Perang Ukraina-Rusia bisa berakhir sebelumakhir tahun depan

id Konflik Rusia Ukraina,Vladimir Putin,Joe Biden,Volodymyr Zelenskyy,berita sumsel, berita palembang

Perang Ukraina-Rusia bisa berakhir sebelumakhir tahun depan

Foto arsip - Operasi antiteror Ukraina di bagian timur negeri itu menghadapi kaum separatis pada 27 Oktober 2015. (Kementerian Pertahanan Ukraina via Wikimedia Commons)

Gejala itu sudah terbukti di lapangan ketika pemimpin tentara bayaran Wagner Group, Yevgeny Prigozhin melancarkan pemberontakan pada 23 Juni yang walau membidik Menteri Pertahanan Sergei Shoigu dan Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Valery Gerasimov, tetap saja menampar pemerintahan Putin.

Apalagi Prigozhin mendapatkan simpati dari sejumlah elite militer Rusia dan kaum nasionalis yang selama ini menjadi penganjur utama invasi Rusia di Ukraina.

Prigozhin juga bukan orang terakhir di dalam lingkaran kekuasaan Putin yang mengkritik rezim Putin, khususnya dalam hubungan dengan manajemen perang di Ukraina.

Masih ada beberapa orang yang mengeluhkan hal yang juga dikeluhkan Prigozhin. Salah satunya Mayor Jendral Ivan Popov, panglima divisi ke-58 angkatan darat Rusia.

Walaupun Popov hanya menyampaikan keluhannya dalam forum internal di depan pasukannya, namun karena bocor ke publik, sang jenderal dicopot oleh hirarki militer Rusia.

Di antara para pendukung perang yang berbalik mengkritik rezim Putin adalah Igor Gorkin yang paling berani, sampai pemerintah pun menahan dan mengadilinya dengan dakwaan memicu ekstremisme.

Blogger yang juga tokoh nasionalis pro perang Ukraina dan mantan perwira dinas intelijen Rusia (FSB) itu memang kerap mengkritik strategi perang Shoigu dan Gerasimov.

Namun belakangan, panglima pasukan proksi Rusia di Ukraina timur pada 2014 yang didakwa pengadilan Belanda karena bertanggung jawab atas penembakan jatuh pesawat Malaysia Airlines MH17 itu berubah dari semula hanya mengkritik "orang-orang Putin", menjadi mengkritik langsung Putin.


Jalan buntu

Orang-orang seperti Prigozhin, Popov, dan Gorkin tidak menentang perang Ukraina. Sebaliknya, mereka penganjur dan pendukung perang di Ukraina.

Namun kini mereka berbalik mengkritik pemerintahan Putin, dan bahkan berani mengungkit alasan Rusia berperang di Ukraina.

Sebelum menggerakkan pasukan tentara bayaran Wagner Group dalam "Parade Keadilan" yang lalu disebut pemberontakan 23 Juni, dalam pesan video berdurasi 30 menit via aplikasi Telegram, Prigozhin menyebut perang di Ukraina didasari oleh kebohongan karena baik Ukraina maupun NATO sebenarnya tidak mengancam Rusia.

Prigozhin menuding perang ini didasari oleh keserakahan dan korupsi oleh segelintir elite dan oligarki yang mengitari Putin.

Di atas itu semua, peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan pihak-pihak yang saling berlawanan di Ukraina sudah tidak sabar lagi ingin segera menyaksikan kemenangan atas musuhnya.

Biden tidak menginginkan perang ini terlalu lama karena bisa mengakhiri nasibnya dalam Pemilu 2024.

Putin juga tak menginginkan perang yang berlarut-larut karena dapat mengekspos kerentanan kekuasaannya dan bisa mengungkapkan apa yang selama ini ditutupi dari realitas perang di Ukraina, termasuk jumlah tentara yang tewas dan skala kerugian akibat alat-alat perang yang rusak atau dikuasai musuh.

Putin mungkin tak gentar menghadapi Barat dan sanksi-sanksinya. Tetapi, dia mungkin lebih mengkhawatirkan keadaan di mana rakyat Rusia tak lagi mendukung dia.

Jika itu terjadi, bukan saja rakyat menuntut pasukan Rusia ditarik dari Ukraina, tapi juga mereka bisa menggugat kompetensi Putin dalam memimpin Rusia.

Perkembangan-perkembangan terakhir ini bisa membuat perang Ukraina-Rusia memasuki fase akhir, yang mungkin saja terjadi sebelum akhir 2024 ketika kekhawatiran-kekhawatiran politik di AS, Ukraina, dan Rusia semakin besar.

Mungkin perang ini berakhir dengan kemenangan militer paripurna dari salah satu pihak, tetapi bisa jadi berakhir karena perjanjian damai yang dipaksa hadir karena jalan buntu akibat tidak ada lagi yang mencapai kemajuan di medan perang.