Dag-Dig-Dug ke Enggano

id enggano,pulau enggano,bbm,bbm satu harga,pertamina,pt pertamina,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara sumsel hari i

Dag-Dig-Dug ke Enggano

Kendaraan tangki BBM ke luar dari KMP Pulo Telo setelah kapal bersandar di Pelabuhan Desa Malakoni di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, Minggu (23/8). (ANTARA/HO/20)

Biasanya mereka teriakkan saya, ‘bos minyak’ datang
Palembang (ANTARA) - Berada di kapal yang sedang mengarungi lautan bebas Samudra Hindia seraya membawa bahan bakar minyak, bukan kepalang membuat perasaan dag-dig-dug.

Maklum saja, bila Tuhan berkendak lain, bukan hanya nyawa yang melayang tapi bisa saja kapal pengangkut BBM ke Pulau Enggano ini malah terdampar di India.

Skenario terburuk itulah yang tak ayal membuat pengiriman BBM ke Enggano, pulau terluar sebelah selatan Indonesia itu bisa dikatakan menjadi yang terberat di Tanah Air.

Namun itulah panggilan hidup yang harus dijalani oleh segelintir orang, seperti Heru Santoso (44), Site Superviser Area PT Patra Niaga Wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).

Pagi itu, Heru harus memastikan kesiapan semua hal, mulai dari logistik, personel, sarana dan prasarana hingga surat menyurat untuk melancarkan pendistribusikan BBM ke Pulau Enggano, pulau yang berada di wilayah pemerintahan Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.

Walau sudah menjalani tugas tersebut sejak 2017, tapi keberangkatan ke Pulau Enggano tetap saja mendebarkan bagi ayah tiga anak ini karena cuaca ekstrem khas lautan bebas Samudra Hindia yang serba misterius.

Untuk menuju pulau yang berjarak 94 mil laut (174 Km) dari Pulau Baai, Provinsi Bengkulu itu setidaknya kapal membutuhkan waktu tempuh 8-12 jam saat kondisi cuaca normal. Namun, saat cuaca buruk bisa melebihi 18 jam. Bahkan, celakanya lagi, kapal dapat berbalik arah kembali ke pelabuhan di Pulau Baai gara-gara adanya ombak setinggi hampir enam meter.

Lantaran ganasnya medan yang bakal dilalui itu, Heru tak mau sedikitpun luput dalam menyiapkan timnya. Setiap hal diperiksa secara detail oleh pria berusia 44 tahun ini. Malah, satu hingga dua hari sebelum hari H, sudah cukup menguras tenaga dan pikirannya.

Pekerjaan dimulai saat surat perintah dari Pertamina untuk mendistribusikan BBM ke Enggano diterima oleh Patra Niaga. Sejak saat itulah Heru mulai berjibaku, salah satunya menghubungi pihak Angkutan Sungai dan Penyeberangan (ASDP) untuk menyewa kapal penumpang.

Pengiriman BBM ke pulau yang memiliki luas 40.260 Hektare itu hingga kini masih menggunakan kapal penumpang karena belum memungkinkan untuk memakai kapal tangker. Meski memanfaatkan kapal penumpang tapi tak satu pun penumpang komersil yang boleh ikut menyeberang. Ini demi keselamatan karena bahan yang diangkut tergolong berbahaya, alias rawan meledak.

Setelah mendapatkan kepastian dari ASDP, Heru kemudian memerintahkan dilakukan pengisian unit mobil tangki di Depot BBM Pulau Baai sesuai dengan jumlah pasokan BBM yang diinstruksikan Pertamina.

Ia juga memastikan kesiapan personel yang bakal ikut serta dalam pengiriman BBM seperti awak kendaraan tangki, pewakilan dari beragam instansi yang pada umumnya mengirimkan dua orang personel yakni Pertamina, Kepolisian, KSOP dan PLN. Dirinya juga memeriksa kesiagaan kru kapal yang terdiri atas nahkoda dan sedikitnya 20 ABK.

 
Heru (tiga dari kiri) bersama tim pendistribusian BBM ke Pulau Enggano. (ANTARA/HO/20)


Namun kesiapan yang sudah 100 persen itu bisa saja kembali ke titik nol, jika syahbandar tidak memberikan izin untuk melaut terkait cuaca buruk. Jika itu terjadi, Heru hanya bisa menghela napas. Apa daya, walau semangat personel sudah memuncak, faktor keselamatan tetap menjadi persyaratan utama.

“Ini masih mending, belum berangkat dari pelabuhan. Pernah kami putar balik padahal sudah empat jam di laut karena dapat kabar ada badai,” kata Heru yang diwawancarai di Palembang, Rabu (14/10).

Begitulah yang terjadi jika ingin berlayar di Samudra Hindia. Cuaca cerah di pagi hari seketika bisa berubah menjadi hujan lebat dalam hitungan menit.

Karena pelayaran dibatalkan, Heru dan kawan-kawan harus mencoba lagi pada keesokan harinya demi mengirimkan 60 KL BBM yang menjadi kuota bulanan bagi 3.738 jiwa penduduk Enggano.

Selama ini, keberangkatan ke Enggano selalu dilakukan di pagi hari agar tiba pada malam hari di Pelabuhan Kahyapu. Namun, sejak pelabuhan itu rusak ditabrak kapal pada Agustus 2019, KMP Pulo Tello yang mengangkut BBM harus berangkat pada sore hari agar bisa bersadar di pelabuhan perintis Desa Malakoni sekitar pukul 03.00 WIB. Ini sangat penting karena puncak surut air laut di dermaga itu terjadi pukul 06.00 WIB. Bila melewati waktu itu, maka bongkar muat kapal tangki dipastikan gagal dilakukan.

Selain adanya tekanan soal waktu tempuh, pengiriman BBM ke Pulau Enggano juga dihadapkan cuaca tak menentu selama pelayaran. Tinggi ombak yang rata-rata 4,5 meter, hujan lebat disertai petir hingga pemandangan badai dari kejauhan merupakan tantangan yang harus dihadapi selama perjalanan.

Sehingga tak mengherankan, bagi personel yang kali pertama mengemban tugas pengiriman BBM ke Enggano akan digelayuti perasaan takut bukan kepalang. Selain dipastikan mabuk laut, biasanya tak ada yang bisa dilakukan kecuali berdoa dan tak jauh-jauh dari ban pelampung saat melihat ombak setinggi pohon kelapa.

“Semua berkecamuk di pikiran, terkadang kontan langsung terbayang wajah anak, saya pun walau sudah sering masih juga deg-deg an,” kata Heru.

Pengiriman BBM ke Enggano pada September hingga November menjadi periode tersulit sepanjang tahun. Ombak rata-rata mencapai 4,5 meter-6 meter dengan kecepatan angin 40 knot/jam. Oleh karena itu, pada Agustus 2020, Pertamina mengintruksikan Patra Niaga mengirimkan kuota BBM untuk tiga bulan sekaligus yakni 90 KL.

Budi Winaryo, nahkoda KMP Pulo Tello yang ditugaskan mengemudikan kapal pada pengiriman BBM ke Enggano pada 22 Agustus 2020, sejatinya juga dihinggapi perasaan bimbang. Ini karena kapal yang digunakan merupakan jenis kapal fery yang sebenarnya bukan didesain untuk mengangkut BBM.

Rasa takut terbesarnya yakni adanya percikan api akibat kendaraan tangki bersenggolan. Kala itu, KMP Pulo Tello membawa 8 unit mobil tangki, untuk mendistribusikan Premium 60 KL dan Solar 10 KL. Walau ban kendaraan sudah diikat supaya tidak bergerak di geladak kapal, tapi kemungkinan terlepas tetap ada mengingat ombak di Samudra Hindia bisa lebih dari empat meter saat cuaca tak bersahabat.

“Saya selalu standbye di ruang kemudi selama 12 jam lebih. Saya selalu lihat CCTV (kamera pengawas), terutama lihat mobil tangki,” kata Budi yang merupakan alumni Akademi Pelayaran Semarang ini.

Melaut di Samudra Hindia memang memberikan tantangan luar biasa karena cuaca serba tak menentu, diikuti tinggi ombak dan kecepatan angin yang tergolong ekstrem. Apalagi, daerah ini juga dikenal rawan gempa yang berpusat di tengah laut.

Kepiawaian Budi dalam menahkodai kapal demikian diuji dalam pelayaran ke pulau yang pernah menjadi pangkalan militer Jepang pada masa Perang Dunia ke II ini. Walau sudah berpengalaman berlayar ke Taiwan, Fhilipina dan Thailand karena sempat bekerja dalam pengiriman pupuk, tetap saja lautan bebas menuju Enggano ini paling mencemaskan.

 
Nahkoda kapal KMP Pulo Tello Budi Winaryo (paling kanan) berada di ruang kemudi pada pelayaran menuju Pulau Enggano. (ANTARA/HO/20)


Oleh karena itu, ia enggan mengambil risiko tetap melaju jika ombak sudah mendekati enam meter. Tentunya, keputusan berbalik arah akan menjadi pilihan. Namun, Budi bersyukur karena dalam dua kali menyeberangkan kapal membawa BBM ke Enggano yakni pada 15 Agustus 2020 dan 22 Agustus 2020, selalu sesuai perencanaan dengan waktu tempuh 12 jam.

“Saya bersyukur bisa berperan dalam membantu warga di Enggano. Walau pekerjaan ini berat, tapi inilah panggilan hidup, takdir dari Ilahi yang harus dijalani,” kata Budi ketika dihubungi baru saja berlabuh Pulau Baai, Bengkulu, setelah berlayar ke Enggano, Sabtu (17/10).

Setelah melewati rintangan di lautan, tantangan pengiriman BBM ke Enggano sejatinya belum berakhir. Jalur darat yang akan dilalui kendaraan tangki BBM berkapasitas 10 KL menuju SPBU Kompak juga tak kalah berat.

Walau hanya berjarak sekitar 5 Km dari pelabuhan perintis, tapi kendaraan tangki BBM itu harus melintasi jalan berlubang dan berlumpur demi menggapai SPBU. Tak hanya itu, mobil tangki ini juga harus melalui jembatan kayu yang sudah reyot di Desa Malakoni. Demi mencapai tujuan, personel dan warga setempat bergotong royong menambahkan kayu penyangga. Namun tetap saja, saat kritis terpampang jelas di depan mata ketika kendaraan dipandu satu persatu untuk lolos dari marabahaya.

Namun, perasaan menegangkan dan mencemaskan itu seakan terbayar lunas saat Heru dan tim tiba di SPBU Kompak, yang dikelola oleh koperasi. “Biasanya mereka teriakkan saya, ‘bos minyak’ datang,” kata Heru sambil tertawa.

Senyuman warga Enggano karena girang memperoleh BBM langsung menjadi penghilang rasa lelahnya, malahan warga sampai menyalaminya sebagai ungkapan rasa terima kasih.

Lalu di SPBU Kompak itu, BBM langsung dimasukkan ke dalam beberapa drum berkapasitas 5 KL yang dijadikan storage, demi menjaga stok warga yang tersebar di enam desa hingga beberapa pekan ke depan.

Kelegaan pun terasa tak kala menyaksikan warga Enggano dapat membeli BBM di SPBU itu. Tak sedikitpun tersebesit penyesalan atas beban pekerjaan itu. Malah ucapan rasa syukur kepada Tuhan karena mampu melewati beragam kesulitan.

 
Warga membantu perbaikan jembatan agar kendaraan tangki BBM bisa melintas. (ANTARA/HO/20)


Beruntung bagi Heru, dianugerahi Tuhan karakter yang unik yakni sangat menyukai tantangan sejak belia. Tak heran jika ia dijuluki rekan-rekannya sebagai pegawai spesialis daerah perintis, karena beberapa kali ditugaskan untuk pengiriman BBM di daerah yang sulit dijangkau. Salah satunya pernah ditugaskan untuk mendistribusikan BBM ke Kabupaten Ende di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, yang mana menjadi jalur pengiriman terekstrem untuk darat karena jalan yang dilalui banyak liku dan jurang.

Namun, dari semua pengalaman itu, tugas ke Enggano terbilang paling berkesan. Pernah suatu ketika ia tertahan selama sepekan di pulau itu karena cuaca buruk. “Sampai-sampai saya main layang-layang dengan anak-anak di Enggano, karena tidak tahu harus ngapain lagi,” kata dia.

Air mata sempat mengalir karena rasa rindu yang menyerang ingin bertemu buah hati yang masih kecil di Bandung, terutama kepada si bungsu yang berusia dua tahun.

Namun dibalik kisah pilu itu, Heru merasa mendapatkan anugerah dari Sang Pencipta karena dapat mengenal Pulau Enggano, yang menurutnya pojok surga di dunia. Ada Danau Mblau, danau yang airnya biru dan bersih, yang selalu disinggahi setiap ke Enggano.

Krisis BBM

Saat ini BBM menjadi kebutuhan penting di Enggano. Warga setempat memanfaatkannya untuk bahan bakar kendaraan pribadi, mobil angkutan hasil perkebunan dan pertanian, kapal nelayan, hingga satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

Kendati sejak dua tahun lalu Pertamina berupaya memastikan ketersediaan stok BBM di pulau terluar ini, tapi bukan berarti warga setempat luput dari bayang-bayang krisis energi.

Pada Agustus 2019, terjadi kelangkaan BBM di Pulau Enggano karena kerusakan Pelabuhan Kahyapu. Hampir dua bulan warga setempat kesulitan mendapatkan BBM sebab dermaga perintis di Desa Malakoni juga belum memadai untuk disandari kapal fery. Barulah setelah dermaga perintis dilengkapi sarana dan prasarana pemecah ombak, Pertamina dapat mengirimkan BBM. Itu pun disiasati melalui jalur Teluk Kabung, Sumatera Barat, yakni menyalurkan sebanyak 110 KL.

Salah seorang tokoh pemuda Pulau Enggano asal Dusun Bunga, Desa Apoho, Edward Haryadi Ka'ahoao mengatakan dirinya tak menyangkal kehadiran SPBU BBM Satu Harga sejak 2017 telah memudahkan masyarakat dalam beraktivitas, terutama dalam menunjang kegiatan ekonomi.

Tak heran, BBM kini menjadi kebutuhan utama bagi warga Enggano yang hidup berjarak 156 Km dari Bengkulu, ibu kota Provinsi Bengkulu.

Pulau Enggano sejak lama dikenal sebagai daerah penghasil pisang yang produknya dikirim ke Bengkulu, Lampung, Palembang dan Jakarta. Terdapat setidaknya 10.000 batang pisang yang siap panen setiap tiga bulan. Selama ini, kendaraan angkutan hasil pertanian disuplai BBM dari kapal-kapal nelayan yang sandar di Enggano yang harganya mahal dan jumlahnya terbatas.

Oleh karena itu, hadirnya SPBU BBM Satu Harga sejak 2017 sangat disyukuri warga setempat, apalagi diiringi pula dengan beroperasinya satu unit PLTD berkapasitas 2x500 Kilowatt di Desa Malakoni. Walau listrik tidak menyala sepanjang hari karena rata-rata hanya 12 jam saja, tapi bagi warga Enggano ini sudah kemajuan luar biasa untuk daerah yang sejak lama tertinggal.

Kendati demikian, warga Enggano tetap berharap daerah yang sempat menjadi bidikan LAPAN untuk menjadi stasiun peluncuran satelit ini semakin maju lagi di masa datang meski menyandang predikat pulau terdepan Indonesia.

Wajar saja, saat krisis BBM terjadi, kehidupan masyarakat setempat bisa dikatakan lumpuh. Kembali lagi ke masa-masa silam. Anak-anak tidak bisa bersekolah, nelayan tidak bisa melaut, dan petani tidak dapat mengangkut hasil panen ke pelabuhan.

Pada puncak krisis akhir tahun 2019 lalu, warga rela urunan mengumpulkan liter BBM dari kendaraan pribadi dan instansi pemerintah demi mengantar anak-anak ke sekolah yang jaraknya puluhan kilometer. Tak hanya itu, pemilik kebun pisang terpaksa merugi karena hasil panennya cuma jadi gundukan sampah belaka.

Kelangkaan BBM ini demikian memberatkan, sehingga warga berharap pengirimannya dapat rutin dilakukan. Jika pun ada cuaca buruk, setidaknya Pertamina sudah menyediakan stok di Enggano untuk mengantisipasinya.

“Kami sangat berterima kasih sekali adanya SPBU BBM Satu Harga ini karena Enggano selama ini sungguh tertinggal dari pembangunan. Tapi tak salah kiranya kami berharap juga dibuatkan sekalian tangki timbunnya agar ada stok saat cuaca buruk,” harap Edward.

 
Mobil tangki BBM tiba di SPBU Pulau Enggano. (Antarabengkulu.com)


General Manager Pertamina MOR II Sumbagsel Asep Wicaksono Hadi mengatakan perusahaannya yang mengemban tugas dari pemerintah dalam menjalankan program BBM Satu Harga ini merasa sangat bersukacita karena upaya yang dilakukan ini telah menyentuh langsung kehidupan warga Enggano.

Penyaluran BBM Satu Harga di Pulau Enggano tak disangkal memang tidak mudah tapi inilah wujud komitmen Pertamina untuk turut serta memajukan perekonomian masyarakat melalui penyediaan energi. Penyediaan BBM ini dijalankan dengan prinsip ketersediaan, kemudahan akses, keterjangkauan, penerimaan serta berkelanjutan.

Dalam menjalankan tugas negara ini, Pertamina menggandeng lembaga penyalur resmi di wilayah terpencil untuk menyediakan Premium dan Solar sesuai harga yang diatur oleh pemerintah atau sama dengan yang dinikmati oleh masyarakat di kota besar.

“Dalam hal ini, Pertamina tidak hanya mempertimbangkan aspek keuntungan semata tapi bagaimana menyediakan BBM dengan harga terjangkau untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat Enggano,” kata dia.

Enggano, merupakan salah satu pulau terluar, terdepan dan tertinggal di Indonesia. Tak mudah untuk menggapainya, apalagi untuk memenuhi segala kebutuhannya. Jika tak ada rasa cinta dan ikhlas maka sejatinya Enggano tetap menjadi wilayah terasing yang tak tersentuh pembangunan. Jangankan BBM Satu Harga, tak ada satu pun yang tahu bahwa Enggano merupakan sebuah pulau bersejarah yang layak menjadi perhatian dunia.

 

Pengiriman BBM ke Pulau Enggano

 

PT Pertamina (Persero) melakukan pengiriman BBM ke Pulau Enggano dari Pulau Baai (Bengkulu) pada Sabtu malam (22/8), dengan menggunakan KMP Pulo Tello untuk mengangkut delapan unit mobil tangki yang membawa 60 KL (Kilo liter) Premium dan 10 KL Solar. Pada Minggu pagi (23/8), kapal tiba di Pelabuhan Malakoni, kemudian langsung menuju ke lokasi penyalur BBM satu harga yang dikelola oleh Koperasi Serba Usaha Sejahtera untuk bongkar muat. (ANTARA/HO-Pertamina/20)
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar