Peneliti: Restorasi gambut melalui pendekatan revegetasi

id lahan gambut,berita sumsel,berita palembang,pulai rawa, jelutung, bintangur, ramin,Nurmawati Siregar

Lahan Gambut (Ist)

Palembang (ANTARA News Sumsel) - Peneliti dari Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan Bogor, Nurmawati Siregar mengatakan kegiatan pemulihan atau restorasi lahan gambut di wilayah Sumatera Selatan dan provinsi lainnya bisa dilakukan dengan pendekatan revegetasi.

"Pendekatan revegetasi merupakan upaya pemulihan tutupan lahan pada ekosistem gambut melalui penanaman jenis tanaman asli pada fungsi lindung jenis tanaman asli ekosistem gambut," kata Nurmawati Siregar dalam Seminar Nasional Merawat Asa Restorasi Gambut, Pencegahan Kebakaran dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat yang digelar Badan Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumsel di Palembang, Rabu.

Dia menjelaskan, salah satu faktor yang menentukan keberhasilan revegetasi adalah keberadaan bibit berkualitas untuk penanaman pada lahan gambut.

Pengadaan bibit secara vegetatif setek di lahan gambut terkendala oleh terbatasnya persediaan tanah untuk media pembibitan terutama jika pengadaan bibit dilakukan dalam skala besar.

Untuk mengatasi kendala tersebut, perlu media alternatif untuk pembibitan atau perakaran setek salah satu caranya adalah memanfaatkan media air (water rooting system).

Peluang pengadaan bibit berkualitas jenis hutan rawa gambut dilakukan dengan teknik "water rooting" yakni merupakan teknik sederhana dengan beberapa kelebihan seperti kontrol dapat dilakukan setiap saat tanpa mengganggu proses perakaran yang sedang berlangsung sehingga pengambilan setek yang belum berakar dapat dikembalikan pada tempat semula agar dapat berakar.

"Kelebihan lain teknik water rooting adalah hemat dalam penggunaan air, tidak perlu penyiraman dan penyiangan gulma," katanya.

Menurut dia, tidak semua jenis tanaman hutan dapat diperbanyak dengan menggunakan teknik water rooting system.

Jenis tanaman hutan dapat diperbanyak dengan menggunakan teknik tersebut yakni pulai rawa, jelutung, bintangur, ramin, dan tembesu, kata Wati.

Sementara peneliti dari Universitas Bangka Belitung, Nyayu Siti Khodijah pada kesempatan itu mengatakan dalam kegiatan restorasi lahan gambut, juga bisa dikembangkan penanaman rumput kumpai.

Rumput kumpai (hymenachne sp) adalah hijauan yang biasa dijumpai di lahan basah rawa Sumatera dan Kalimantan dan sudah dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai pakan ternak terutama kerbau.

"Rumput kumpai memiliki nilai biologis cukup baik, daya tumbuh sangat kuat, mampu bertahan di kondisi lahan yang sangat miskin hara dan air," ujarnya.
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar