setelah bentrok dan aksi penembakan terhadap satpam perusahaan perkebunan sawit di Kabupaten Sarolangun, Jambi.

"Warsi kini mendorong aparat kepolisian dan pihak terkait untuk bersama-sama menyelesaikan secara adat dan persuasif konflik antara warga Suku Anak Dalam (SAD) dengan pihak perusahaan perkebunan," kata Manager Program Suku-Suku Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Robert Aritonang, melalui keterangan resminya yang diterima, Selasa.

Konflik yang pecah antara Orang Rimba dan perusahaan sawit PT Primatama Kreasimas, anak perusahaan Sinar Mas Agro Resources and Technology (Smart) telah menyebabkan Orang Rimba mengungsi dari pemukiman mereka.

Kini ada tercatat sebanyak 96 keluarga dengan 324 jiwa Orang Rimba yang tidak lagi ada di pemukiman mereka di Selentik, Desa Lubuk Jering, Ujung Doho, Desa Pematang Kabau; dan Singosari, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi.

Kepergian Orang Rimba terjadi setelah adanya penyerangan ke pemukiman Orang Rimba yang menumpang di dalam kebun sawit warga Desa Lubuk Jering. Penyerangan yang dilakukan menurut informasi di lapangan dilakukan oleh karyawan perusahaan sebanyak dua truk.

Para karyawan ini merusak sudung dan membakar motor Orang Rimba. Di Pemukiman Madani Desa Lubuk Jering juga tidak lepas dari aksi kekerasan. Di pemukiman yang sudah kosong itu, ada dua sepeda motor yang dibakar karyawan perusahaan. Total ada 5 unit sepeda motor yang terbakar dari dua lokasi ini.

Menyikapi kejadian ini, Komunitas Konservasi Indonesia Warsi turut berperan untuk mengurai konflik dan mencari penyelesaian persoalan secara adil dan memberikan rasa aman untuk semua pihak. Setelah kejadian tersebut Warsi masih berupaya untuk menemui kelompok-kelompok yang terpencar-pencar menyelamatkan diri.

"Bagi Orang Rimba konflik di perkebunan dan dilanjutkan dengan penyerbuan ke pemukiman adalah hal yang sangat menakutkan, itulah yang menyebabkan mereka lari," kata Robert Aritonang.

Menurutnya penting untuk memastikan keberadaan Orang Rimba yang lari ini. Karena dilihat dengan waktu kejadian dan melarikan ini, sudah bisa dipastikan Orang Rimba tidak akan memiliki bahan pangan yang cukup. Dalam diskusi dengan para pihak terkait ini, Polda Jambi melalui KKI Warsi sudah menyalurkan 90 paket sembako untuk Orang Rimba yang sedang mengungsi.

Bantuan ini sangat penting untuk mengatasi masalah remayao, masa dimana tidak tersedia bahan pangan untuk konsumsi harian. Ini diperlukan untuk mencegah masalah ikutan dari konflik ini.

"Kami saat ini menyusul kelompok ini satu persatu, sembari mengantarkan ke mereka bahan pangan dari Polda untuk membantu mereka bertahan hidup di masa yang pastinya akan sulit untuk mencari bahan pangan,” kata Robert lagi.

Dari penelusuran Warsi ke kelompok-kelompok ini, ditemukan kondisi mereka yang mengungsi tidak dalam kondisi yang baik. Meladang, yang lari jauh dari pemukiman awalnya, saat ini sedang sakit demam dan batuk. Anggota kelompok Meladang juga terpencar berjauhan.

Hal demikian dengan Kelompok MelayauTuha yang juga kondisinya masih dalam situasi ketakutan dan belum mau untuk kembali ke pemukiman Madani di Lubuk Jering. Kondisi serupa juga dialami oleh kelompok lain, Kondisi kelompok lain juga tidak lebih baik dan sebagian besar terutama perempuan dan anak-anak berada dalam kondisi trauma berat dan ketakutan.